Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan

Penonton Sinetron, Sebenar-benarnya Kelompok Marjinal

Ningsih oleh Ningsih
30 November 2020
A A
5 Alasan Penonton Sinetron Adalah Kelompok Marjinal yang Perlu Dibantu terminal mojok.co

5 Alasan Penonton Sinetron Adalah Kelompok Marjinal yang Perlu Dibantu terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bukan hanya flora dan fauna, Indonesia juga memiliki kekayaan berupa manusianya yang sangat beragam. Ada sosok seperti HRS hingga Nikita Mirzani. Dan ada pula sosok unik seperti Kekeyi hingga sosok kalem seperti Dian Sastro. Dari aspek hiburan yang ditonton, manusia Indonesia pun bisa dibagi-bagi dalam berbagai jenis. Ada yang teramat suka drama Korea, anime Jepang, serial Barat, hingga tayangan buatan dalam negeri alias sinetron! Nah, di kesempatan ini, saya mau bahas soal fans tayangan made in local tersebut.

Sinetron, seperti yang kita tahu, tayang hampir setiap hari di channel TV Indonesia. Biasanya, acara ini bisa dinikmati ketika jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dari Indosiar, SCTV, hingga RCTI, semuanya berlomba-lomba menayangkan sinetron yang jalan ceritanya super berlika-liku itu.

Sayangnya, dari segi kualitas, sinetron kita sering kali kalah dari drakor, dorama Jepang, sampai serial Amerika. Episode yang jumlahnya sampai ribuan dan jalan cerita yang tidak masuk akal membikin banyak orang tidak menyukai tayangan ini.

Saya sih setuju ya kalau para pembuat sinetron di Indonesia ini dikritik. Yang tidak saya setujui adalah stigmatisasi ke para pencinta sinetron. Saya merasa bahwa para pencinta sinetron adalah satu di antara golongan manusia paling marjinal, nestapa, dan mengenaskan di zamrud khatulistiwa ini. Dan saya sudah menyiapkan 5 argumen terbaik untuk pendapat “intelektuil” saya tersebut.

#1 Ibu rumah tangga yang lelah jiwa dan raga

Kebanyakan penyuka sinetron adalah ibu rumah tangga yang mengalami kelelahan fisik. Mereka capek ngurus anak yang rewel, nyuci baju, masak, dan lain sebagainya. Alhasil, ketika malam menjelang, mereka tanpa babibu langsung mencari pelampiasan yang menghibur dan murah. Dan kebetulan, sinetron menawarkan hiburan yang murmer tersebut.

Selain lelah fisik, banyak dari mereka yang juga lelah secara mental. Sebagai IRT, mereka harus melakukan hal yang sama setiap hari. Rutinitas itu jelas membuat jenuh sehingga suka tak suka mereka harus melawan rasa bosan itu terus-menerus.

Tatkala anak mereka sudah sekolah, kejenuhan itu akan semakin bertambah. Akibatnya, mereka lagi-lagi mencari alternatif hiburan yang bisa membuat senang secara instan.

#2 Tak punya pilihan menonton tayangan lain

Nonton sinetron itu murah. Jauh lebih murah daripada nonton drama Korea, film, atau serial-serial barat dari TV berbayar. Untuk nonton sinetron, kita tinggal beli TV lalu mencolokkannya ke listrik. Sudah. Cukup.

Baca Juga:

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

7 Istilah yang Terdengar Aneh dan Nyeleneh Saat Ngobrolin Drakor, Ada “K-Trauma” hingga “Jadi Ubi”

Buat mereka yang tak punya budget besar untuk hiburan, sinetron menjadi sarana bersenang-senang tanpa tanding. Pasalnya, tayangan lainnya harus dibeli dengan harga lebih tinggi atau diakses lewat gadget yang lebih mahal.

