Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

4 Alasan Bahasa Sunda Loma Bukan Bahasa Rendahan

Irvan Hidayat oleh Irvan Hidayat
4 Januari 2021
A A
Panduan Menggunakan Kata ‘Akang’ buat Orang Non-Sunda terminal mojok.co

Panduan Menggunakan Kata ‘Akang’ buat Orang Non-Sunda terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Hari ini kita mengenal bahasa Jawa sebagai bahasa yang dituturkan oleh mayoritas penduduk di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sementara orang di Jawa Barat (Jabar) mayoritas berbahasa Sunda.

Ternyata tidak hanya bahasa Jawa yang feodalistis, bahasa Sunda pun demikian, sehingga ada istilah undak usuk basa. Undak usuk basa secara umum terbagi dua yaitu, bahasa Sunda lemas dan Sunda loma. Bahasa lemes biasa digunakan saat berkomunikasi dengan yang lebih tua dan bahasa loma dituturkan saat bicara dengan teman sebaya. Itu aturan main yang ada di Sunda.

Namun, aturan main itu tidak benar-benar berlaku di seluruh Jabar, seperti yang terjadi di Bogor dan sebagian wilayah Banten. Ingat, dahulu Banten masih bagian Jabar sebelum memisahkan diri tahun 2000. Bogor dan sebagian wilayah Banten, seperti Pandeglang, Lebak, dan Kabupaten Tangerang dikenal dengan penutur bahasa Sunda loma. Di wilayah ini dalam keseharian penerapan undak usuk basa tidak kentara.

Berbicara dengan orang tua ataupun sebaya hampir sama, hanya sebagian kecil kata yang dikhususkan saat bicara dengan orang tua. Selebihnya hanya soal pemantasan intonasi bicara. Inilah alasan empat bahasa Sunda loma bukan bahasa rendahan.

#1 Penutur bahasa loma bukannya tidak sopan, tapi sudah kebiasaan

Sebagai penutur bahasa loma yang telah terbiasa dalam kesehariannya, sulit untuk mengubah penuturannya saat berkomunikasi dengan orang Sunda berbahasa lemes. Misalnya, saat orang Bogor atau Pandeglang bertemu dengan orang Tasik, Garut, atau Bandung yang notabene penutur Sunda lemes. Orang Bogor tetap akan menggunakan bahasanya, kendati berusaha untuk menyesuaikan diri tetap saja logat dan bahasa aslinya sulit dihilangkan.

Jika orang Garut, Tasik, atau Bandung mendayu-dayu saat bicara, orang Bogor lebih lurus dan tegas. Akibat perpaduan bahasa loma dan intonasinya tersebut, tak jarang orang Bogor mendapat stigma sebagai pengguna bahasa yang tidak sopan. Bahkan ada yang menyamakan bahasa loma dengan sebutan bahasa kasar.

Naasnya, orang Bogor dan Banten malah mengamini stigma bahwa loma adalah kasar dan kasar itu tidak sopan. Walhasil banyak dari orang penutur bahasa loma lebih memilih bahasa Indonesia saat bertemu dengan rekannya yang berbahasa lemes. Padahal keduanya akan lebih akrab jika sama-sama menggunakan bahasa Sunda. Apalagi kalau sedang di perantauan. Sesama orang Sunda bertemu terasa seperti saudara.

#2 Bahasa loma sudah ada sejak Kerajaan Pajajaran

Sedikit menarik benang merah kenapa orang Bogor dan sebagian Banten sekarang berbahasa loma. Di seantero Jabar hampir tidak ada yang tidak mengenal Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sunda yang berdiri sejak pertengahan abad ke-14 ini menjadi kebanggan masyarakat Sunda. Meskin sudah sirna ing jagat (runtuh) di akhir abad ke-16 namanya masih banyak dipakai untuk nama jalan, nama gedung, bahkan nama kampus (Universitas Padjajaran).

Baca Juga:

20 Kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda yang Penulisan dan Bunyinya Sama, tapi Maknanya Jauh Berbeda

Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Bogor pernah menjadi pusat pemerintahan Pajajaran dengan rajanya yang terkenal Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di Pajajaran, sang raja sendiri menggunakan apa yang sekarang disebut dengan bahasa loma yang sebagian besar sudah sulit dipahami.

Menyitir Saleh Danasasmita dalam bukunya yang berjudul “Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi,” ia mengatakan bahwa dalam prasasti Batutulis Bogor terdapat tulisan,

“Prebu Ratu purané pun diwastu diya wingaran Prebu Guru Déwataprana diwastu diya wingaran Prebu Guru Déwataprana diwastu diya di ngaran Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Déwata.”

(Ini tanda peringatan, Prabu Ratu alamarhum, beliau dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewata Prana, dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Adil di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata).

Prasasti ini menggunakan bahasa Sunda kuno yang sulit dimengerti orang awam, baik penutur bahasa lemes atau loma. Saya hanya menggarisbawahi kata diya (dia) dan ngaran (nama).

