Setiap kali ada teman dari luar kota bertanya, “Kalau ke Purwokerto enaknya makan apa?” jawaban yang keluar dari mulut orang kebanyakan biasanya hanya dua yaitu mendoan sama getuk goreng. Titik. Seolah-olah kuliner Purwokerto berhenti di situ saja, padahal masih banyak yang wisatawan belum kulik dan cicipi.
Saya punya sepupu yang tinggal di Purwokerto, umurnya sekitar 30-an. Setiap kali saya mampir ke rumahnya, dia selalu protes soal ini. “Orang luar kota tuh taunya mendoan doang. Padahal kuliner sini nggak cuma itu,” katanya sambil melahap makanan sesuatu yang waktu itu saya sendiri juga nggak langsung tahu namanya.
Nah, dari hasil “dibimbing” sepupu saya berkeliling Purwokerto, saya mau kasih tahu lima kuliner yang menurut saya wisatawan jarang cicipi, padahal enak.
#1 Nasi nyamat comfort food orang Purwokerto
Ini menu yang jarang banget muncul di daftar rekomendasi kuliner Purwokerto versi wisatawan. Padahal buat warga lokal, nasi nyamat itu semacam comfort food di kala cuaca dingin. Nasi hangat disiram kuah daging sapi atau ayam yang gurih, dengan bumbu rempah seperti pala, cengkeh, dan kayu manis.
Rasanya hangat sampai ke perut, cocok dimakan kapan saja, tapi paling nikmat pas hujan atau malam-malam dingin di daerah kaki Gunung Slamet. Masalahnya, kuliner ini belum terlalu dikenal wisatawan karena memang jarang dipromosikan. Kalah tenar sama menu-menu yang lebih mudah muncul di linimasa.
Sepupu saya sendiri bilang, nasi nyamat itu semacam rahasia orang Purwokerto yang tidak buru-buru dibagikan ke orang luar. Bukan pelit, cuma memang belum ada yang niat bikin ini viral.
#2 Kraca, kuliner Purwokerto dari keong sawah yang gurih
Kuliner Purwokerto yang satu ini agak menantang. Kraca adalah olahan keong sawah yang dimasak dengan bumbu pedas gurih kaya rempah. Teksturnya kenyal, rasanya kuat, dan biasanya disantap sebagai camilan malam, apalagi pas musim hujan.
Bagi yang belum terbiasa, mendengar namanya saja mungkin sudah bikin berpikir dua kali. Tapi, buat warga lokal, kraca itu makanan yang punya tempat sendiri. Nggak semua orang berani coba, tapi yang sudah coba biasanya ketagihan sama sensasi mengunyah kenyalnya sambil kepedasan.
Saya sendiri baru berani mencoba setelah memaksa sepupu saya tiga kali kunjungan berturut-turut. Sekarang malah kalau pulang ke Purwokerto, kraca yang saya cari duluan, bukan mendoan.
#3 Sate bebek Tambak yang nggak kalah dengan sate-sate lain
Sate ini asalnya dari Kecamatan Tambak, masih wilayah Banyumas. Daging bebek dipotong kecil-kecil, dibumbui bawang putih, ketumbar, kemiri, dan kunyit, lalu dibakar di atas arang. Rasanya gurih dengan sedikit pedas, teksturnya empuk, biasanya disajikan dengan lontong dan sambal kecap khas.
Sate ini kalah pamor jauh dibandingkan sate-sate daerah lain yang lebih sering wara-wiri di media sosial. Padahal dari segi rasa, bumbu rempahnya itu kompleks dan bukan asal bakar doang. Masalahnya cuma satu, lokasinya agak di luar pusat kota, jadi wisatawan yang cuma transit atau mampir sebentar biasanya nggak sempat cari sampai ke sana.