#3 Bukan generasi yang jago pakai YouTube

Selain menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka yang tak berduit, nonton sinetron juga merupakan satu-satunya alternatif buat mereka yang tak mampu mengakses internet. Loh, ada gitu manusia zaman now yang tidak bisa ngakses internet dan nonton YouTube?

Ada! Banyak malah. Orang-orang yang sudah tua dan masyarakat di daerah pelosok adalah contohnya. Waktu kuliah, saya pernah KKN di salah satu daerah di Jawa Tengah. Di desa yang terletak di pulau Jawa itu saja, jaringan internetnya susah sekali. Jangankan nonton YouTube, ngirim WA saja susahnya minta ampun.

#4 Mendapat stigma bermacam-macam

Entah kenapa, para pencinta sinetron selalu mendapatkan berbagai stigma buruk. Mereka selalu dicap sebagai kaum yang bodoh, tukang gosip, tidak elite, kampungan, sampai tidak berpendidikan.

Stigma ini kadang dibarengi dengan stigma yang lebih serius. Misalnya, yang suka nonton adalah ibu-ibu yang tidak bisa mendidik anak. Atau, kadang stigmanya sudah memasuki ranah fisik. Misalnya, tampilan ibu-ibu berdaster dengan rambut awut-awutan yang dianggap sebagai tampilan khas penyuka sinetron.

#5 Sering kali tak bisa membela diri

Sebenarnya, bukan cuma pencinta sinetron yang sering diledek. Weaboo, koreaboo, anak indie, anak punk, dan lainnya pun mendapatkan stigma buruk masing-masing. Namun, entah kenapa dari semua grup tersebut, para pencinta sinetron jarang sekali membela diri ataupun mendapatkan pembelaan.

Ejekan ke pencinta sinetron dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Mereka pun cenderung diam saja. Sementara, ketika kita mengejek pencinta KPop, kita harus siap dengan serangan balik dari para pencinta oppa dan eonni tersebut.

Nah, atas alasan-alasan tersebut saya berani mengatakan kalau penonton sinetron adalah salah satu kelompok paling marjinal di Indonesia. Kalau dipikir-pikir, yang harus kita salahin ya yang bikin dan menayangkan sinetron tak bermutu. Eh, kenapa pula kita malah menyalahkan mereka-mereka yang sering kali tak punya alternatif untuk hiburan yang lebih intelektuil?!

BACA JUGA Pesona Mas Aldebaran di Sinetron ‘Ikatan Cinta’ Memang Sulit Terbantahkan, Bund dan tulisan Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2021 oleh

Tags: penontonSinetron
Ningsih

Ningsih

Cuma manusia biasa, halah!

ArtikelTerkait

Rumah Impian Waktu Sekolah: Pokoknya Ada Kolam Renangnya Kayak di Sinetron

Rumah Impian Waktu Sekolah: Pokoknya Ada Kolam Renangnya Kayak di Sinetron

29 Maret 2020
sinetron anak jalanan

Masyarakat Kampung Saya Susah Move On Gegara Tamatnya Sinetron Anak Jalanan

28 Juli 2019

Alasan Lelaki Harus Nonton Sinetron Dunia Terbalik dan Belajar dari Bapak-bapak Ciraos

6 April 2020

Surat Balasan untuk Pembelaan dari Penulis Naskah ‘Suara Hati Istri: Zahra’

6 Juni 2021
Mahfud MD Sebetulnya Juga Nonton Sinetron Kelucuan Pejabat Indonesia dan Ia Salah Satu Tokoh Utamanya terminal mojok.co

Mahfud MD Sebetulnya Juga Nonton Sinetron Kelucuan Pejabat Indonesia dan Ia Salah Satu Tokoh Utamanya

19 Juli 2021
Pesona Mas Aldebaran di Sinetron 'Ikatan Cinta' Memang Sulit Terbantahkan, Bund terminal mojok.co

Sinetron ‘Ikatan Cinta’ Dibilang Drakor Versi Lokal. Maaf, Drakor yang Mana?

25 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.