fbpx

MOJOK.COLucinta Luna adalah korban. Korban kegagapan kita melihat perbedaan. Dia adalah korban kenorakan kita ketika berhadapan dengan sosok transpuan.

Lucinta Luna ditangkap polisi!

Dan benar seperti dugaan saya, berita yang muncul kemudian adalah mengenai teh Lucinta yang bingung mau ditempatkan di sel pria atau wanita. Saya juga jadi bingung sendiri membaca berita tersebut. Sungguh sa bingung mau kasihan sama siapa.

Apakah saya sebaiknya kasihan sama Lucinta Lunanya, polisinya,
medianya, atau netizennya?

Kalau saya kasihan sama polisinya, dan saya kemukakan alasannya, saya takut dianggap menghina karena menyindir-nyindir. Kalau saya kasihan sama medianya, saya khawatir dianggap sombong. Media gitu, lho.

Para penulis beritanya adalah wartawan yang kritis dan intelek, sementara pemiliknya adalah konglomerat yang punya titel seabrek-abrek hasil belajar di luar negeri.

Ah, sombong sekali saya yang tak punya prestasi ini kalau sampai menyentil mereka.

Bagaimana dengan netizen? Duh, netizen kan maha-benar. Titelnya bukan cuma titel duniawi, tapi juga menjurus titel surgawi.

Paling aman ya kasihan sama Lucintanya. Karena senyatanya dia memang korban di sini.

Lucinta Luna adalah korban masyarakat kita. Korban kegagapan kita melihat perbedaan. Dia adalah korban kenorakan kita ketika berhadapan dengan sosok transpuan.

Bolehlah dulu kalau ada yang mengatakan, “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Tapi di sini, saya mau bilang, kalau kita tertawa soal penempatan Lucinta Luna di sel pria atau wanita, ya kita norak.

Transpuan by definition sudah jelas merupakan laki-laki yang mengubah identitasnya menjadi perempuan. Mereka adalah perempuan. Titik.

Bahkan dalam kasus Lucinta, perubahan identitasnya sudah disyahkan secara hukum. Dan begitu saja kita bingung dan bercanda soal mau ditempatkan di mana saat dia dikurung?

Baca juga:  Mengenal Momo Challenge, Tren Terbaru yang Penuh Mara Bahaya

Helo, ini tahun 2020 lho, Kak. Masa masalah seperti ini masih dianggap lucu?

Jangan noraklah. Ini saja baru pertanyaan sepele. Terus bagaimana kalau kita dihadapkan pada persoalan yang lebih cetar?

Etika soal kloning manusia,misalnya. Atau soal modifikasi genetic untuk meminimalisir penyakit letal pada anak sampai untuk kepentingan estetik. Hayoloh, bingung tidak? Mampu tidak kita menghadapi pertanyaan yang sebentar lagi akan datang itu? Atau kita mau
mencak-mencak saja dan menutup diri dari kenyataan perubahan zaman?

Zaman selalu dan pasti berubah. Bukan cuma manusia dewasa yang nanti bisa mengubah identitasnya, tapi genetik kita pun bisa jadi suatu saat akan diutak-atik sejak kita masih berbentuk janin. Tinggal kita siap atau tidak menghadapi pesoalan-persoalan tersebut.

Lagian apa susahnya berempati dan beretika sedikit saja terhadap Lucinta dan transpuan pada umumnya? Apakah empati dan etika itu akan mengurangi pahala dan kerupawanan wajah kita? Apa misalnya kalau kita menahan diri tertawa lantas kulit kita jadi belang-belang ala zebra gitu? Kan enggak.

Apalagi empati kita itu ditujukan bukan pada sembarang orang. Empati kita itu ditujukan pada seorang transpuan yang nyata mengalami berbagai persoalan dalam hidupnya.

Sampeyan jangan menyepelekan perjuangan yang mereka lakukan, dong.

Saya sebagai perempuan saja kadang tidak bersyukur dilahirkan sebagai perempuan, karena harus mengalami datang bulan dan direndahkan di masyakarat patriarkis. Lah ini, ada seorang manusia yang terlahir laki-laki dengan segala privilege-nya malah memutuskan untuk menjadi perempuan.

Kalau bukan karena Lucinta Luna memang memiliki jiwa perempuan, rasanya dia tak akan mencoba-coba mengubah dirinya menjadi seperti sekarang ini.

Bayangkan betapa bingung dan merasa terisolasinya dia saat kecil dulu.

Bayangkan bullying yang dia dapat.

Bayangkan cercaan keluarga yang dia tanggung.

Baca juga:  Enam Argumentasi Sia-Sia seputar Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender

Bayangkan operasi yang harus dijalani.

Dan bayangkan bagaimana gugupnya Lucinta Luna ketika harus menghadapi dunia dengan identitas barunya.

Padahal banyak di antara kita yang kalau ditanya soal jodoh aja langsung emosi. Bapak-bapak marah ditanya soal duit, dan ibu-ibu siap ngeplak saudara dengan sapu kalau menyindir masakannya yang tidak enak.

Taruhan sama saya, yang menertawakan seorang transpuan belum tentu memiliki keberanian sebesar seorang transpuan.

Ironisnya, bullying yang dilakukan masyarakat dan media terhadap Lucinta Luna ini seolah menjadi jawaban kenapa yang bersangkutan menggunakan obat-obatan terlarang.

Saya baca beberapa berita yang menjelaskan bahwa Lucinta Luna mengalami depresi hingga beberapa kali mencoba melakukan bunuh diri. Penyebabnya ya karena bully yang dia alami. Dan gara-gara masalah itulah Lucinta Luna akhirnya menggunakan obat-obatan terlarang.

Dengan kata lain, Lucinta Luna menggunakan psikotropika karena bully yang ia alami sebagai transpuan, dan kini ketika dipenjara, Lucinta Luna di-bully lagi oleh masyarakat karena dia transpuan.

Woi, sadar tidak ya kalau celaan-celaan bernada bully yang kita lontarkan membuat seseorang memakai barang haram? Secara tidak langsung, kita sebagai masyarakat turut andil membuat seseorang sampai berbuat dosa dan melanggar hukum.

Apa kita baru puas kalau yang bersangkutan bunuh diri betulan? Jahat sekali kalau demikian adanya.

Kasihlah empati setetes dua tetes. Jangan apa-apa bully, apa-apa bully.

Kita bisa kok tetap tidak setuju, tapi secara baik-baik. Muka kita tidak akan tiba-tiba jadi jelek, dan dosa kita tiba-tiba nambah kan hanya karena kita menahan diri untuk tidak menertawakan seorang transpuan yang sedang terkena musibah.

BACA JUGA Mengulik Nama ‘Asli’ Lucinta Luna Adalah Ekspresi Transfobia atau tulisan Nurhidayah lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles