3 Alasan Romantisme Bandung Akan Luntur, Ketika Menginjakan Kaki di Kecamatan Cibiru

3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

Bandung itu romantis, katanya. Sebuah dongeng indah terbangun di atas keindahan alam, kesejukan, dan deretan gedung warisan kolonial berarsitektur Art Deco. Namun, dongeng itu akan langsung luntur begitu Anda menginjakkan kaki di Kecamatan Cibiru.

Sebagai gerbang “wilujeng sumping” di Kota Bandung sebelah timur, Cibiru tidak akan menyambut Anda dengan pelukan hangat atau senyuman puitis. Di sini, romansa itu menguap, berganti dengan potret perjuangan hidup yang keras, berdebu, dan siap merenggut masa muda.

#1 Bundaran Cibiru, monumen kesabaran yang bisa merenggut masa muda remaja Bandung

Begitu roda kendaraan melewati batas kota, secara teoretis, kalimat “Wilujeng Sumping di Kota Bandung” akan menyambut Anda. Namun, realitas di lapangan langsung menampar ekspektasi itu. 

Sambutan yang Anda terima bukan senyuman ramah. Anda akan mendapat sambutan kepulan asap knalpot, barisan lampu rem yang menyala merah, dan lautan macet.

Bundaran Cibiru adalah titik pertama yang melunturkan segala ilusi tentang keindahan kota Paris van Java. Di sinilah titik pertemuan tak terhindarkan bagi berbagai jenis kendaraan dari arah Sumedang, Garut, dan Kabupaten Bandung yang beradu nasib untuk keluar dan masuk ke jantung Kota Bandung.

Kekacauan di bundaran ini adalah perpaduan sempurna dari berbagai masalah kronis Kota Bandung. Kemacetan kian parah oleh barisan angkot yang ngetem sembarangan tepat di sisi bunderan Cibiru. Mereka menunggu penumpang dengan santainya seolah waktu tidak pernah berputar.

Kondisi kemacetan di Bundaran Cibiru ini akan mencapai puncaknya jika musim wisuda UIN Sunan Gunung Djati tiba. Volume kendaraan akan melonjak drastis, hingga terjadi antrean panjang mengular. 

Di Bundaran ini tak ada ruang untuk romantis, saat Anda terjepit di antara truk tronton, bus, angkot, dan debu jalanan. Di Bunderan Cibiru, perasaan bisa berubah jadi emosi jiwa hanya dalam satu putaran macet yang tak berujung.

#2 Jangan harap menginjakan kaki di Kecamatan Cibiru disambut pohon rindang dan bangunan ikonik kolonial

Berbeda dengan wilayah pusat atau utara Bandung, Cibiru tidak menawarkan pemandangan pohon-pohon besar yang rindang dan bangunan gaya art Deco kolonial di sepanjang jalan protokol. Jangan berekspektasi terlalu tinggi mendapat sambutan pohon-pohon rindang. 

Estetika Cibiru adalah estetika yang mengutamakan fungsi di atas seni. Sebuah kawasan yang tumbuh dengan liar tanpa memperhatikan tata kota yang puitis, apalagi romantis.

Pemandangan di sini berisi deretan ruko beton yang kaku, kabel listrik yang bergelayutan semrawut, dan debu dari berbagai jenis kendaraan serta proyek. Kecamatan Cibiru seolah tidak peduli pada aspek keindahan arsitektur. 

#3 Di Cibiru banyak zona merah yang tidak bisa dimasuki ojek online

Di pusat kota, transportasi online mungkin menjadi simbol kemudahan warganya. Namun, di Kecamatan Cibiru, ia adalah sumber kecemasan tersendiri bagi para pengemudinya dan warga yang ingin menggabungkan jasanya. 

Ada banyak zona merah alias titik-titik sensitif. Ojek online dilarang keras mengambil penumpang demi menghormati wilayah ojek pangkalan (opang).

Sebagai pengemudi ojol di Bandung, saya yang ingin melewati atau bahkan sekadar mendekati area seperti pangkalan ojek Manisi atau pangkalan ojek Cipadung di Kecamatan Cibiru adalah ujian nyali. 

Jangankan untuk mengambil penumpang melewati ojek pangkalan. Memakai atribut lengkap seperti jaket hijau atau helm kebesaran saja saya tidak berani.

Dapat orderan ke sana pilihannya hanya dua: melepas identitas ojol atau menyamar sebagai warga. Jangan nekat karena kamu akan menanggung risiko mendapat teguran, bahkan bisa berkonflik dengan opang. 

Pada akhirnya, Kecamatan Cibiru adalah gerbang masuk Kota Bandung yang paling jujur. Kecamatan ini tidak menawarkan keindahan, melainkan memperlihatkan wajah macet, padat, berdebu tanpa kenal kompromi, dan rawan konflik horizontal.

Penulis: Acep Saepulloh

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Pemerintah Kota Bandung: Tolong Atasi Kemacetan di Bunderan Cibiru!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version