Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

5 Penderitaan Warga Tangerang yang Sehari-hari Naik Transjakarta Koridor T11

Rachelia Methasary oleh Rachelia Methasary
27 Agustus 2025
A A
5 Penderitaan Warga Tangerang yang Sehari-hari Naik Transjakarta Koridor T11 Mojok.co

5 Penderitaan Warga Tangerang yang Sehari-hari Naik Transjakarta Koridor T11 (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya beberapa kali menuliskan tentang Transjakarta di Terminal Mojok. Bagi saya, transportasi umum yang jadi andalan banyak warga Jakarta ini begitu menarik. Bayangkan saja, hanya dengan Rp3.500 saya hampir bisa menjelajahi seluruh daerah Jakarta. Benar-benar moda transportasi yang ramah di kantong dan sangat membantu.

Akan tetapi, di balik berbagai keunggulannya, Transjakarta menyimpan “sisi gelap”. Terlebih armada Transjakarta koridor 11 yang sehari-hari saya tumpangi.  Armada koridor ini melayani rute Poris Plawad (Tangerang) menuju Halte Slipi Petamburan. Ar,ada T11 menjadi salah satu primadona orang Tangerang yang bekerja di sekitaran Jakarta. Sebab, hanya dia yang mampu menjangkau penumpang sampai ke area Kabupaten Tangerang.

Sebagai pengguna setia koridor ini, saya mohon izin untuk berbagi uneg-uneg yang sudah tak tertahankan lagi ya. 

#1 Transjakarta T11 padat setiap hari, tidak mengenal hari libur

Umumnya, transportasi publik akan lengang jika tanggal merah atau weekend. Itu harapan semua orang, terutama warga Jakarta yang setiap hari sudah lelah menghadapi kepadatan Senin-Jumat. Akan tetapi, kondisi ini tidak berlaku bagi Transjakarta T11. Bus lenggang hanyalah mitos. Capek banget lihatnya.

Saya sering menggunakan moda ini saat weekend. Ekspektasinya sih dapat duduk karena hari libur, eh malah tetap berdiri dan berdesakkan. Saya suka berpikir, “Mereka ngapain weekend tetap ke Jakarta? Bikin penuh bus aja!” Ternyata, masih banyak yang bekerja di hari Sabtu atau Minggu. Selain itu, sebagian besar penumpang hanya refreshing aja.

Bahkan, bis pertama dan terakhir pun tetap penuh sesak dan harus rebutan untuk dapat kursi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kehadiran koridor T11 bagi mobilitas warga Tangerang.

#2 Driver ugal-ugalan dan suka ngerem mendadak

Jika kamu sempat baca, saya pernah menulis di Terminal Mojok tentang driver yang ugal-ugalan. Nah, realita tersebut pun terjadi pada koridor T11 yang beroperasi sampai jam 10 malam ini. Saya jadi emosi sendiri kalau sang driver sudah mengemudikan bus sambil meliuk mendahului kendaraan lain. Terutama di ruas tol Jakarta-Tangerang. Entah apa yang dikejar, buru-buru amat.

Tidak hanya ugal-ugalan, supir T11 pun kerap kali injak rem secara mendadak. Alhasil, para pengguna jadi hilang keseimbangan dan nyaris terjerembab ke depan. Kalau kaliannggak sempat pegangan, ya siap-siap aja jadi korban. Hai supir Transjakarta, bisa nggak sih ngeremnya biasa aja? Pikirkan juga dong keselamatan penumpang yang sedang berjuang menahan lelah karena empet-empetan di dalam bus.

Baca Juga:

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

Saking kesalnya, saya pernah melayangkan kritik melalui akun medsos Transjakarta. Namun, sepertinya keluhan ini diabaikan karena hingga detik ini driver T11 masih barbar. 

#3 Ruang di dalam bus terlalu sempit

Saat pertama kali beroperasi, Transjakarta T11 menggunakan bus biru dengan ruang yang lebih luas dan muat hampir 60 orang. Semenjak rutenya diperpendek (dulu bisa sampai Bundaran Senayan, sekarang hanya sampai Slipi Petamburan), armadanya diganti Metrotrans. Bus listrik oranye ini menurut saya malah lebih sempit dan kapasitas penumpangnya lebih sedikit dibanding bus biru, mungkin sekitar 30-40 orang.

Kelebihan moda ini adalah jenisnya non-BRT yang lebih fleksibel dan tidak harus turun di halte Transjakarta. Tapi ya itu, kalau bus sedang padat-padatnya, rasanya saya ingin turun aja naik ojol atau jalan kaki kalau kuat. Space-nya terlalu mepet dan lorong untuk berdiri tidak lega. Kamu bisa bayangin kan situasinya jika driver ngerem mendadak dengan Transjakarta Metrotrans yang penuh manusia? Atau yang lebih melelahkan, kamu berdiri terhimpit orang dan terjebak kemacetan tol Jakarta-Tangerang saat pulang kantor. Horor banget.

