Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

20 Tahun Setelah Petualangan Sherina, Lembang Benar-benar Berubah

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
12 Maret 2021
A A
lembang petualangan sherina mojok

lembang petualangan sherina mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai generasi 90an, saya ingat betul salah satu film paling berkesan yang saya tonton sepanjang hidup saya. Film itu adalah Petualangan Sherina. Saya tidak menontonnya di bioskop, hanya menontonnya di VCD beberapa bulan setelah tayang di bioskop. Yang membuat saya terkesan tentu saja adalah jalan cerita yang begitu indah tentang cinta dan persahabatan, lagu-lagu yang dibawakan Sherina yang sangat berkesan, dan juga Bandung—lebih banyak di Lembang sih—sebagai setting film ini yang membuat seolah saya ikut terlibat, padahal mah nggak sama sekali.

Petualangan Sherina menceritakan tentang Sherina Munaf yang baru saja terpaksa pindah ke Bandung karena ayahnya mendapatkan pekerjaan impiannya sebagai sarjana pertanian untuk mengurus kebun milik Keluarga Ardiwilaga di Lembang. Di sekolah barunya, Sherina bertemu dengan Sadam, anak paling nakal di sekolah yang ternyata anak bungsu dari Ardiwilaga.

Hal ini diketahui Sherina saat berlibur ke rumah Ardiwilaga sekaligus menemani ayahnya ke sana. Sialnya, dalam momen tersebut Sherina dan Sadam ini diculik oleh bos properti bernama Kertarajasa karena Ardiwilaga keukeuh nggak mau menjual kebunnya tersebut untuk dijadikan real estate. Singkat cerita, filmnya terus berlanjut dan berakhir bahagia. Katanya akan ada sekuelnya, tapi saya nggak akan bercerita tentang filmnya di tulisan ini.

20 tahun berselang dari kemunculan film ini, saya benar-benar melihat banyak sekali perubahan di Lembang, di tempat Sadam dan Sherina ini berpetualang di perkebunan dan hutan di kawasan tersebut.

Banyak Kertarajasa baru yang bermunculan di sana. Banyak sekali perkebunan warga Lembang yang saat ini berubah menjadi tempat wisata yang nggak ada unsur alam-alamnya sama sekali meskipun marketing dan brandingnya selalu menyebutkan wisata alam. Kalau nggak jadi tempat wisata, ya berubah jadi cafe, restoran, juga perhotelan. Benar-benar berubah deh. Kalau film ini dibuat pada 2021, Sherina dan Sadam nggak akan bisa lari-lari di perkebunan dan hutan karena lahannya sudah terlalu sempit.

Saking berubahnya, saat tidak ada pandemi, Lembang ini macetnya bisa bikin nangis, terutama bagi wisatawan dan juga warga Lembang itu sendiri. Akses menuju Lembang dari Kota Bandung hanya ada tiga, yakni via Jalan Setiabudi, via Ciumbuleuit (Punclut), atau via Jalan Dago. Ketiga akses jalan tersebut sangat sempit jalannya, hanya muat dua mobil saja. Belum lagi banyak sekali bus pariwisata dan truk yang melintas sehingga tambah macet. Setiap long weekend di luar pandemi, dari Lembang ke Bandung bisa memakan waktu lebih dari empat jam kalau pakai mobil. Motor tentu saja bisa lebih cepat. Warga Lembang juga nggak bisa ke mana-mana karena begitu keluar dari pagar rumah, sudah macet sejak siang sampai tengah malam.

Saking berubahnya Lembang atau Kawasan Bandung Utara dengan banyaknya pembangunan secara masif, kawasan Bandung, terutama yang berada di dataran rendah seperti Dayeuhkolot, Baleendah, dan Rancaekek pun selalu terendam banjir ketika musim hujan karena di fungsi kawasan konservasi (penahan laju air) di Kawasan Bandung Utara terganggu dengan masifnya pembangunan di sana.

