Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pura-pura Kesurupan, Trik Gemilang untuk Akali Tekanan di Tempat Kerja

Surya Gemilang oleh Surya Gemilang
13 Maret 2021
A A
Kesurupan Massal di Banyuwangi- Memangkas Ritual Petik Laut, Pekerja Pabrik Kerasukan Penari MOJOK.CO cara mengatasi tekanan di tempat kerja dengan pura-pura kesurupan

Kesurupan Massal di Banyuwangi- Memangkas Ritual Petik Laut, Pekerja Pabrik Kerasukan Penari MOJOK.CO cara mengatasi tekanan di tempat kerja dengan pura-pura kesurupan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu cara: pura-pura kesurupan!

Dari seorang teman kini saya tahu, pura-pura kesurupan adalah kemampuan khusus yang penting dimiliki hari ini. Hari di mana kita hidup dalam kekangan kapitalisme, hari di mana kita dipaksa memuaskan fetish kapitalisme, yaitu kecepatan. Fetisisme ini mengharuskan kita menyelesaikan pekerjaan secepat-cepatnya untuk melayani konsumen. Ironis memang, karena ketika kita menjadi konsumen, kita juga menginginkan pelayanan secepat-cepatnya. Dan ini berlaku dalam banyak sekali bidang.

Masalahnya, tak jarang ada kondisi kita tak bisa bertindak cepat dalam bekerja. Ini berakibat fatal, kita mengalami kerugian dengan skala variatif karena tak mampu mengikuti standar kecepatan yang ditentukan. Misalnya kita dicaci-maki atasan karena tak mampu memasak, mengantarkan barang, atau menulis dengan cepat. Kemungkinan terburuknya kita dipecat dari pekerjaan. Padahal kan wajar manusia sesekali butuh kesempatan untuk bergerak lamban, baik untuk mengisi ulang energi yang terkuras sekadar buat mikir.

Lantas, adakah cara untuk mengakali tekanan di tempat kerja yang harus bergerak serbacepat ini, tanpa mengalami kerugian? Dari teman ini saya belajar bahwa cara seperti itu ada. Dan untuk melakukannya diperlukan kemampuan khusus seperti yang saya katakan di awal tulisan: pura-pura kesurupan.

Kesurupan adalah kondisi manusia kehilangan kesadaran, tetapi tidak pingsan. Dalam momen tersebut seseorang akan melakukan hal-hal di luar kontrol diri sendiri, seperti menjerit-jerit dan berkelojotan hebat di lantai seperti cacing tersundut bara rokok. Banyak orang percaya, pada korban kesurupan, jiwanya sedang diambil alih setan.

Lumrahnya, saat ada kita kesurupan, aktivitas di sekeliling bakal terhenti sejenak, baik karena orang-orang lain panik atau sekadar menonton tingkah kita. Di sanalah kuncinya: saat terjadi kesurupan, kecepatan bekerja yang diharapkan kapitalisme itu akan menurun. Dan apakah kita akan dicaci-maki atasan atau dipecat gara-gara kesurupan? Anda tahu sendiri jawabannya.

Kiat ini saya pelajari dari seorang teman saya, sebut saja Raflesia, untuk tidak menyebutnya Mawar. Ia bekerja sebagai pembantu umum di berbagai syuting iklan audiovisual. Sebagai pembantu umum, terutama ketika situasi syuting sudah memanas karena tenggat sudah terlampaui tapi pekerjaan belum selesai, ia selalu dituntut untuk bergerak cepat membuatkan dan mengantarkan teh dan kopi dan gorengan atau makanan apa pun kepada para kru, yang teriakan kesalnya lebih tinggi beberapa oktaf dari situasi normal.

Suatu waktu, Raflesia begitu kelelahan menghadapi para kru yang berteriak, dan ia mengambil keputusan bijak itu: berpura-pura kesurupan. Syuting terhenti beberapa jenak, produser dan produser pelaksana dan asisten sutradara tak lagi menyuruh siapa pun untuk bergerak cepat. Benar-benar siapa pun, tidak hanya si Raflesia sahabat kita itu. Bahkan klien memaklumi perjalanan syuting harus terlambat.

