Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

Riad oleh Riad
7 Februari 2026
A A
4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kemajuan dan kecanggihan teknologi memang memberikan banyak kemudahan bagi umat manusia. Termasuk dalam urusan membaca buku. Ya, membaca buku di zaman modern seperti sekarang ini sudah sangat praktis. Tidak melulu beli atau pinjam buku fisik, meminjam buku digital pun kini memungkinkan. Salah satunya melalui aplikasi perpustakaan digital nasional milik pemerintah, iPusnas. 

Jujur, saya baru mengunduh aplikasi iPusnas di Play Store seminggu lalu. Ketika baru pertama kali menggunakanya, saya langsung jatuh cinta karena melihat begitu melimpahnya koleksi buku yang ada di perpustakaan digital ini.

Berdasarkan informasi yang saya dapat di website resmi iPusnas disebutkan perpustakaan digital yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional Indonesia ini memiliki koleksi 73.302 judul buku dan koleksi salinan e-book sebanyak 891.397.

Menariknya lagi, dari puluhan ribu koleksi judul buku tersebut semuanya bisa diakses secara cuma-cuma alias gratis. Jadi, jika ada buku yang begitu didambakan untuk dibeli namun belum kesampaian juga karena belum ada budget, iPusnas bisa menjadi jawabannya. Seperti saya yang akhirnya bisa juga menikmati buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori tanpa harus mengeluarkan uang sepersen pun duit berkat perpustakaan digital iPusnas ini.

Walau bisa mengakses buku iPusnas gratis, semakin ke sini saya cenderung memilih membeli buku fisik. Ada beberapa alasannya: 

#1 Waktu pinjam buku iPusnas sangat singkat 

Pertama, batas waktu pinjam buku di iPusnas sangat singkat. Saya tuh sebenarnya tipe orang yang tidak bisa betah berlama-lama ketika membaca buku. Selain karena gampang terdistraksi, membaca buku juga membuat saya cepat mengantuk. Baru satu dua halaman yang dibaca, eh, tiba-tiba saja rasa kantuk datang menyerang tanpa aba-aba. Akhirnya, membaca buku pun terpaksa terhenti.

Hal itulah yang membuat saya jadi lama menyelesaikan satu buku yang saya baca. Itu mengapa, saya langsung merasa tidak cocok dengan iPusnas saat melihat aturan batasan hari meminjam buku di aplikasi ini. Satu buku tidak lebih dari 5 hari. 

Sementara, untuk menambah masa pinjaman buku di iPusnas itu juga tidak bisa langsung dan bukunya akan dikembalikan secara otomatis oleh sistem. Terlebih lagi jika buku yang dipinjam waiting list-nya sampai ribuan orang. Dan, kalaupun bisa langsung memperpanjang masa pinjam, tetap saja hal ini belum bisa menjadi solusi jitu bagi saya yang orangnya tidak enakan.

Baca Juga:

iPusnas, Aplikasi Perpustakaan Nasional Gratisan yang Sering Bikin Patah Hati

Perpustakaan di Indonesia Memang Nggak Bisa Buka Sampai Malam, apalagi Sampai 24 Jam

Saya tidak tega melihat orang lain di daftar antrean lama menunggu giliran untuk meminjam buku yang sedang saya pinjam. Saya tidak ingin dituduh sebagai pengguna (baca: pembaca) yang tidak memiliki rasa empati kepada orang lain hanya gara-gara saya memperpanjang masa pinjam buku yang sedang saya baca.

Itu mengapa, biar lebih nyaman dan leluasa, mendingan saya langsung beli buku fisiknya aja sekalian. Tidak apa-apa kalau harus menabung dulu. Paling tidak, dengan memiliki bukunya langsung saya tidak merasa sedang diburu waktu dan tidak perlu memikirkan perasaan orang lain ketika membacanya.

#2 iPusnas sering eror

iPusnas sering eror. Januari lalu, ada tulisan yang terbit di Terminal Mojok yang ditulis oleh Mbak Butet RSM terkait keresahannya terhadap iPusnas yang sering eror. Apa yang dialami oleh Mbak Butet juga saya rasakan. Bahkan, sistem yang eror itu sudah terjadi saat saya baru bikin akun. Untungnya tidak lama setelah itu iPusnas pulih dan akun saya berhasil dibuat.

