4 Tipe Akhi yang Wajib Ukhti Ketahui – Terminal Mojok

4 Tipe Akhi yang Wajib Ukhti Ketahui

Artikel

Saya tidak tahu persis kapan term akhi dan ukhti ini mulai berkembang luas di masyarakat. Sepanjang perjalanan saya menjalani kehidupan yang penuh liku dan lika, saya untuk pertama kalinya familiar dengan term akhi dan ukhti sejak awal-awal kuliah, tepatnya tahun 2016 akhir.

Sebelumnya memang saya pernah mendengar tentang istilah akhi dan ukhti dan saya juga tau artinya, akan tetapi saat itu saya baru tau jika kedua istilah ini digunakan dalam makna semantik dan pragmatik yang lebih luas. Mungkin saya yang kurang pergaulan hingga terlambat mengetahui seputar istilah akhi dan ukhti yang sebenarnya mungkin sudah lama berkembang.

Karena penasaran, saya memutuskan untuk bertanya pada guru kita semua, guru kebanggan kita Mbah Google, saya melakukannya agar bisa tidur nyenyak di malam hari dan bermimpi indah tentunya. Tak disangka-sangka hasil yang saya temukan membuat saya kejang-kejang, hasil pencarian saya mengonfirmasi bahwa validitas kekudetan saya memang tinggi. Ternyata dan ternyata artikel yang membahas tentang perakhi dan peruhktian sudah ada sejak 2003 silam. Jika saya gencar mencari mungkin akan saya temukan yang usianya lebih lama dari itu.

Para ahli bahasa dan orang Arab juga sepakat bahwa arti dari akhi adalah saudara laki-lakiku dan arti dari ukhti dalam bahasa Indonesia adalah saudara perempuanku. Akan tetapi pembaca Mojok yang setia, saat ini telah sama-sama kita ketahui bahwa akhi dan ukhti telah mengalami perluasan makna. Secara luas dan merata di seluruh penjuru tanah air, akhi dan ukhti kini telah mengalami semacam pergeseran makna.

Saya tidak akan membahas fenomena bahasa ini secara detail, saya khawatir kalau-kalau Noam Chomsky akan merundung saya karena kemampuan analisis bahasa saya yang cetek, haha.

Telah disepakati secara kolektif, terstruktur, dan masif bahwa akhi dan ukhti adalah mereka yang berpenampilan agamis. Setuju maupun tidak setuju, memang seperti inilah realita yang ada.

Bila ada sosok laki-laki memiliki penampakan seperti ini: berjanggut, menggunakan baju koko, berpeci, hitam di kening, celana cingkrang (ini opsional), fix kita bisa simpulkan kalau dia akhi. Pengertian akhi saat ini memang cenderung diasosiasikan dengan penampilan. Begitu juga sebaliknya, ukhti adalah sebutan bagi perempuan yang berjilbab besar, memakai gamis, handshcok (opsional), dan bercadar (opsional).

Baca Juga:  Analisis Berbagai Arti Ungkapan ‘Ngopi’ yang Sering Kita Dengar

Menggunakan media sosial untuk mengidentifikasi mana yang akhi dan mana yang ukhti juga bisa dilakukan, cek saja postingannya. Beberapa akhi dan ukhti bahkan secara gamblang, jelas dan terang mendeklarasikan diri sebagai akhi maupun ukhti dengan menaruh embel-embel akhi atau ukhti pada namanya.

Saya akan memberikan pengklasifikasian terhadap tipe-tipe akhi berdasarkan pengalaman pribadi dan orang lain, tidak ada maksud hati menyinggung siapa pun, ini murni sekali lagi berdasarkan apa yang saya lihat, rasakan, dan dengar. Tipe-tipe akhi yang akan saya bahas kali ini mengacu pada definisi akhi yang sudah saya jelaskan di awal yaitu definis akhi dan ukhti yang diasosiasikan berdasarkan penampilan.

1. Akhi Modus

Kalau ada akhi modus, berarti ada akhi mean dan median dong? Ih apaan sih garing abis. Akhi modus ini banyak bergentayangan di media sosial. Coba saja cek, ketik akhi di kolom pencarian facebook, lihatlah keajaiban yang terjadi, terdapat begitu banyak nama akun facebook yang menggunakan embel-embel akhi dalam namanya. Kira-kira kenapa ya nama facebooknya akhi? Sudah barang tentu agar kredibilitas keakhiannya terverifikasi sempurna, lalu ini akan memudahkan para akhi ini dalam melancarkan serangan modusnya kepada para ukhti, astagfirullah. Ingat ya tidak semua seperti ini, ini hanya berlaku untuk akhi modus.

Beberapa waktu lalu, teman saya, sebut saja ukhti J, baru saja mengepost foto hadap belakang dengan caption menunggu calon imam, tidak lama berselang, bangkitlah para akhi facebook tersebut, lalu dilancarkanlah serangan modus, dimulai dengan salam pembuka “Assalamu’alaikum uhkti”, berlanjut ke banyak percakapan lainnya, lalu si ukhti baper, hingga terjadilah ritual saling membangunkan sholat tahajjud. Syukur-syukur kalau bisa sampai jenjang pernikahan.

