Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

3 Alasan Line Semakin Ditinggalkan Penggunanya

Muhammad Iqbal Habiburrohim oleh Muhammad Iqbal Habiburrohim
23 Januari 2021
A A
3 alasan line semakin ditinggalkan pengguna mojok

3 alasan line semakin ditinggalkan pengguna mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sosial media saat ini semakin berkembang dengan berbagai inovasi yang menarik. TikTok misalnya yang dulunya mungkin dihina dan dianggap sebagai aplikasi milik orang alay nyatanya bisa melakukan gebrakan hingga akhirnya mendapatkan pasar yang sangat luas. Selain itu, ada pula WhatsApp yang dulunya kalah saing dengan BBM, namun akhirnya bisa mendominasi dan mungkin sekarang hampir semua orang menginstall aplikasi ini dalam ponsel pintar mereka.

Ketika ada aplikasi yang mendominasi, tentunya berdampak pula terhadap aplikasi lain yang semakin menurun jumlah penggunanya. Aplikasi Line yang dulunya ikut bersaing di papan atas sosial media bersama WhatsApp dan Instagram, kini malah semakin ditinggalkan oleh penggunanya. Line dulunya dianggap menarik karena menyajikan stiker lucu dan juga banyak terhubung dengan banyak game menarik seperti Let’s Get Rich dan Cookie Run.

Sampai sekarang, saya sendiri masih menggunakan aplikasi ini karena banyak grup di kampus seperti organisasi yang masih menggunakan grup ini untuk berkoordinasi walaupun intensitas saya dalam menggunakan aplikasi ini memang berkurang drastis sejak satu tahun belakangan. Saya pun mengamati jika sudah banyak pengguna aplikasi ini yang akhirnya beralih dan nggak menjadikan aplikasi ini sebagai sosial media utama yang mereka mainkan.

Hal itu bisa saya simpulkan dengan banyaknya teman saya yang menuliskan nomor handphone di status agar dapat menghubungi mereka lewat aplikasi lain. Padahal, sebenarnya mereka bukan orang yang penting-penting amat, tapi sok aja ngasih nomor telepon aja hehehe~

Kemudian, saya bertanya kepada beberapa teman saya tersebut untuk menanyakan alasan mereka slow respon di aplikasi ini. Hal menarik yang saya temukan adalah mayoritas dari mereka memiliki jawaban yang cukup mirip.

Semakin rumit

Update yang ditawarkan semakin lama memang semakin rumit hingga akhirnya menghilangkan kesan simpel yang dulunya dimiliki aplikasi ini. Menurut saya Line justru malah berfokus ke Line Today sehingga menggabungkan fitur ini ke dalam aplikasi yang menurut saya cukup membingungkan.

Line sendiri memberikan fitur timeline agar penggunanya bisa share sesuatu, tetapi secara bersamaan juga menawarkan artikel singkat yaitu Line Today yang juga digabungkan ke satu aplikasi. Mungkin maksud dari developer adalah ingin membuat penggunanya semakin betah untuk tetap menggunakan aplikasi ini, tetapi justru fitur timeline yang dulunya menjadi kekuatan tertutup dengan hadirnya Line Today.

Menurut pendapat saya pribadi, Line Today adalah sebuah terobosan yang baik. Akan tetapi, mungkin ada baiknya jika Line Today tidak dijadikan sebuah fitur tambahan di dalam aplikasi agar nggak mengurangi keseruan timeline sendiri yang sebenarnya masih menarik untuk diikuti.

Baca Juga:

10 Keunggulan Telegram Dibandingkan WhatsApp

5 Alasan Orang Mute Status WhatsApp

Kehilangan identitas

Mungkin alasan yang satu ini masih berhubungan dengan alasan pertama di mana semakin bertambahnya fitur, akan semakin membuat ciri khas menghilang. Line yang dulunya dikenal dengan aplikasi remaja khas dengan stiker lucu dan timelinenya yang ramai tiba-tiba hilang begitu saja. Line berubah menjadi aplikasi rumit dengan banyak fitur baru gaje yang malah membuat aplikasi ini makin kehilangan jati dirinya.

Menengok aplikasi lain seperti WhatsApp yang tetap mempertahankan ciri khasnya yaitu sosial media simpel tanpa embel-embel seperti fitur dan timeline yang rumit sampai-sampai dijuluki aplikasi khas orang tua karena fiturnya yang benar-benar simpel. Namun, nyatanya WhatsApp malah semakin digemari karena identitas yang dimilikinya tersebut, bahkan oleh anak muda sekali pun.