Akan tetapi, baru dua hari saya gunakan aplikasinya, iPusnas kembali eror. Saat masuk ke aplikasi tidak ada satu pun gambar sampul buku yang terlihat selain lingkaran biru yang berputar-putar. Itu pertanda aplikasi sedang tidak baik-baik saja. 

Saya kemudian mematikan koneksi internet dan mengaktifkan mode pesawat, lalu mematikan mode pesawat dan mengaktifkan kembali koneksi internet. Mungkin sinyal di HP saya yang tidak bagus, sehingga aplikasi iPusnas tidak bisa saya buka. Begitu pikir saya.

Akan tetapi, setelah melakukan cara tersebut dan melihat aplikasi lainnya lancar-lancar saja, di titik itulah saya menyadari bahwa bukan sinyalnya perkaranya. Perpustakaan digital yang memang sedang eror. Dan, kalian tahu? Sampai tulisan ini selesai iPusnas belum juga bisa saya buka karena masih eror.

Pemerintah sebagai penyedia aplikasi ini tampaknya tidak benar-benar tulus untuk memberikan bacaan gratis kepada warganya. Melihat iPusnas yang sering eror saya semakin yakin untuk membeli buku fisik saja. Kalau buku fisik paling yang eror adalah orangnya yang memang malas baca. 

#3 Boros kuota internet

Sebagai aplikasi daring, iPusnas tentu memerlukan kuota internet untuk bisa menggunakannya. Apalagi kalau mau meminjam buku terlebih dahulu harus diunduh dulu. Bahkan, buku yang dipinjam dan sudah diunduh itu harus diunduh ulang ketika masuk kembali ke aplikasi.

Saya kurang tahu ya apakah ada pengguna lain yang cuma sekali saja mengunduh buku yang ia pinjam. Yang jelas setiap kali masuk ke aplikasi iPusnas, buku yang sudah saya pinjam dan saya unduh sebelumnya harus saya unduh ulang lagi. Hal ini tentu akan menjadi beban tersendiri terutama bagi mereka yang kuota internetnya lagi sekarat di akhir bulan. Walaupun kuota internet yang diperlukan untuk bisa meminjam buku di iPusnas hanya sedikit, tapi, ya, lama-lama, kan, jadi banyak juga. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Nah, beda halnya jika yang dibeli buku fisik. Biaya yang dikeluarkan hanya sekali doang, yakni pada saat proses transaksi beli bukunya. Setelah itu, bukunya bebas mau kita apakan. Apakah langsung membacanya atau malah melupakannya dan membiarkannya tergeletak di atas meja entah sampai kapan dalam keadaan masih terbungkus plastik.

#4 Beli buku  agar bisa punya perpustakaan sendiri

Terakhir, setelah dipikir-pikir lagi, saya mending membeli buku fisik hitung-hitung bisa nyicil mimpi saya memiliki perpustakaan. Kecil juga tidak apa-apa, yang penting koleksi bukunya selalu update. Itu mengapa sejak bekerja dan punya pendapatan sendiri, saya mulai mengupayakan untuk membeli minimal 2 buku dalam sebulan. 

Itulah kira-kira alasan saya mengapa lebih memilih membeli buku fisik daripada meminjam buku di iPusnas. Btw, kalian sedang baca buku karya siapa nih di iPusnas? Oh, iya, lupa. Aplikasinya masih eror, ya? Hiks~

Penulis: Riad
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Perpustakaan di Indonesia Memang Nggak Bisa Buka Sampai Malam, apalagi Sampai 24 Jam.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2026 oleh

Tags: Bukubuku digitalbuku fisikipusnasPerpustakaanperpustakaan digital
Riad

Riad

Hanya manusia biasa.

ArtikelTerkait

enid blyton lima sekawan mojok

Lima Sekawan, Buku yang Berjasa Memberi Warna Indah pada Dunia Anak

22 Agustus 2021
Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh Terminal Mojok jurusan ilmu perpustakaan

Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh

15 September 2022
5 Aplikasi Baca Buku Digital, Murah dan Legal Terminal Mojok

5 Aplikasi Baca Buku Digital yang Murah dan Legal

6 Juli 2022
Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

23 Desember 2025
menulis

Andai Budaya Menulis Seperti Budaya Komentar

25 April 2023
5 Buku yang Bisa Dibaca untuk Menemanimu Kala PPKM Darurat terminal mojok

5 Buku yang Bisa Dibaca untuk Menemanimu Kala PPKM Darurat

3 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.