Inilah 7 lagu Bahasa Inggris yang mewakili jeritan hati dosen di Indonesia. Lagu yang menjadi SOS dan tanda sesak di dada.
Masih banyak orang Indonesia yang menganggap dosen sebagai profesi mentereng. Padahal, di balik gelar yang berderet panjang, banyak yang megap-megap. Pusing mengurus laporan Beban Kerja Dosen (BKD), mengejar publikasi Scopus dengan biaya sendiri, sampai memelototi saldo rekening yang tetap konsisten kurus kering.
Karena sudah telanjut menelan pil pahit, cara terbaik untuk bertahan adalah dengan menikmatinya. Sebab, tragedi yang dirawat lama-lama bakal berubah jadi komedi. Ketimbang sambat tanpa perubahan, mending tertawakan saja nasib lewat cara yang lebih estetik. Toh, sederet lagu Bahasa Inggris berikut siap menjadi soundtrack drama nestapa dosen di Indonesia.
#1 Bad Day (Daniel Powter), hari buruk yang terjadwal bagi dosen
Hari buruk bukan lagi soal dompet hilang, melainkan representasi kelelahan struktural. Jika bagi Daniel Powter hari buruk adalah kebetulan, bagi dosen di Indonesia, itu adalah ritual terjadwal.
Tri Dharma memaksa dosen harus selalu sempurna, meski fasilitas seadanya. Sudah begitu, begitu menginjakkan kaki di kampus, topeng wibawa harus segera terpasang. Mirip lirik dari lagu Bahasa Inggris ini: “You’re faking a smile with the coffee to go.” Dosen wajib sedia kopi dan senyum palsu agar saat di depan kelas, wajah lelah mereka nggak jadi bahan ghibah.
#2 Bring Me to Life (Evanescence), lagu Bahasa Inggris terbaik sebagai sinyal SOS
Kalimat “Wake me up inside, call my name and save me from the dark,” sejatinya adalah jeritan dosen yang merasa tenggelam dalam Tsunami tugas tambahan. Menjabat struktural, menjadi panitia berbagai acara, sampai mengurus akreditasi kampus yang menyita waktu.
Di titik ini, work-life balance hanyalah mitos belaka yang cuma ada di buku dongeng. Lagu Bahasa Inggris berjudul “Bring Me to Life” ini pun menjadi semacam sinyal SOS agar mereka bisa kembali menikmati hidup sebelum kewarasannya benar-benar punah.
#3 Numb (Linkin Park), lagu Bahasa Inggris yang menjadi gaung kesedihan dosen
Lagu Bahasa Inggris berjudul “Numb” dari Linkin Park adalah gaung kesedihan dosen yang sudah mati rasa. Bayangkan saja, di tengah jadwal mengajar yang mencekik, standar ilmuwan dunia lewat publikasi internasional tanpa sokongan dana masuk akal terus mengejar.
Akhirnya, bukannya menjadi pendidik penuh gairah, banyak dosen yang bertransformasi menjadi robot autopilot. Hidup segan, riset pun enggan karena jiwanya sudah tersedot habis oleh tuntutan tugas tanpa perasaan.
#4 Mean (Taylor Swift), metafora paling nendang bagi kehidupan dosen
Percayalah, “Mean” bukan cuma lagu Bahasa Inggris dengan nuansa country-pop receh buat teman berkendara. Bagi dosen Indonesia, ini adalah lagu kebangsaan bagi mereka yang tetap tegak meski sistem kejam menghajar dan kesejahteraan mengenaskan.
Lirik “big old city” jadi metafora paling nendang buat para dosen yang akhirnya berhasil menjebol beasiswa luar negeri. Semua ini demi lari dari realitas gelap dan menggapai taraf hidup yang lebih manusiawi.
#5 Trying My Best (Anson Seabra), sebuah rangkuman penderitaan
Penggalan lirik dari sebuah lagu Bahasa Inggris dari Anson Seabra “I’m trying my best, but I’m not sure if my best is enough” adalah rangkuman penderitaan paling presisi bagi para dosen. Mereka mengajar sampai suara habis, membimbing skripsi hingga larut malam, hingga terjun ke masyarakat demi pengabdian.
Sialnya, dalam sistem yang gila administrasi, predikat terbaik nggak lagi diukur dari seberapa cerdas mahasiswa yang dicetak, melainkan dari seberapa hijau indikator di aplikasi SINTA. Rasa rendah diri yang dilantunkan Seabra mewakili keluhan dosen yang merasa nggak pernah cukup, meski sudah bekerja melampaui batas kewajaran jam kerja manusia normal.
#6 Fix You (Cold Play), wujud ngenes kehidupan pendidik di Indonesia
Bagi dosen Indonesia, lagu Bahasa Inggris dari Coldplay dengan judul “Fix You” bukan sekadar balada galau, melainkan mantra yang ngenesnya luar biasa. Lirik “When you get what you want, but not what you need,” adalah tamparan keras bagi mereka yang sukses meraih gelar doktor, tapi gajinya bercanda. Gelar dapat, kesejahteraan lewat.
Rasa lelah yang mendarah daging pun terwakili lewat baris “When you feel so tired, but you can’t sleep”. Mata mengantuk, tapi otak terjaga karena dihantui revisi jurnal Scopus. Lagu ini seolah menjadi pengingat bagi khalayak bahwa kesehatan mental dosen Indonesia sedang nggak baik-baik saja dan butuh perbaikan segera.
Baca juga Menjadi Dosen Muda Tak Seindah Konten di TikTok!
#7 I Will Survive (Gloria Gaynor), tegak berdiri meski dosen menderita sendiri
Walau gaji mini dan beban kerja raksasa, dosen Indonesia tetap tegak berdiri. Nggak berlebihan kalau ada yang menyebut mereka sebagai salah satu spesies terkuat di bumi. Nyatanya, sanggup bertahan hidup dengan berbagai side hustles demi menambal dompet yang tiris.
Lagu Bahasa Inggris yang sifatnya wajib ini akan menemani langkah dosen tangguh untuk terus maju mencerdaskan bangsa di tengah gempuran birokrasi yang menjajah waktu dan energi. Bukan soal sok idealis, melainkan kesadaran bahwa menyerah bukan pilihan. Sebab bagi dosen, berjuang adalah satu-satunya jalan.
Deretan lagu Bahasa Inggris tadi menegaskan bahwa dosen adalah profesi di Indonesia yang dituntut punya otak Einstein dan kesabaran Bunda Teresa, tapi tanpa penghargaan yang nyata. Ingat, dosen adalah manusia biasa. Mereka nggak bisa hidup hanya dari predikat pahlawan tanpa tanda jasa yang saldonya sering kali nggak bernyawa.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