Kata itu masih digunakan oleh penutur loma, diya atau sia, dan ngaran masih sering digunakan penutur loma sampai hari ini. Sementara penutur lemes akan menggunakan kata anjén dan nami/jenengan.

#3 Bahasa loma adalah karakter Sunda yang egaliter

Dahulu masyarakat Sunda terkenal dengan konsep hidup yang egaliter. Kehidupannya ngahuma (berladang) menjadi karakter orang Sunda di masa lalu. Tipologi masyarakat huma lebih banyak tinggal di ladang dari pada bermukim di perkampungan. Ini pulalah yang memengaruhi perkembangan bahasa mereka. Minimnya interaksi antar warga membuat perkembangan bahasa berjalan lamban sehingga bahasa yang dipakai sangat sederhana.

Bahasa Sunda menjadi bervariasi setelah masyarakat hidup dengan banyak berinteraksi. Undak-usuk basa yang ada sekarang pun disinyalir karena terpengaruh bahasa Jawa yang feodalistis. Budayawan sekaligus mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan bahasa Sunda dahulu tidak mengenal stratifikasi, baru belakangan ada tingkatan bahasa dan itulah yang menyebabkan orang Sunda banyak yang enggan menggunakannya.

#4 Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung

Undak-usuk basa sudah lama diperkenalkan dan tidak mungkin dihapus lalu mengatakan, “Tidak perlu ada tingkatan bahasa, semuanya sama.” Orang Sunda dengan penutur bahasa lemes yakin bahwa undak-usuk basa itu penting, sementara penutur bahasa loma tidak terlalu memusingkannya. Keduanya punya prinsipnya masing-masing dan jangan lupa bahasa itu arbitrer. Bahasa sebagai produk budaya juga dinamis, ia akan selalu melakukan penyesuaian sesuai dengan zamannya.

Penutur bahasa loma dan lemes hanya perlu sadar diri, di mana dirinya berada. Seperti peribahasa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” itu yang harus dilakukan orang Sunda sekarang. Terlebih stigma kasar dan halus itu juga subjektif, yang terpenting adalah bahasa Sunda tetap dituturkan agar tidak hilang ditelan zaman.

BACA JUGA Dilema Orang Cirebon: Sunda di Tanah Jawa, Jawa di Tanah Sunda dan tulisan Irvan Hidayat lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2021 oleh

Tags: Bahasa Sundaloma
Irvan Hidayat

Irvan Hidayat

Penulis lepas, suka bertani, masak, dan traveling ke pelosok.

ArtikelTerkait

5 Makna Kata Anjing dalam Bahasa Sunda, Pahami biar Kalian Nggak Dikeroyok Gara-gara Asal Ngomong, Anjing!

5 Makna Kata Anjing dalam Bahasa Sunda, Pahami biar Kalian Nggak Dikeroyok Gara-gara Asal Ngomong, Anjing!

27 Februari 2024
5 Basa-basi Bahasa Sunda, Panduan bagi Pendatang agar Tidak Dikira Sombong  Mojok.co

5 Basa-basi Bahasa Sunda, Panduan bagi Pendatang agar Tidak Dikira Sombong 

16 November 2023
Sejarah ‘Ayang-ayang Gung’, Lagu Anak Sunda tentang Bangsawan yang Haus Kekuasaan terminal mojok

Sejarah ‘Ayang-ayang Gung’, Lagu Anak Sunda tentang Bangsawan yang Haus Kekuasaan

7 Juni 2021

3 Singkatan Bahasa Sunda yang Biasa Digunakan para Sundanese

14 Desember 2021
9 Kuliner Cirebon yang Layak Dikenal Lebih Luas selain Empal Gentong dan Nasi Jamblang Mojok.co

Privilege Jadi Orang Cirebon yang Tidak Dimiliki Daerah Lain, Bisa Jadi Bunglon!

16 September 2025
15 Kosakata Bahasa Sunda yang Susah Diartikan ke Bahasa Indonesia. Orang Sunda Juga Bingung Menjelaskannya

15 Kosakata Bahasa Sunda yang Susah Diartikan ke Bahasa Indonesia. Orang Sunda Juga Bingung Menjelaskannya

25 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Setuju Usulan Dedi Mulyadi, Teras Cihampelas Lebih Baik Dirobohkan Saja

Saya Setuju Teras Cihampelas Dirobohkan, dan Tata Lagi Jalan Cihampelas agar Jadi Lebih Menarik

28 Januari 2026
Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash)

Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic

25 Januari 2026
Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

30 Januari 2026
5 Kebohongan Malang yang Perlu Sedikit Diluruskan Mojok.co

5 Kebohongan Malang yang Perlu Sedikit Diluruskan

25 Januari 2026
Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto” Mojok.co

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

25 Januari 2026
Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.