Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

3 Alasan Mengapa Persepsi Uang Panai’ Mahal Itu Wajar

Muh Ainul Haq Hakim Tiro oleh Muh Ainul Haq Hakim Tiro
27 Agustus 2021
A A
3 Alasan Mengapa Persepsi Uang Panai' Mahal Itu Adalah Kewajaran terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang Makassar yang berkuliah di tanah Jawa, salah bentuk penasaran teman-teman seperkuliahan saya tidak jauh dari soal uang panai’, selain tentu soal cita rasa coto Makassar maupun kuliner Makassar lainnya. Banyak yang bertanya untuk mencari tahu, pun banyak yang datang untuk menggoda. Pertanyaan semacam berapa standar uang panai’ hingga tudingan bahwa tujuan berkuliah di Jawa adalah untuk menghindar dari kewajiban uang panai’ dan berlari ke gadis Jawa adalah segelintir dari bentuk penasaran hingga lelucon dari teman-teman di warung kopi.

Uang panai’ sejatinya merupakan uang yang wajib diserahkan pihak laki-laki sebagai bentuk penghargaan kepada perempuan yang hendak diperistri. Kalau bisa dibilang, ia merupakan salah satu tantangan awal rasa cinta yang juga merupakan tanda pengorbanan dan perjuangan seorang laki-laki. Ia merupakan lambang penghargaan, pengorbanan, dan perjuangan tentang betapa mulianya seorang wanita.

Masalah mulai muncul ketika proses negoisasi uang panai’ tak menemui titik sepakat, sehingga pernikahan tak dapat dilaksanakan atau cinta terpaksa bertepuk sebelah tangan. Ditepuk uang, hehehe. Nah, bagi banyak calon pasangan yang ingin tetap melawan, akhirnya terpaksa memilih jalur kawin lari, yang dalam bahasa Makassar dikenal dengan istilah silariang. Dalam budaya Makassar, silariang merupakan tindakan siri’ (memalukan) bagi keluarga manapun. Tak hanya berhenti sampai di situ, tingginya nominal uang panai’ membuat kejadian bunuh diri hingga pembakaran rumah tak dapat dihindarkan. Mudah sebenarnya untuk diketahui, cukup googling dan cari dengan kata kunci “masalah karena uang panai”.

Nilai yang terkandung di dalam uang panai’ memang mulia karena merupakan bentuk penghargaan terhadap kaum perempuan, tetapi pergeseran nilai juga bisa menjadi perdebatan melihat dampaknya hari ini. Kita bisa lihat beragam penelitian tentangnya dari multiperspektif keilmuan, dan beberapa di antaranya mendukung terjadinya pergeseran nilai luhur menuju sekedar masalah gengsi.

Yansa dkk. (2017) menuturkan bahwa nilai uang panai’ sangat ditentukan dari status sosial seperti keturunan, pendidikan, status ekonomi, kondisi fisik, dan pekerjaan. Coba yuk kita bedah mengapa nominal uang panai’ menjadi sangat tinggi hingga dianggap cukup meresahkan?

#1 Inflasi dan nilai riil mata uang

Bisa jadi nominal uang panai’ hari ini terlihat atau terasa mahal karena kita secara intutitif membandingkannya dengan zaman ketika kakak, orang tua, hingga nenek kita menikah. Nenek kayaknya memang kejauhan, deh. Hehehe. Kenaikan nominalnya bisa jadi disebabkan oleh inflasi, yaitu kondisi di mana terjadi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu.

Sebagai contoh, ketika berada di era Abang kita yang coba diasumsikan terjadi pada tahun 2010, nilainya masih sebesar 75 juta. Sedangkan saat giliran kita pengin nikah, nilainya naik hingga 100 juta. Kondisi tersebut mungkin saja terjadi bukan hanya karena faktor sosial budaya, melainkan disebabkan oleh peningkatan harga-harga yang membuat nilai riil 75 juta saat itu dan saat ini sudah sangat jauh berbeda.

