4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu (unsplash.com)

Mana taman Semarang favorit kalian?

Melamun di kursi besi depan Indomaret sudah menjadi ajang pelarian paling instan bagi masyarakat urban yang sedang dihantam beban hidup. Begitu pula bagi warga Kota Semarang. Namun, jujur saja, duduk di sana sembari menatap deretan motor yang parkir dan mendengarkan bunyi klakson meraung-raung bukanlah cara yang tepat untuk menjernihkan pikiran.

Alih-alih mendapatkan pencerahan, yang ada justru punggung terasa kaku akibat sandaran kursi besi yang dingin. Maka, sekarang saatnya menaikkan standar kenyamanan dalam urusan kontemplasi dengan melipir ke sudut-sudut Kota Atlas yang jauh lebih ramah bagi kesehatan mental dan tulang ekor. Toh, Semarang sebenarnya menyimpan deretan taman asri yang menyediakan bangku-bangku lebih manusiawi untuk sekadar duduk termenung sambil membiarkan pikiran berkelana tanpa arah.

Baca juga 4 Kebiasaan yang Umum Dilakukan di Semarang, tapi Aneh saat Saya Lakukan di Jogja.

#1 Taman Wilis, tempat yang pas buat menatap atap kota sambil menangis

Taman ini adalah tribun terbaik untuk melihat Semarang dari ketinggian tanpa perlu reservasi di kafe mahal. Pemandangan city light yang magis saat senja mulai turun, sangat pas untuk melamunkan masa depan yang masih abu-abu. Untungnya, udaranya tak sekeruh masa depan. Sebab, tak tercemar kepulan asap knalpot seperti kalau duduk melamun di depan Indomaret.

Identitas taman ini makin kuat dengan adanya patung tiga gunungan wayang berwarna merah yang ikonik. Meski aksesnya tergolong gampang karena cuma berjarak belasan menit dari Tugu Muda, pengunjung harus siap mental menghadapi jalanan menanjak dan area parkir yang agak sempit. Uniknya, tempat ini juga menjadi markas bagi banyak kucing liar yang menggemaskan. Jelas, ini adalah spot pelarian sempurna bagi para pecinta anabul buat menikmati semilir angin kota.

#2 Nostalgia menikmati kemegahan Semarang tempo dulu di Taman Srigunting

Duduk di sini terasa seperti sedang dibawa ke masa lampau. Pasalnya, letaknya berada di tengah-tengah Kota Lama Semarang, samping Gereja Blenduk. Suasana Kota Lama yang kental dengan estetika kolonial dan pohon raksasa yang sangat rindang, membuat suhu Semarang yang bengis jadi sedikit lebih bisa dikompromikan.

Taman Srigunting adalah spot melamun paling berkelas bagi penyuka arsitektur dan keramaian yang syahdu. Sayangnya, karena lokasinya berada di pusat wisata, jangan harap mendapatkan kesunyian total. Sebab, lantunan musisi jalanan dan lalu lalang wisatawan bisa jadi distraksi bagi yang butuh ketenangan maksimal. Namun tentu saja, pilihan ini jauh lebih mending ketimbang suara deru mobil.

#3 Healing merakyat di sudut asri Taman Gajahmungkur yang ada di pemukiman elit

Taman Semarang satu ini adalah potret sebenarnya dari healing merakyat di tengah kepungan kemewahan. Kelebihannya terletak pada kontur tanah yang berundak dan pepohonan yang sangat teduh. Kondisi demikian menciptakan privasi alami yang sulit didapatkan di kursi Indomaret.

Lantaran berada di kawasan perumahan borjuis, Taman Gajahmungkur cukup terawat. Namun, sebaiknya hindari datang di saat akhir pekan. Soalnya, taman ini bakal disulap menjadi arena bermain anak-anak yang cukup ramai. Praktis, agenda merenung jadi urung.

Baca juga Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang.

#4 Taman Piere Tendean Signature Park, definisi estetika modern di tengah jalan protokol

Kalau mencari tempat melamun yang tampilannya lebih kekinian dan rapi, inilah jawabannya. Desain tamannya punya sentuhan modern dengan trotoar lebar dan bangku-bangku yang tertata apik. Bahkan, fasilitasnya terbilang mumpuni dengan adanya toilet difabel dan Wi-Fi gratis.

Meski letaknya tepat di seberang hiruk-pikuk Paragon Mall, taman ini menawarkan atmosfer yang sangat kontras. Selain keberadaan patung pahlawan nasional sebagai ikon utama, kehadiran rumah-rumah burung merpati di beberapa sudut memberikan kesan puitis. Alhasil, duduk diam di sini memberikan sensasi seolah sedang berada di taman-taman kota luar negeri yang sering muncul di layar film.

Berhenti sejenak dari keruwetan hidup memang butuh ruang yang sedikit lebih layak daripada sekadar kursi besi di teras Indomaret. Menghabiskan waktu di taman-taman ini bukan sekadar urusan duduk diam, melainkan cara sederhana untuk menjaga kewarasan tanpa harus merasa terintimidasi peluit tukang parkir liar. Sebab, setiap orang berhak atas momen melamun yang berkualitas, di mana satu-satunya gangguan hanyalah guguran daun atau semilir angin sore yang lewat dalam diam.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version