Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Konten Kreator yang Bikin Challenge Jadi Monyet, Nggak Pantas Disamakan dengan Monyet!

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
29 Juli 2021
A A
Konten Kreator dan Seekor Monyet terminal mojok.co

Konten Kreator dan Seekor Monyet terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Tentu saja saya mengamini bahwa menjadi konten kreator itu adalah pekerjaan yang berat, kadang juga tragis. Di satu sisi mereka bergelut dengan kreativitas, sisi lainnya mereka juga bertautan dengan moralitas. Tentu saja, hal yang bertali dengan moral, itu sulit. Pilihannya, menjadi konten kreator yang baik atau konten kreator yang bikin konten challenge menjadi monyet selama 10 detik dengan kompensasi 300 ribu.

Iya—saya ulang—pilihannya hanya dua: jadi konten kreator cerdas atau konten kreator challenge yang nggak bermoral. Blio nggak goblok kok, lha wong bisa dikatakan goblok saja belum.

Si konten kreator ini memakai kertas bertuliskan, “Orang pertama yang bisa peragain monyet selama 10 detik dapet 300 ribu.” Ada? Tentu saja. Bahkan orang itu menerima tantangan selanjutnya, yakni jadi kambing.

Ini bukan perihal narasi jumlah uang, bukan pula “korban” sudi-sudi saja, tetapi ini perihal bagaimana manusia menggathukkan impuls-impuls otak yang diberkahi oleh Tuhan. Bahkan, jauh sebelum itu, Mbah Descartes pernah nembung, aku berpikir maka aku ada. Tampaknya, bagi oknum konten kreator, narasi itu dipelintir menjadi aku pekok maka jadi cuan.

Komentar di TikTok tentu saja bergerak dengan liar. Katanya, orang di dalam konten ini rela gadaikan harga diri hanya untuk 300 ribu. Buos, 300 ribu itu bukan “hanya”. Di zaman di mana dana bansos di makan oleh Juliary Batubara, 300 ribu tentu saja amat bermakna. Tapi, bukan ini masalah utamanya.

Si oknum ini disamakan perilakunya nggak jauh beda dengan seekor monyet. Hewan yang dijadikan dalih dalam konten challenge-nya. Jelas, sebagai sesama Homo Sapiens, tentu saja hati saya mencelus. Maka, dalam tulisan ini, saya akan woro-woro bahwa si oknum konten kreator ini sama sekali nggak pantas disamakan dengan monyet, apa pun alasannya. Apa pun jenis monyetnya. Kenapa? Begini.

Pertama, beda perilaku antara monyet dan oknum konten kreator tersebut.

Kolom komentar banyak yang berkata, “Kalau ngasih mah ngasih aja, don’t play play bosquuu.” Tentu komentar ini dibalas oleh empunya konten. Si oknum itu berkata, “Take note, ini video challenge, bukan berbagi, bukan maksa.”

Baca Juga:

5 Alur Cerita Drama China Pendek di TikTok yang Monoton, tapi Sering Bikin Jam Tidur Saya Berantakan

Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

Itulah perilaku manusia. Seakan mengamini apa yang dikatakan oleh Hobbes dalam De Vice bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya. Jangankan berbuat jahat, menyuruh jadi monyet pun ia segan. Maka, bagaimana perilaku seekor monyet? Saya punya penjelasan yang—sepertinya—menarik.

Frans de Waal dalam tulisannya yang berjudul “Rasa Keadilan Monyet” berkata bahwa monyet memiliki rasa-perasa. Bagaimana monyet satu dengan yang lain harus berperilaku atau jangan berperilaku pada egosentris. Mereka mengutamakan kawanan di saat terjepit ataupun saat senang.

Monyet berbagi demi kawanan mereka, sedang oknum konten kreator ini berbagi (atau challenge, ya, kata blio?) demi konten. Maka, dari statemen jawaban si oknum di kolom komentar dan bagaimana tindak-tanduk monyet ketika berbagi kepada sesama: tentu saja oknum konten kreator dan Monyet itu berbeda.

Kedua, sopan santun kepada “sesamanya”.

Seekor monyet kapusin, dalam video yang diambil oleh Gwen Bragg, mengembalikan barang-barang milik peneliti dengan menggunakan tangan kanan, sedang tangan kiri mengelus si peneliti tersebut. Tentu saja ini dalam studi perihal Pertukaran.

“Ini mah si oknum lebih monyet ketimbang monyet itu sendiri!” Hah? Tunggu dulu, si oknum berbagi 300 ribu, meng-challenge-kan orang lain untuk berperilaku menjadi monyet selama 10 detik terlebih dahulu. Sedangkan seekor monyet kapusin, monyet yang ukuran rata-rata lebih kecil dari monyet pada umumnya, lebih paham sopan santun dalam hal berbagi.

Apakah sopan santun si oknum itu bisa disamakan dengan “sopan santun” seekor monyet—bahkan jenis monyet kapusin—sekalipun. Lagi-lagi, oknum konten kreator dan Monyet itu berbeda.

Ketiga, nalar, ratio, atau apa pun itu, dibanding seekor monyet yang lebih ke insting

Bacalah komentar di kolom konten tersebut, maka hatimu bakal nyut-nyutan. Si oknum bilang bahwa “Karena memang gua mau challenge, mau ada fun dan serunya.” Lantas ia kembali berkomentar, “Banyak yang marah yah. Sedangkan disuruh joget cuci-cuci jemur-jemur 5 jam di TV, dibayar 50rb + nasi bungkus, gaada yang complain. NICE!”