#4 Tempe dage, kuliner Purwokerto selain mendoan yang wajib dicoba
Selain mendoan, Purwokerto sebenarnya punya makanan tempe lain yang jarang disebut yaitu tempe dage. Bahannya dari ampas kedelai atau bahan olahan kedelai yang diolah lagi, lalu digoreng dengan tepung. Jadi teksturnya beda dari tempe biasa. Biasanya ditambah cabai merah atau taoge di atasnya.
Ironisnya, banyak wisatawan yang datang jauh-jauh hanya untuk mencicipi mendoan. Padahal, kalau mereka mau ngulik lebih jauh, tempe dage justru punya karakter rasa yang lebih unik karena bahan yang digunakan biasanya dianggap sisa. Makanan ini semacam bukti kalau orang Banyumasan memang jago olah bahan sederhana enak jadi.
#5 Nopia pantas dijadikan oleh-oleh khas Purwokerto
Soal oleh-oleh dari Purwokerto, wisatawan biasanya hanya mikir getuk goreng. Padahal, selain itu ada juga nopia, jajanan tradisional dari tepung terigu yang diisi gula merah lalu dibakar pakai tungku tanah liat. Rasanya manis legit dengan aroma bakar yang khas. Bentuknya yang kecil-kecil bisa habis dalam sekali hap, enak jadi buat camilan perjalanan.
Nopia ini sebenarnya sudah lama ada, tapi kalah tenar dibandingkan getuk goreng yang memang sudah dari dulu jadi ikon oleh-oleh Purwokerto. Padahal dari segi keunikan proses pembuatannya, nopia nggak kalah menarik untuk diceritakan.
#6 Jenang jaket dengan aroma khas juga cocok jadi oleh-oleh
Buat yang suka jajanan manis, jenang jaket ini semacam jenang khas Purwokerto. Dibuat dari beras ketan, gula merah, dan santan, dengan tambahan wijen pada varian tertentu yang membuat aromanya khas. Prosesnya panjang, harus diaduk lama supaya teksturnya pas.
Camilan ini jarang jadi buah tangan utama karena kalah tenar sama getuk goreng. Padahal dari segi rasa, jenang jaket punya karakter manis gurih yang cukup kompleks.
#7 Sroto Sokaraja, kuliner Purwokerto yang mirip soto wajib dicicipi
Kuliner Purwokerto satu ini sebenarnya sudah lumayan dikenal, tapi tetap saja kalah suara daripada mendoan kalau membahas kuliner Purwokerto. Sroto Sokaraja berbeda dari soto pada umumnya karena kuahnya dicampur bumbu kacang, jadi rasanya lebih gurih dan cenderung lebih pekat. Pakai ketupat, bukan nasi, ditambah tauge pendek dan kerupuk warna-warni yang remuk di dalam kuah.
Buat saya yang biasa makan soto bening ala Solo, pertama kali coba sroto ini rasanya kayak ketemu soto versi “upgrade”. Gurihnya berlapis, bukan hanya dari kaldu.
Kalau dipikir-pikir, masalahnya bukan di rasa. Kuliner di atas nggak kalah enak dari mendoan atau getuk goreng. Masalahnya di effort. Wisatawan kebanyakan cuma transit, foto sebentar, makan yang paling gampang ditemukan, lalu pulang. Nggak ada niat buat gali lebih dalam.
Sepupu saya sering bilang, Purwokerto itu kota yang isinya kejutan kalau kamu mau usaha dikit buat cari. Tapi, kalau caranya cuma modal Googling “makanan khas Purwokerto” terus stop di tujuh besar teratas, ya jangan salahin kotanya kalau yang kelihatan cuma itu-itu saja.
Jadi lain kali kalau ke Purwokerto, coba deh sisain waktu buat nyasar ke gang-gang kecil atau tanya orang lokal. Siapa tahu kraca yang kelihatannya menyeramkan itu justru jadi kuliner yang bikin kamu pengen balik lagi.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Kuliner Khas Tulungagung yang Disukai Warlok, tapi Kurang Cocok di Lidah Pendatang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
