5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya Mojok.co

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya (5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya (5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya (unsplash.com)

Setiap kota punya nasibnya masing-masing dalam hal reputasi. Ada kota yang terlanjur terkenal karena satu hal baik, lalu semua orang memujinya selamanya. Ada pula yang sebaliknya. Nah, Purwokerto masuk kategori kedua.

Saya tidak akan bilang Purwokerto adalah kota sempurna tanpa masalah. Tapi, ada beberapa stereotip tentang kota ini yang sudah terlalu lama diulang-ulang padahal kenyataannya sudah jauh bergeser. Kalau tidak ada yang meluruskan, stereotip itu akan terus hidup dan orang-orang akan terus salah sangka sebelum sempat menginjakkan kaki di sana.

#1 Purwokerto itu kecil yang Sepi

Ini stereotip favorit orang yang terakhir kali mendengar tentang Purwokerto dari cerita orang tua mereka.

Faktanya, Purwokerto sudah lama bukan kota yang sepi. Kehadiran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) saja sudah cukup untuk mengubah dinamika kota ini secara signifikan ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang setiap tahun, dan mereka tidak datang untuk tidur. 

Di sepanjang kawasan kampus, aktivitas berlangsung hampir 24 jam, di warung makan, laundry, kafe, sampai angkringan yang baru ramai justru setelah tengah malam.

Belum lagi Unsoed bukan satu-satunya kampus. Ada UMP, UIN SAIZU, Amikom Purwokerto, dan beberapa kampus lain yang masing-masing menyumbang ribuan kepala tambahan ke kota ini setiap tahunnya. Kalau kota ini masih bisa disebut sepi, saya tidak tahu sepi versi kamu itu seperti apa.

#2 Purwokerto cuma kota transit, bukan tujuan

Anggapan ini lahir dari sebuah fakta geografis kalau Purwokerto berada di antara kota besar. Purwokerto memang berada di tengah-tengah jalur Bandung-Yogyakarta dan Jakarta-Semarang, sehingga banyak orang singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, dari singgah menjadi tujuan, jarak itu sudah lama terjembatani. Kawasan Baturraden dengan udara pegunungannya yang dingin dan sejuk sudah lama jadi destinasi wisata yang berdiri sendiri bukan sekadar bonus perjalanan. 

Kuliner Purwokerto juga bukan sekadar pengisi perut transit. Mendoan, gethuk goreng Sokaraja, nopia, soto Sokaraja semuanya sudah punya nama di luar Purwokerto sendiri. Bahkan, kawasan sekitar Stasiun Purwokerto sekarang berkembang jadi destinasi kuliner tersendiri, bukan sekadar titik tunggu kereta.

Orang yang mampir ke Purwokerto cuma untuk ganti bus lalu pergi adalah orang yang tidak tahu betapa banyak yang dia lewatkan.

#3 Orang Purwokerto ngomongnya aneh, susah dipahami

Ini stereotip yang paling sering dipakai sebagai bahan candaan dan yang paling cepat runtuh begitu seseorang benar-benar berinteraksi dengan warga lokalnya.

Ya, dialek Ngapak memang berbeda dari Jawa Tengah-an pada umumnya. Kata-katanya lebih datar, tidak ada nada naik-turun yang khas seperti Jogja atau Solo. Dan ya, pertama kali dengar memang butuh penyesuaian.

Akan tetapi, “susah dipahami” adalah penilaian yang terlalu lebay. Banyak pendatang termasuk mahasiswa dari luar Jawa melaporkan bahwa dalam hitungan minggu mereka sudah bisa mengikuti percakapan sehari-hari tanpa masalah. Logat Ngapak bukan hambatan komunikasi, ia adalah identitas. Dan, identitas itu justru yang membuat Purwokerto punya karakter yang tidak mudah ditiru kota lain.

Lucunya, sekarang logat Ngapak malah jadi konten hiburan yang disukai banyak orang. Dari stereotip “aneh” jadi konten yang dicari itu bukan kemunduran, itu upgrade.

#4 Di sana tidak ada apa-apa, semua harus ke kota besar

Stereotip ini punya masa berlaku yang sudah kedaluwarsa sejak setidaknya satu dekade lalu, tapi entah kenapa masih saja beredar.

Purwokerto punya mal, hotel berbintang, rumah sakit dengan fasilitas modern, dan deretan restoran dari yang lokal legendaris sampai franchise nasional dan internasional. Underpass Jenderal Soedirman dibangun untuk mengatasi kemacetan di pusat kota sebuah masalah yang hanya muncul di kota yang memang sudah cukup ramai untuk macet.

Tentu tidak semua kebutuhan terpenuhi di sini untuk beberapa layanan spesifik, warga masih perlu ke Semarang atau Yogyakarta. Tapi, ini bukan cerita unik Purwokerto. Ini kondisi hampir semua kota yang bukan Jakarta. Menuntut Purwokerto punya segalanya lalu menyebutnya “tidak ada apa-apa” karena belum setara Jakarta adalah standar yang tidak adil dan tidak masuk akal.

#5 Daerah terpencil di selatan Jawa

Ini stereotip yang lahir dari kemalasan membuka peta.

Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas dan pusat pemerintahan, ekonomi, sekaligus pendidikan untuk wilayah Banyumas Raya. 

Secara historis, pusat pemerintahan dipindahkan ke Purwokerto sejak 1937 bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena posisi dan potensinya memang strategis. Jalur kereta api yang melintasi kota ini sudah ada sejak era kolonial dan masih berfungsi aktif sampai sekarang, menghubungkan Purwokerto dengan kota-kota besar di Jawa dengan frekuensi yang tidak sedikit.

“Terpencil” adalah kata yang tidak bisa dipakai untuk kota yang setiap harinya dilalui ribuan penumpang kereta, punya beberapa kampus aktif, dan masuk dalam radar peta kuliner nasional.

Purwokerto memang bukan Surabaya atau Bandung. Tapi, dia juga sudah lama bukan desa yang perlu dikasihani. Dia adalah kota yang tahu persis apa kelebihannya dan tidak butuh validasi dari orang-orang yang belum pernah mampir lebih dari dua jam di stasiun.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version