Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mal Lebih Ramai dari Sekolah Adalah Bukti Nyata Pendidikan di Indonesia Nomor Dua

Muhammad Afsal Fauzan S. oleh Muhammad Afsal Fauzan S.
3 Mei 2021
A A
Mal Lebih Ramai dari Sekolah Adalah Bukti Nyata Pendidikan di Indonesia Nomor Dua terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Uusan perut memang nggak bisa disepelekan. Istilahnya kalau nggak ada logistik, logika nggak akan jalan. Namun, bagi sebagian orang hal itu malah menjadi malapetaka jangka panjang bagi kemajuan umat manusia di negeri kita tercinta. Keramaian di Pasar Tanah Abang yang lagi viral membuat setiap orang yang menyimak berita dilanda kebingungan. Kadang, miris rasanya kalau dibandingkan bangku sekolah. Seolah, pendidikan di Indonesia dinomorduakan, sementara beli baju Lebaran adalah yang utama.

Bukan cuma di situ, jelang Lebaran, mal hingga toko baju langsung kebanjiran pembeli. Sebagian pengunjung pun adalah anak sekolah yang dilarang sekolah oleh pemerintah demi mencegah Covid-19. Konsistensi aparat mengamankan kerumunan sangat kelihatan minim. Cuma terdengar di awal dan pada saat sambutan saja. Termasuk kesadaran masyarakat +62 yang mirip-mirip warga India walau nggak parah-parah amat.

Bagi warga biasa yang mencintai ilmu pengetahuan seperti saya, melihat mal yang lebih ramai daripada sekolah sangat menyayat hati. Membuat jiwa ini memberontak dan mulai suuzan kalau Indonesia semakin bodoh suatu saat nanti.

Merdeka belajar yang digaungkan Mas Menteri rasanya belum merdeka-merdeka amat. Digitalisasi belum merata malah bikin siswa pusing setengah mati nyari sinyal internet saat kegiatan belajar berlangsung. Belum lagi bagi siswa yang nggak punya gadget, auto nggak belajar.

Pemerataan teknologi pun harus dibarengi dengan literasi teknologi yang mumpuni dari orang tua dan siswa. Jangan cuma dipakai main TikTok atau Instagram! Pendidikan di Indonesia nggak akan maju kalau begitu. Jika edukasi teknologi berjalan mulus dan baik di Indonesia, saya yakin banyak anak-anak kreatif yang nulis di Terminal Mojok.

Lebih miris lagi ketika anak-anak disuruh belajar di rumah oleh sekolah. Sementara orang tua mengizinkan mereka kelayapan ke mal dan kafe buat nongki-nongki. Kan jadi kesel aku tuh!

Orang tua yang harusnya melindungi anak-anaknya malah terkesan mengesalkan. Ketika pemerintah lelah-lelah melindungi generasi bangsa, eh, malah dibawa ke kerumunan buat beli baju Lebaran. 

Dengan demikian, seolah-olah sekolah lah yang menjadi sarang virus yang berasal dari Tiongkok bernama Covid-19 ini. Sementara mal, kafe, resto, dan pasar bebas ramai tanpa protokol kesehatan ketat.

Baca Juga:

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

5 Lagu Natal Underrated yang Wajib Diputar Agar Suasana Liburan Semakin Berwarna

Memang, banyak pakar kesehatan menyebut anak-anak sangat rentan terhadap penularan Covid-19. Tetapi, kalau anak-anak diajak main ke pasar buat beli baju Lebaran sama orang tuanya, kan, lebih bahaya lagi, canda bahaya.

Jelang persiapan pembelajaran tatap muka Juli mendatang, pemerintah terus menggaungkan protokol kesehatan yang ketat. Padahal kenyataannya di lingkungan mal, pasar, resto, dan kafe hal itu sulit dilakukan. Bahkan, banyak kok siswa yang belajar dan mengerjakan tugas di kafe rame-rame. Nah, gimana tuh?

Keluh kesah ini sudah lama terpendam seperti cintaku pada dia. Dalam kasus ini nggak ada yang benar dan nggak ada yang salah. Semua memiliki niat yang baik. Cuma dari pandangan saya, masyarakat Indonesia itu kurang sabaran. Nggak bisa diam, nggak bisa nurut sama pemerintah. Gilirang sakit, nyalahin pemerintah.

Pembelajaran daring bisa efektif jika pemerataan teknologi di Indonesia sudah merata. Juga, metode belajar yang lebih berkembang, nggak pakai metode lama di media baru. Kan jadinya pusing.

Jika semuanya bersinergi, bukan nggak mungkin Indonesia akan terus menerapkan sistem pembelajaran daring ditambah sistem bauran tatap muka yang fleksibel. Tak hanya itu, inovasi pendidikan karakter dan budaya di Indonesia pun harus dikembangkan lebih baik lagi.

Pemerintah juga harusnya mampu memberikan solusi yang konprehensif dari setiap kebijakan yang diterbitkan. Jangan cuma menggaungkan merdeka belajar, toh buat beli kuota dan gadget saja harus jual ginjal.

BACA JUGA Pengalaman Nongkrong di Dubai Mall, Mal Paling Besar di Dunia dan tulisan Muhammad Afsal Fauzan S. lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Mei 2021 oleh

Tags: MalPendidikanpendidikan indonesiavideo viral
Muhammad Afsal Fauzan S.

Muhammad Afsal Fauzan S.

Mantan wartawan yang jadi programmer dan web developer di pesantren. Sudah menulis sejak 7 tahun lalu. Suka baca buku sambil ngopi.

ArtikelTerkait

5 Sosok yang Cocok Melatih Pendidikan Militer jika Wibu yang Menentukan

Pasang Surut Sentimen Sipil vs Militer di Balik Fenomena Video ‘Pacar Kamu Ganteng? Bisa Gini Ga?’

20 Mei 2020
Membangun Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin "Penyakit", Mending Bikin Perpustakaan Mojok.co

Menambah Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin “Penyakit”, Mending Membangun Perpustakaan

16 April 2024
Kalau Disuruh Memilih Sosok Guru Ideal, Saya Akan Jawab Koro-Sensei terminl mojok.co

Kalau Disuruh Memilih Sosok Guru Ideal, Saya Akan Jawab Koro-Sensei

16 Januari 2021
Kuliah Sekarang: Bayarnya ke Kampus, tapi Terpaksa Cari Ilmu di Warung Kopi

Kuliah Sekarang: Bayarnya ke Kampus, tapi Terpaksa Cari Ilmu di Warung Kopi

17 Februari 2022
sistem zonasi

Menyoal Sistem Zonasi Sekolah: Apa Jadinya Jika Zonasi Diterapkan di Aspek Kehidupan yang Lain?

22 Juni 2019
4 Mal di Depok yang Punya Fasilitas Nyaman untuk Salat Terminal Mojok

4 Mal di Depok yang Punya Fasilitas Nyaman untuk Salat

5 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.