#4 Waktu tunggu kedatangan armada Transjakarta T11 cukup lama

Hal satu ini yang paling menguji kesabaran warga Tangerang, yaitu waktu tunggu kedatangan koridor T11 yang lama. Bikin saya bad mood. Sudah datangnya lama, pas di dalam bus jadi “ikan pepes”. Ya ampun, gini amat kerja di Jakarta. Saya pun kurang paham ini jumlah unitnya sedikit atau jadwal yang kacau. Sebenarnya kita bisa track perjalanan di berbagai aplikasi, tapi kadang waktunya nggak sesuai.

Bila harus menunggu lama dan ada halte yang proper sih tidak masalah ya. Hujan tidak kehujanan, panas tidak kepanasan. Masalahnya, pemberhentian bus ini tidak selalu di halte beratap. Banyak spot pinggir jalan yang hanya diberikan papan bertuliskan “bus stop”. Sudah cantik mau pergi mencari sesuap nasi, eh malah jadi lecek dihantam polusi.

Saya harap sih bolehlah dibangun halte di setiap persinggahan Metrotrans ini. Atau nggak, minimal dikasih atap deh.

#5 Warga Tangerang tidak punya pilihan selain Transjakarta T11

Meski banyak keluhan terhadap transportasi umum satu ini, warga Tangerang seperti saya tetap bergantung pada kehadiran koridor T11. Apapun kegiatan kami, entah itu bekerja, kuliah, atau sekedar healing ke Ibu Kota. Sebenarnya ada sih bus lain yang bisa mengantar ke Jakarta, tapi lagi-lagi ongkosnya terlalu mahal dan tidak dapat disandingkan dengan Transjakarta yang cuma Rp3.500.

Di samping itu, alasan pelanggan tak kuasa untuk meninggalkan T11 adalah daerah yang dijangkau bus ini cukup luas. Bus ini berangkat dari Terminal Poris Plawad di Tangerang Kota dan akan menjemput kami di daerah Karawaci (Kabupaten Tangerang), lalu masuk tol Tangerang-Jakarta. Artinya, rute ini sangat bersahabat bagi penduduk “pinggiran Jakarta”.

Warga kawasan Tangerang terlalu mencintai koridor T11 apa adanya. Setiap hari diuji kesabaran dan emosinya, tapi kami tetap setia untuk terus mengandalkannya.

Begitulah kisah Transjakarta T11 kebanggan orang Tangerang. Kamu punya cerita seru nggak tentang Transjakarta favoritmu?

Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Anggaran TransJogja Dipangkas Adalah Bukti Pemerintah Memang Suka Lihat Warganya Kerepotan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2025 oleh

Tags: JakartaKoridor 11transjakartaTransjakata T11transportasi umumtransportasi umum jakarta
Rachelia Methasary

Rachelia Methasary

Pustakawan di ibu kota yang senang ngopi, traveling, dan baca buku. Lebih memilih tempat yang sepi dan tenang karena introvert.

ArtikelTerkait

Olahraga Lari di CFD Jakarta: Berawal Murah, Berujung Mewah

Olahraga Lari di CFD Jakarta: Berawal Murah, Berujung Mewah

5 Mei 2024
Alasan Logis Kenapa Siswa Jakarta kalau Piknik Malah ke Jogja terminal mojok

Alasan Logis Siswa Jakarta kalau Piknik Malah ke Jogja

29 November 2021
Stasiun Metland Telagamurni, Penyelamat Pekerja Jakarta yang Tinggal di Pinggiran Kota Mojok.co

Stasiun Metland Telagamurni, Penyelamat Pekerja Jakarta yang Tinggal di Pinggiran Kota 

7 Januari 2024
Cara Bertahan Hidup di Jakarta Jika Gajimu di Bawah UMR Jakarta 2024 depok heru budi jogja

Bisa Sambat Pakai Bahasa Jawa Adalah Privilege, di Jakarta Nggak Mungkin Bisa!

16 Agustus 2024
Jadi “Ikan Pepes” di KRL Jabodetabek Jauh Lebih Baik daripada di Transjakarta

Jadi “Ikan Pepes” di KRL Jabodetabek Jauh Lebih Baik daripada di Transjakarta

1 Juli 2025
Jakarta, Daerah yang Paling Enak Dikritik ketimbang Jogja (Unsplash)

Lebih Enak Mengkritik Jakarta ketimbang Jogja yang Baperan dan Mudah Tersinggung karena Cinta Buta

6 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag- Cuma Bikin Sakit Hati! (Wikimedia Commons)

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Sakit Hati

22 Februari 2026
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi

22 Februari 2026
Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan Mojok.co

Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan

19 Februari 2026
Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang
  • Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’
  • Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos
  • Innova Reborn: Mobilnya “Orang Bodoh dan Pemalas”, Khususnya yang Nggak Paham Investasi
  • Pindah ke Lingkungan Muhammadiyah Lebih Tentram: Jauh dari Bunyi Toa Masjid yang Berisik hingga Terbebas dari Iuran dan Cap Islam Abal-abal
  • Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.