Selepas salat ashar di masjid, Mat Piti memutuskan membaca syahadat. Terpengaruh ocehan Cak Dlahom, Mat Piti pun mau masuk Islam. Maka disaksikan jemaah masjid yang kebingungan, dia bersalaman dengan imam masjid, yang menurut gosip orang-orang di kampung, dulu adalah teman seperguruan Cak Dlahom di pesantren. Nasib membedakan keduanya. Cak Dlahom luntang-lantung dan dianggap kurang waras, temannya jadi imam masjid dan dihormati orang-orang kampung.

Tangan mereka bersalaman erat. Lalu dengan dibimbing imam masjid itu, Mat Piti membaca syahadat: “Asyhaduallah ilaha illallah, wa asyahdu anna Muhammadur Rasullullah.”

Jemaah menyambutnya dengan mengucapkan “Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar” hingga tiga kali. Mat Piti terisak. Dia kemudian dipeluk dan memeluk imam masjid. Satu per satu, jemaah menyalaminya,  tapi tidak ada Cak Dlahom di antara mereka.

Mat Piti mendapati Cak Dlahom, saat bersiap pulang dari masjid. Cak Dlahom hanya berdiri membisu di depan pintu masuk masjid dengan tatapan yang seperti sengaja menuggu Mat Piti. Cak Dlahom memang menunggu Mat Piti, mengundangnya makan di rumahnya usai salat maghrib. Mat Piti menyanggupi, dan usai maghrib dia mendatangi rumah Cak Dlahom yang  berdekatan dengan kandang kambing milik pak lurah.

Cak Dlahom berseri-seri menyambut Mat Piti. Dia segera membuka koran yang menutup nasi kebuli dengan lauk kambing goreng, dan dua gelas es kelapa muda bergula Jawa.  Dia mendapat makanan itu dari pak lurah, yang  hari itu mengadakan buka bersama di pendopo kelurahan.

Keduanya makan dengan lahap. Rumah Cak Dlahom yang (biasanya) beraroma tahi kambing, terasa penuh suka cita. Selesai makan, mereka duduk di lincak bambu sambil terus menikmati es kelapa muda.

“Alhamdulillah, Cak. Saya sekarang sudah jadi Islam.”

“Yakin, Mat, kamu sudah Islam?”

“Loh sampeyan ini gimana, Cak? Sampeyan sendiri yang bilang, saya harus baca syahadat untuk disebut orang Islam?”

“Betul, tapi kamu tahu syahadat itu apa?”

“Ya, syarat masuk Islam.”

“Syahadat itu menyaksikan, Mat.”

“Lah apa lagi ini, Cak?”

“Coba kamu ingat-ingat lagi, kalimat syahadat yang kamu baca tadi…”

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah…”

“Lalu kapan kamu menyaksikan Allah?”

“Ya ndak bisalah, Cak.”

“Kenapa ndak bisa Mat?”

“Allah kan tidak terlihat…?”

“Kata siapa? Allah bilang di Al-Quran: ‘Dialah yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tak tampak, dan Dia yang mengetahui segala sesuatu.’ Jadi Allah itu tampak, Mat.”

“Tampak itu, mungkin maksudnya, alam semesta ini termasuk kita sebagai perwujudan-Nya, Cak. Bukan Allah kelihatan, seperti saya melihat sampeyan?”

“Itu kan penafsiranmu Mat. Redaksi Allah jelas: ‘…Dia yang tampak dan tidak tampak…’”

“Kalau menurut sampeyan, Cak?”

“Mat, cepat banget kamu menghabiskan es kelapamu.”

“Loh apa hubungannya dengan pertanyaan saya, Cak?”

“Buka puasa itu mestinya sedikit-sedikit, Mat. Perlahan-lahan. Jangan kekenyangan. Kalau kekenyangan, kamu akan kepayahan. Tidak bisa bergerak. Malas tarawih. Berbahaya bagi kesehatanmu.”

“Iya, sih. Perut penuh banget ini, Cak. Tapi sampeyan belum jawab pertanyaan saya…”

“Seperti kamu menghabiskan buka puasa, sebaiknya kalau mau tahu sesuatu urusan agama, juga pelan-pelan. Sedikit-sedikit. Kalau sekaligus langsung banyak, akan berbahaya bagi dirimu. Kalau kekenyangan mungkin masih ndak apa-apa, Mat, tapi kalau terus kamu gila? Kamu akan merasa pintar, merasa lebih tahu dari yang lain.”

“Tunggu, tunggu, Cak… Sampeyan sendiri apa sudah pernah menyaksikan, Cak?”

“Sering, Mat.”

“Menyaksikan, melihat Allah?”

“Aku melihat ciptaan-Nya.”

“Ya Allah, Cak, Cak…  Kalau cuma begitu saya juga sering, Cak…”

“Seperti halnya aku menyaksikan Romlah lebih sering daripada kamubapaknya.”

“Siapa, Cak…?”

“Romlah. Anakmu, Mat.”

Kalimat terakhir diucapkan Cak Dlahom sambil tersenyum penuh arti. Mata Mat Piti melotot sendiri. Dia setengah tidak percaya, Cak Dlahom yang dianggap kurang waras oleh orang-orang kampung, ternyata juga memperhatikan Romlah, anaknya yang terkenal cantik.

Dia membatin: Cak Dlahum memang jancuk. Katanya sinting, tapi masih perhatian pada perempuan, dan perempuan itu adalah Romlah, anak gadis semata wayangnya.

Memperhatikan Mat Piti, Cak Dlahom ngikik. Dia tahu Mat Piti penasaran dan karena itu dia menepuk pundak Mat Piti. “Kamu misuhi aku ya Mat? Hahaha…”

Mat Piti kaget. Dia bingung karena Cak Dlahom tahu yang dipikirkannya. Sambil menghabiskan sisa es kelapanya, Mat Piti pamit pulang. Dia meninggalkan rumah Cak Dlahom, dan baru merasakan, tahi kambing dari kandang di dekat rumah Cak Dlahom benar-benar menebarkan aroma yang khas.

 

(diinspirasi oleh cerita yang disampaikan Syekh Maulana Hizboel Wathan Ibrahim)

No more articles