Line sepertinya kudu memutar otak untuk mengembalikan jati diri yang hilang tersebut. Sekarang, untuk dibilang aplikasi chatting, aplikasi ini memiliki Line Today yang punya fungsi informatif. Akan tetapi, jika mau menganggap Line sebagai aplikasi informatif pun belum pas juga karena masih memiliki fungsi chatting. Kalau begini terus, Rizal Armada cuma bisa nyanyi, mau dibawa kemana aplikasi ini.

Memakan memori hape

Masih berhubungan dengan alasan sebelumnya, semakin bertambahnya fitur, memori yang termakan pun akan semakin banyak. Beberapa teman saya mengaku bahwa memori yang mereka habiskan untuk aplikasi Line mencapai lebih dari tiga giga. Padahal, intensitas chatting mereka di aplikasi ini nggak sesering di aplikasi lain.

Hal tersebut menyebabkan para pengguna menjadi pikir dua kali untuk tetap menginstall aplikasi ini di dalam hape mereka. Pikiran mereka kurang lebih “daripada memori hapeku penuh gara-gara aplikasi yang jarang dipakai, mending tak uninstall sekalian aja”, begitu kira-kira. Kebanyakan dari mereka akhirnya akan lebih memprioritaskan aplikasi lain yang lebih sering mereka pakai.

Apalagi untuk seorang cowok yang pastinya membutuhkan banyak penyimpanan kosong untuk nantinya diisi dengan video aneh-aneh. Video anak yang dikutuk menjadi ikan pari misalnya. Pokoknya aneh-aneh, deh~

Meski begitu, saya tetap mengakui bahwa aplikasi ini adalah salah satu media sosial yang saya sukai karena keunikannya. Saya cuma bisa berharap bahwa Line akan melakukan perubahan agar nantinya aplikasi ini tetap hidup. Saya pengin Line kembali dengan bahasan-bahasan menarik lainnya yang pastinya jauh dari netizen pantat tipis dan para SJW.

BACA JUGA Bagi Saya, Operasi Masker Itu Sangat Tidak Efektif atau tulisan Muhammad Iqbal Habiburrohim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2021 oleh

Tags: aplikasi chatLINE
Muhammad Iqbal Habiburrohim

Muhammad Iqbal Habiburrohim

Seorang lokal Yogyakarta yang menjalani hidup dengan rute yang dinamis. Berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain demi tuntutan profesi, sembari merawat kewarasan dengan menumpahkan segala keluh kesah ke dalam barisan kata.

ArtikelTerkait

7 Aplikasi Chat Alternatif untuk Pindak dari WhatsApp yang Sudah Makin Aneh terminal mojok.co

7 Aplikasi Chat Alternatif untuk Pindah dari WhatsApp yang Sudah Makin Aneh

6 Februari 2021
aplikasi chat

Memahami Perbedaan Gaya Chatting Tiap Individu

14 Mei 2019
people nearby

People Nearby: Sebuah Sensasi Mencari Cinta Baru

8 Oktober 2019
Orang Posting Status Screenshot WhatsApp Itu Motiavasinya Apa sih?! mojok.co/terminal

Orang Posting Status Screenshot WhatsApp Itu Motivasinya Apa sih?!

11 Maret 2021
4 Komik Seru di Webtoon yang Mengajarkan Kita untuk Menahan Diri dari Berbagai Godaan MOJOK.CO

4 Komik Seru di Webtoon yang Mengajarkan Kita untuk Menahan Diri dari Berbagai Godaan

22 Agustus 2020
10 Keunggulan Telegram yang Nggak Bisa Kita Temukan di WhatsApp Terminal Mojok

10 Keunggulan Telegram Dibandingkan WhatsApp

11 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

27 Maret 2026
Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Purwokerto Murah? Murah untuk Siapa? Kenapa Warga Asli Tidak Merasakannya?

27 Maret 2026
5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli

28 Maret 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Culture Shock Fresh Graduate yang Mengadu Nasib di Jakarta: Baru Sampai Langsung Ditipu Driver Ojol, Ibu Kota Memang Lebih Kejam daripada Ibu Tiri!

26 Maret 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Keluarga di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.