Juga, meskipun Lembang selalu penuh oleh wisatawan di akhir pekan, yang bertambah kaya hanyalah para pemilik lahan besar saja. Warga Lembang sih cuma jadi pekerja aja di sana, ataupun memilih usaha dengan membuka warung dan kedai kecil saja. Yang punya tempat wisata besar ya tentu saja para pengusaha dan investor kaya raya seperti Kertarajasa dalam Petualangan. Sungguh tidak adil. Saat ini kerap disebut dengan gentrifikasi, seperti yang terjadi di Yogyakarta ataupun Bali.

Baca Juga:

3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Orang Bandung Lebih Senang Berwisata ke Ciater, Subang daripada Lembang

Saya sendiri tentu saja tidak menyalahkan siapapun karena warga yang menjual lahannya tentu saja perlu uang. Warga Lembang yang membuka tempat usaha di sana juga tentu saja hanya ingin sesuap nasi. Tapi, ya pemerintah setempat harusnya tidak mengizinkan kawasan konservasi tersebut dibangun secara masif dong. Banyak banget bangunan tinggi di sana yang tentu saja menutup serapan air, jadinya kalau hujan, yang di bawah jadi kena imbasnya dari mulai banjir sampai tanah longsor.

Petualangan Sherina yang tayang pada 2000 seperti meramalkan kejadian 10 hingga 20 tahun kemudian yang saya tuliskan dalam tulisan ini, di mana banyak orang seperti Kertarajasa yang saat ini menguasai Lembang. Usaha sih boleh saja, tapi ya tanam pohon lagi dong yang banyak sebagaimana sebelum dijadikan bangunan bertingkat tersebut, jangan bisanya merusak lingkungan doang.

Mungkin nanti sekuel Petualangan Sherina bisa mengambil isu ini, di mana Lembang sudah benar-benar berubah, terutama dari aspek lingkungan hidup dan perekonomiannya. Saya percayakan saja untuk para sineas film tersebut untuk berkarya. Untuk Mas Riri Riza dan Mbak Mira Lesmana, kalau butuh pemeran utama setelah Derby Romero dan Sherina Munaf, saya siap kok!

BACA JUGA Persikab Kabupaten Bandung Mati di Tanahnya Sendiri dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2021 oleh

Tags: lembangpetualangan sherina
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Bolu Susu Lembang, Pelopor Bolu Susu di Indonesia yang Nggak Sembarangan

Bolu Susu Lembang, Pelopor Bolu Susu di Indonesia yang Nggak Sembarangan  

29 Mei 2024
Nonton Petualangan Sherina Saat Anak-anak dan Dewasa Itu Beda Pisan (Eddy H/Shutterstock.com)

Nonton Petualangan Sherina Saat Anak-anak dan Dewasa Itu Beda Pisan!

21 Mei 2022
Ekspansi Restoran di Baturraden, Bom Waktu Kerusakan Alam yang Detiknya Makin Kencang

Ekspansi Restoran di Baturraden, Bom Waktu Kerusakan Alam yang Detiknya Makin Kencang

18 Oktober 2023
4 Hal yang Patut Disyukuri Saat Tinggal di Bandung

4 Hal yang Patut Disyukuri Saat Tinggal di Bandung

20 Januari 2022
8 Tempat Wisata yang Sering Dikira Berada di Lembang, padahal Bukan Mojok.co

Sisi Gelap Wisata Lembang, Wisata Indah yang Mencekik Warga Lokal

11 Juli 2024
Kecamatan Cimenyan, Kecamatan Penting yang Nggak Dianggap di Bandung

Kecamatan Cimenyan, Kecamatan Penting yang Nggak Dianggap di Bandung

6 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jika Mall Berdiri di Purworejo, Akankah Kota yang Terlelap Selepas Isya Ini Terjaga dan Jadi Ramai?

Jika Mall Berdiri di Purworejo, Akankah Kota yang Terlelap Selepas Isya Ini Terjaga dan Jadi Ramai?

27 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal Mojok.co

Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal

27 Februari 2026
Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
4 Penyesalan yang Akan Kalian Rasakan jika Kuliah di Bangkalan Madura, Pikir-pikir Lagi

Pemkab Bangkalan Madura Diisi oleh Pejabat Lebay, Banyak Ritual Cuma Pengen Dapat Pujian!

1 Maret 2026
Vespa Matic, Motor Paling Tidak Layak untuk Dibeli (Unsplash)

Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor

1 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.