Baca Juga:  Kenapa Emang Kalau Suka Curhat ke Orang yang Belum Dikenal?

Akan tetapi untuk diketahui bersama oleh kita-kita para ukhti, ya saya ukhti dalam definisi harfiah bahasa Arab, bahwa akhi-akhi modus ini sebenarnya tidak hanya menghubungi ukhti seorang, sesungguhnya akhi modus ini juga menghubungi banyak ukhti lainnya, tahukah ukhti dalam bahasa Arab banyak berbeda dengan jamak, banyak dalam bahasa Arab adalah lebih dari dua, sedangkan dua adalah jamak.

Saya pernah mengikuti sebuah kajian online, seorang akhi bertanya kepada pemateri dengan pertanyaan seperti ini “Ustaz, bagaimana hukumnya membangunkan ukhti-ukhti untuk sholat tahajjud, mengingat ini sepertinya mendekati zina”, wah sebenarnya akhi jenis ini sangat ingin saya beri apresiasi atas kejujurannya dalam mengakui dirinya secara langsung bahwa dia ini termasuk akhi-akhi modus.

2. Akhi Obral Nikah

Seorang akhi pernah mengajak saya menikah, sebut saja namanya akhi A. Tidak cukup dengan kalimat ingin menikahi saja, dia juga berusaha menginvasi hati saya dengan banyak gombalan maut khas para akhi, seperti kita akan berusaha membangun rumah tangga yang samawa, mendidik anak-anak Qurrata A’yun bersama, dan rentetan gombalan lainnya yang udah seperti sales properti. Saya tidak menyalahkan ini sih, karena jujur saja, kheemm sebagai wanita saya suka digombalin dengan kata-kata manis. Akan tetapi yang saya permasalahkan adalah akhi A ini ternyata tidak hanya mengatakan ingin menikahi saya, dia juga mengatakn hal yang sama kepada ukhti lainnya dengan interval waktu yang singkat, belum saja saya memberi jawaban, eh doi malah udah obral nikah ke ukhti yang lain, uggghhh kan sebel.

3. Akhi Jadi-jadian

Tidak hanya kelinci yang jadi-jadian, ada juga loh tipe akhi jadi-jadian. Melihat penampilannya oke fix akhi, cek medsosnya semakin yakin kalau doi akhi. Banyak sekali repost akun-akun dakwah terutama soal pacaran itu haram. Sebagaimana citra akhi yang melekat dalam paradigma masyarakat saat ini, akhi gak mungkinlah ya pacaran, apalagi mesra-mesraan sama yang bukan mahram.

Baca Juga:  Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

Akan tetapi saudara-saudara sebangsa dan setanah air, tidaklah semua akhi seperti yang dipikirkan para ukhti. Seseorang yang saya kenal cukup terkenal sebagai akhi, bahkan akhi ini adalah mantan ketua sebuah organisasi dakwah, ternyata setelah demisioner dia menjalin kasih a.k.a pacaran.

Pacaran ya bukan komitmen, ukhti pasti pahamlah ya beda pacaran dan komitmen, bahkan mereka juga jalan-jalan berdua, menikmati desir ombak dan nyanyian pohon kelapa. Inilah akhi yang saya maksud jadi-jadian. Ada lagi contoh kasus akhi jadi-jadian yang mungkin masih segar dalam ingatan kita, dialah Ibrahim Malik, mahasiswa Indonesia yang tengah S-2 di Australia. Ia diduga telah melakukan pelecehan terhadap beberapa wanita pada saat kuliah S-1 dulu.

4. Akhi yang sebenar-benarnya Akhi

Beruntunglah bila ukhti menemukan yang seperti ini, dialah pangeran berkuda putih yang diidam-idamkan banyak ukhti. Betapa tidak, akhi yang sebenar-benarnya akhi ini benar-benar akhi sebagaimana yang banyak ukhti ekspektasikan. Rajin beribadah, menjaga pandangan, setia, dan sederet kebaikan-kebaikan lainnya.

Akhi tipe ini biasanya langka, kemunculannya hanya satu dalam seribu akhi, lebay, tapi bisa jadi benar. Akhi jenis ini mungkin tidaklah sempurna karena memang tidak ada manusia yang sempurna, tidak hanya penampilan yang terlihat agamis namun cara bersikapnya juga sangat mencerminkan keakhiannya. Akhi sepert ini selalu dilangitkan oleh para ukhti untuk segera dipertemukan dengannya dalam mahligai cinta yang suci dan diridhoi Illahi.

BACA JUGA Dideketin Akhi-Akhi Kayak Mau Ta’aruf, Eh Ternyata Saya Cuma Jadi Objek Dakwah dan tulisan Boga Metri Zain lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.