Saat itu, dengan 75 juta sejatinya sudah cukup menjadi gambaran untuk mempelai pria mampu membeli rumah untuk pujaannya. Namun saat ini? Mungkin itu terlalu rendah. Begitu kiranya faktor inflasi mempengaruhi persepsi akan kenaikan uang panai’. Mungkin saja itu terlihat mahal karena kita membandingkan dengan perasaan terhadap nilai nominal yang tertera pada uang kertas, yang nilai riil atau kemampuan daya belinya sudah sangat jauh berbeda.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

#2 Pendidikan

Mungkin kalau ditanya kenapa uang panai’ semakin mahal, jawaban lainnya juga karena semakin banyak orang yang bisa menggapai pendidikan yang tinggi, terkhusus dalam hal ini kaum perempuan. Ini adalah hal yang positif, tapi kondisi ini sekali lagi memberi perbedaan dengan kondisi masa lalu di mana pendidikan adalah hal yang langka, terlebih bagi perempuan.

Sebagai bukti, nih, Statistik Pendidikan Tinggi menunjukkan bahwa saat ini di Sulawesi Selatan, sudah terdapat 265 perguruan tinggi. Banyaknya perguruan tinggi menunjukkan akses pendidikan yang lebih luas dan juga peminat yang lebih banyak. Yang menjadi masalah adalah semisal ketika tingginya tingkat pendidikan tidak mendukung pada peningkatan kesejahteraan, hehehe.

#3 Kondisi fisik

Saya rasa variabel ini juga memberi dorongan kuat pada lebih tinggi dan meratanya penetapan uang panai’ di era saat ini. Mengapa? Karena teknologi kecantikan untuk memperindah dan merawat diri sudah semakin baik. Berbeda dengan kondisi dulu di mana kondisi cantik memang tak banyak dipengaruhi teknologi, sehingga kecenderungannya era sekarang lebih banyak menghasilkan “orang cantik” dibanding dengan dulu. So, kalau pengaruh kondisi fisik berpengaruh, tak heran jika melihat kondisi uang panai’ sekarang.

Saya kira tiga aspek di atas sangat mempengaruhi persepsi pada fenomena mahalnya uang panai’ di Makassar. Kalau ada lagi, nanti coba dilanjutkan. Sebenarnya, nih, di satu sisi saya melihat ada perubahan kesejahteraan ke arah yang lebih baik. Namun di sisi lain, uang panai’ semakin mahal karena faktor gengsi yang tak dapat dihindarkan melihat status sosial yang terus meningkat. Pesatnya perkembangan membuat banyak akulturasi terjadi pada budaya kita, beberapa dipertahankan, namun tak sedikit yang perlu dikritisi kesahihan esensinya. Semangat, pejuang uang panai’! Hehehe.

BACA JUGA Pengin Kawin, tapi Nggak Punya Mas Kawin! dan tulisan Muh Ainul Haq Hakin Tiro lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 Agustus 2021 oleh

Tags: makassarPernikahanpilihan redaksiuang panai'
Muh Ainul Haq Hakim Tiro

Muh Ainul Haq Hakim Tiro

Mahasiswa Ekonomi.

ArtikelTerkait

5 Rumah Tua Bersejarah di Gunungkidul yang Layak Dikunjungi Terminal Mojok

5 Rumah Tua Bersejarah di Gunungkidul yang Layak Dikunjungi

23 Maret 2022
Kupat Tahu Bukan Makanan Khas Magelang Paling Enak, Ada Kuliner Lain yang Rasanya Tak Kalah Sedap

Kupat Tahu Bukan Makanan Khas Magelang Paling Enak, Ada Kuliner Lain yang Rasanya Tak Kalah Sedap

22 November 2023
Pantangan Menikah Ngalor Ngulon bagi Masyarakat Jawa

Sebambangan: Solusi Tingginya Biaya Nikah Orang Lampung

6 Mei 2020
5 Hal yang Bikin Tinggal di Surabaya Itu Perlu Disyukuri Terminal Mojok.co

5 Hal yang Bikin Tinggal di Surabaya Itu Perlu Disyukuri

1 Maret 2022
Festival Memet Ikan, Tradisi Penggerak Ekonomi dan Gizi Baik dari Desa Gemblegan Klaten

Festival Memet Ikan, Tradisi Penggerak Ekonomi dan Gizi Baik dari Desa Gemblegan Klaten

30 Juli 2024
Ungkapan Bahasa Sunda yang Wajib Diketahui Penutur Non-Sunda terminal mojok

Ungkapan Bahasa Sunda yang Wajib Diketahui Penutur Non-Sunda

29 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.