Ada yang membalas dan bikin saya ngakak kepingkel. Begini, “Ada acara TV yang buruk kok malah lu tiru, Bang?”……..

Sedang nalar seekor monyet adalah fokus kepada kawanan. Pola penalaran ini dirasa lebih rapi di mana mereka nggak melihat tingkah polah kawanan hewan lain dan mengadopsi nilai-nilai buruk tersebut—terlepas hewan melekat sistem nilai atau nggak lho, yha.

Nggak ada kan monyet di National Geographic yang curhat kepada reporternya, “Banyak yang marah yah saya makan primata lain? Sedangkan singa makan kijang gaada yang complain. NICE!”

Lalu ada yang berkomentar, “Ada nalar hewan lain yang buruk kok malah lu tiru, Bang?”

Nalar monyet 1-0 oknum konten kreator. Maka, oknum konten kreator dan Monyet itu berbeda.

Keempat, cara menyikapi bencana.

Lantaran habitatnya menipis, banyak monyet yang turun ke pemukiman warga. Hal ini karena pembalakan liar yang sering terjadi di hutan hujan Indonesia. Menyikapi bencana, monyet-monyet ini kerja sama mempertahankan eksistensi kelompok dan koloninya.

Monyet saling bantu dan bekerja sama hadapi bencana, sedang si oknum ketika pandemi seperti ini justru mengadakan challenge jadi monyet 10 detik. Ini merupakan pergerakan visioner umat manusia dalam membedakan dirinya dengan perilaku monyet. Tepuk tangan saya persilakan.

Atau, bisa saja fenomena ini ada campur tangan negara yang gagal menangani pandemi. Kalau saja negara ini nggak hanya main istilah—dari PSBB hingga PPKM—doang, nggak bakalan ada yang mau ngambil challenge jadi monyet berhadiah 300 ribu.

Namun, logika ini agak sedikit meleset lantaran monyet saja menolong sesamanya, masa iya manusia memberi dengan cara yang lebih hewan ketimbang hewan itu sendiri? Lagi-lagi, ini merupakan cara.

Ketika negara nggak bisa kontrol kebutuhan rakyat, ada orang yang memberikan uang di jalanan sudah pasti dicap seperti malaikat walau cara memberinya itu bejat. Pemakluman tentu saja ada dan akan terus ada karena di suasana distopia, nalar pincang pun dianggap sebagai jalan yang lapang. Pilihan satu-satunya.

Dea Anugrah dalam “Bagaimana Para Leluhur Kita Menguasai Dunia”, menyebutkan bahwa alam raya hanya mengenal satu urusan: berubah.

Bisa saja, tingkah polah oknum konten kreator ini menunjukan bahwa kita—sebagai umat manusia—sedang mengalami perubahan besar. Konten si oknum dan jawabannya yang angkuh di kolom komentar adalah sebuah pesan perubahan itu.

Kita bisa saja menjadi buas dalam menyikapi keadaan, bisa pula menjadi bodoh dalam mengambil keputusan. Dan juga apa yang dilakukan si konten kreator tersebut dalam kondisi pandemi seperti ini, menegaskan bahwa manusia bisa jadi nggak lebih hormat dan bermartabat bahkan dari seekor monyet itu sendiri.

Semangat, Mas oknum! Jangan kapok bikin konten. Tapi ya sekali-kali kalau ngonten simpatinya dipakai dulu, ya.

BACA JUGA Katanya Konten TikTok Itu Banyak yang Cringe: Masak, sih? dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2021 oleh

Tags: challege monyetkonten kreatorPojok Tubir Terminaltiktok
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

aturan lalu lintas 4 orang menyebalkan saat kecelakaan lalu lintas lakalantas mojok

Orang Tua Adalah Penyebab Generasi Penerusnya Melanggar Aturan Lalu Lintas

25 Juli 2021
toko ponsel akun tiktok joget joget marketing mojok

Toko Ponsel tapi Isi Medsosnya kok Nggak Ada Hubungannya dengan Ponsel?

27 Oktober 2020
syarat wajib vaksin surat kehilangan KTP administrasi ribet mojok

Repotnya Mengurus Surat Kehilangan di Surabaya: Syaratnya Wajib Vaksin, tapi Tempat Vaksinnya Tidak Disediakan

23 Juli 2021
Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit (Unsplash)

Untuk Mahasiswa Baru di Jogja, Turunkan Ekspektasi Kalian, Jogja Nggak Seindah Konten Sinematik

30 Juli 2024
Konsep Kosan Industrial Bukan Sekadar Pengin Irit dan Paksakan Ruangan yang Belum Jadi! terminal mojok.co

Konsep Kosan Industrial Bukan Sekadar Pengin Irit dan Paksakan Ruangan yang Belum Jadi!

10 Juli 2021

Artikel Balasan: Gagasan Penambahan Masa Jabatan Presiden Jadi Tiga Periode Itu Salah dan Patut Diributkan

18 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
BEM Unesa Gerombolan Mahasiswa Malas Kerja, Cuma Cari Muka (Ardhan Febriansyah via Wikimedia Commons)

Kuliah di Unesa Surabaya Itu Sangat Menyenangkan, asal Dosennya Betul-betul Ngajar, Bukan Ngebet Jurnal

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.