Anda tahu, syuting adalah kegiatan yang sangat mementingkan kecepatan, di samping ketepatan/presisi. Ini akibat dari prinsip terkutuk “waktu adalah uang” yang benar-benar diterapkan. Anda harus menyelesaikan syuting sebelum segala sesuatu yang disewa—studio dan kamera dan properti dan apa pun—berakhir jangka waktu sewanya. Dan apakah Raflesia dicaci-maki atau dipecat oleh atasan setelah memperlamban syuting? Mana berani. Bahkan, setelah usai berpura-pura kesurupan, ia diberi kesempatan untuk diam beberapa jenak, para kru mendadak mandiri dalam membuat/mengambil teh dan kopi dan gorengan; malah setelah usai waktunya untuk diam pun Raflesia diberi pemakluman oleh semua pihak untuk bekerja pelan-pelan. Dan tersebab akting kesurupan Raflesia tadi masih menyisakan kepanikan di kepala para kru lain, mereka turut memperlamban pekerjaan mereka tanpa dibonusi caci-maki.

“Itu adalah pertama kalinya aku sempat berkontemplasi di lokasi syuting,” aku Raflesia kepada saya. “Berpura-pura kesurupan memang melelahkan, tapi setidaknya setelah itu aku bisa beristirahat.”

Selain untuk menghadapi tekanan di tempat kerja yang menuntut apa-apa serbacepat, pura-pura kesurupan juga berfungsi menghibur diri dan kawan-kawan. Ini pernah saya praktikkan sendiri. Waktu itu kelas Matematika sedang berjalan secara menyebalkan, Pak Guru menuntut para murid untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di papan secara cepat sehingga saya memutuskan bertindak heroik. Saya pura-pura kesurupan, berujung dengan diakhirinya kelas sebelum waktunya. Berakhirnya kelas lebih cepat adalah sebenar-benarnya hiburan bagi saya dan kawan-kawan sekelas.

Lantas, bagaimanakah caranya pura-pura kesurupan? Pura-pura kesurupan adalah kemampuan yang harus dipelajari, ia tak bisa kita dapatkan seinstan kemampuan mengisap puting ibu atau berak di celana. Berpura-pura kesurupan adalah kemampuan yang mesti dipelajari, sebagaimana aktor berakting marah dan sedih dan terangsang. Dibutuhkan konsentrasi yang kuat dan latihan yang berulang. Saya sendiri mendapatkan kemampuan ini dari ekstrakurikuler teater semasa SMA. Sedangkan Raflesia mendapatkannya dari menyaksikan sutradara memberikan sejumlah nasihat kepada para aktor. Teman-teman saya yang lain mempelajarinya dari buku karya Stanislavski dan video di YouTube tentang tata cara berakting.

Singkatnya, kita perlu memiliki dan melatih kemampuan berpura-pura kesurupan, sebab kita, sebagai manusia normal, perlu sekali-kali memperlamban tempo pekerjaan yang dituntut cepat selesai. Kapitalisme dan fetish-nya memang menyebalkan, dan kemampuan berpura-pura kesurupan sedikit menyelamatkan kita dari tekanan di tempat kerja. Ya, saya bilang sedikit. Kita tidak mungkin sepenuhnya selamat, kapitalisme sudah telanjur terlalu hebat, tapi sedikit penyelamat jelas jauh lebih ketimbang tidak sama sekali. Dan ternyata obat sementaranya bukan dari buku-buku Kiri, tapi jagat mistis Indonesia.

BACA JUGA Cara Menangis Palsu yang Ternyata Bisa Dipelajari dan bahasan ngalor-ngidul lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 13 Maret 2021 oleh

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lulusan Fakultas Film dan Televisi IKJ. Telah menulis dua kumpulan cerpen dan dua kumpulan puisi.

Artikel Terkait

Gus Yahya dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU: Nahdlatul Ulama harus bersinergi dengan pemerintah untuk kemaslahatan rakyat MOJOK.CO

Gus Yahya: NU Tidak Punya Jalan Lain Selain Kerja Sama dengan Pemerintah jika Ingin Hadirkan Manfaat Nyata

27 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026
4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
Kebiasaan sederhana penjaga warung madura yang bikin respek pembeli MOJOK.CO

Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar

27 Agustus 2026
Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.