Salah satu menu favorit saya untuk sarapan adalah nasi uduk. Di tempat tinggal dan di sekitar tempat kerja, ada banyak warung yang menyajikannya dengan harga yang ramah di dompet. Itulah, menu ini menjadi favorit banyak pekerja.
Nah, lantaran sering menjadikannya menu sarapan, saya jadi menemukan banyak kekecewaan. Bahkan, kekecewaan ini membuat saya nggak nafsu lagi untuk makan.
Misalnya, ada momen ketika membuka bungkusnya, wangi khas kuliner ini nggak muncul. Padahal, kita semua tahu, nasi uduk itu punya wangi khas. Perpaduan santan, daun salam, serai, dan aroma pandan bikin orang jadi berselera makan.
Oleh sebab itu, supaya kamu tidak mengalami kekecewaan serupa, saya merangkum 4 ciri nasi uduk redflag. Bagi saya, 4 poin ini bikin selera makan jadi hilang.
BACA JUGA: Dua “Genre” Nasi Uduk Jakarta yang Perlu Diketahui Lebih Banyak Orang
#1 Tidak ada aroma khas nasi uduk
Seperti yang saya bilang di awal, nasi uduk itu punya wangi yang khas. Kalau wangi itu nggak kamu temukan, padahal udah telanjur membeli, ya jangan kamu ulangi.
Lalu, bagaimana dengan wangi nanggung? Bagi saya, wangi nanggung itu jadi salah satu tanda bahwa kuliner tersebut bermasalah. Tidak ada aroma santan, baunya cuma nasi putih, dan malah berbau tengik.
Uduk seperti ini terjadi karena santannya terlalu sedikit, atau pakai santan instan tapi terlalu encer. Atau memang penjualnya tidak mahir memasak. Sehingga, hasilnya asal-asalan begitu. Yang ada malah sakit perut.
#2 Rasa gurih nggak muncul
Bagi saya, nasi uduk yang baik punya rasa yang gurih, tapi tidak terlalu dominan yang bikin eneg. Sayangnya, nggak jarang saya menemukan yang rasanya flat. Tidak hambar, tapi juga nggak cukup kuat rasa gurihnya. Kayak samar-sama begitu. Pada akhirnya saya terpaksa menikmatinya dengan bergantung pada lauk dan sambalnya.
Nasib baik ketika lauknya seperti orek tempe, kentang balado, bihun, sayur, atau telurnya enak. Tapi kalau nggak enak, ya udah, harus rela merasakan kombinasi yang nggak kacau banget.
#3 Tekstur yang terlalu lembek dan kering
Nasi uduk yang ideal punya tekstur pulen. Butirannya masih terasa tapi tetap lembut. Ada sedikit berminyak halus dari santannya, tapi tidak bikin kita eneg.
Masalahnya, saya sering menjumpai yang teksturnya ekstrem.. Ada yang terlalu lembek sehingga mirip bubur gagal. Sementara di sisi lain, ada yang terlalu kering dan tidak menyatu sehingga bikin nggak nyaman ketika mengunyah. Yang lebih parah, nasi yang menggumpal karena santannya kebanyakan.
Perkara santan, banyak yang mengira makin banyak santan, rasanya akan makin gurih. Padahal nggak seperti itu.
Santan yang terlalu kental dan banyak justru bikin nasi uduk terasa nggak nyaman di mulut. Awalnya mungkin nikmat, tapi tiga-empat kali suapan akan mulai terasa eneg. Tenggorokan seperti penuh dengan minyak sehingga bikin nggak nyaman.
BACA JUGA: Bihun Goreng Adalah Komponen Terbaik dalam Hidangan Nasi Uduk
#4 Lauk yang nggak mendukung nasi uduk
Nasi uduk tetap butuh lauk. Persoalannya, banyak penjual yang menghadirkan lauk ala kadarnya.
Misalnya, tempe orek yang terlalu kering dan keras, ada yang justru terlalu manis tanpa penyeimbang rasa gurihnya. Bihun goreng yang nggak ada rasanya. Dan, sambal yang hanya jadi hiasan tanpa rasa. Yang ada hanya sensasi pedas.
Ada kalanya telur dadar yang lebih kayak campuran tepungnya daripada telur. Trik begini digunakan supaya penjual dapat lebih banyak margin. Kondisi seperti membuat nasi uduk jadi santapan yang penuh ketimpangan. Jadi kombinasi yang kian absurd ketika nasinya pun bermasalah.
Semua kombinasi di atas membuat nasi uduk yang disantap punya aftertaste yang buruk. Rasa berat, berminyak, dan membuat kita jadi cepat haus. Bahkan nggak jarang jadi serak dan batuk-batuk.
Itulah 4 ciri redflag dari nasi uduk yang bikin nggak nafsu makan. Setidaknya, jangan beli lagi. Jangan sampai, setelah makan bukannya senang dan kenyang, ini malah tersedak dan trauma.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















