Salut untuk Trans7 dan Chairul Tanjung. Stasiun televisi milik Chairul itu akhirnya mempertemukan empat orang yang paling menjadi bahan berita belakangan ini: Presiden Jokowi, calon kapolri Budi Gunawan, ketua KPK Abraham Samad, dan politisi PDI-Perjuangan Hasto Kristianto. Mereka dihadirkan bersama di acara “Hitam Putih” yang dibawakan oleh Deddy Corbuzier. Chairul konon adalah orang yang berinisiatif  mengumpulkan mereka semua menyusul gonjang-ganjing pencalonan Budi sebagai kepala polisi.

Pengambilan gambar untuk acara ini selesai dilakukan di salah satu ruangan Istana Negara,  Jumat kemarin, beberapa jam setelah wakil ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap polisi dari Bareskrim. Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan beberapa menteri duduk di deretan kursi paling depan menjadi penonton. Di belakang mereka duduk para ajudan dan anggota pasukan pengamanan presiden. Mereka memenuhi dua deretan kursi, dan kursi-kursi di belakang mereka disesaki para istri atau suami para menteri dan pegawai Istana. Tak ada wartawan.

Itulah acara “Hitam Putih” pertama yang menghadirkan seorang presiden dan para pejabat negara sebagai bintang tamu, dan penontonnya juga pejabat negara. Jika jadi disiarkan pekan depan sesuai rencana, maka episode “Hitam Putih” ini mungkin akan jadi kado istimewa untuk 100 hari kerja pemerintahan Jokowi; dan acara itu memang menarik. Setidaknya pada saat berlangsung pengambilan gambar.

Berbeda dengan “Hitam Putih” yang sebelum-sebelumnya, para bintang tamu kali ini serempak muncul bersamaan. Jokowi, Budi dan Samad duduk di satu sofa. Jokowi di sebelah kiri tak jauh dari sofa yang diperuntukkan untuk Deddy. Budi duduk di antara Jokowi dan Samad, sementara Hasto duduk di sofa terpisah. Anu, si pianis, menyempil dengan pianonya di salah satu sudut panggung.

Mereka semua mengenakan baju putih, termasuk Deddy yang hampir selalu mengenakan baju atau jas hitam. Penampilannya kali itu persis dengan “Hitam Putih” episode Agnes Monica, ketika dia mengenakan setelan serba putih hingga ke sepatu dan kaus kakinya.

Lampu-lampu segera menyala. Panggung menjadi terang.  Bedak make up di wajah Jokowi, Budi, dan Samad dan Hasto terlihat menonjol. Mungkin karena mereka tidak biasa berbedak. Tidak seperti Deddy dan Anu yang wajahnya lebih tampak natural meski juga mengenakan bedak.

Seorang kru yang tampaknya produser acara, kemudian terlihat memberi kode kepada 4 kameraman. Keempatnya membalas dengan acungan jempol. Lalu terdengar aba-aba.  “Okay, standby. Roll…action!” Pengambilan gambar pertama dimulai.

Deddy seperti biasa terlihat percaya diri. Dia menyapa penonton, memberikan pengantar tentang konteks tema “Hitam Putih” kali ini dan memperkenalkan tamu istimewanya satu per satu. Denting piano Anu mendayu-dayu. Terdengar lagu “Badai Pasti Berlalu.” Deddy berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing tamunya, dan setelah duduk, dia mengajukan pertanyaan pertama kepada Presiden Jokowi.

Isunya juga basi-basi. Seputar perasaan Jokowi setelah menjadi presiden. Jokowi pun menjawab diplomatis—untuk tidak menyebut juga menjawab dengan basa-basi. Kata dia, hidup manusia mirip acara Deddy: hitam-putih. Kadang hitam, kadang putih. Ada enak, ada tidak enak. Bisa di atas, bisa di bawah. Dicinta dan dibenci.

Penonton bertepuk tangan. Terdengar paling keras tepuk tangan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto. Jusuf Kalla dan Rini Sumarno terkekeh. Samad menahan senyum. Budi tampak tegang. Hasto bersedekap.

Deddy mengulangi pertanyaan, tapi sekali lagi Jokowi tak langsung menjawab persoalan.

“So… Jadi presiden itu hitam-putih ya, Pak?”

“Saya bilang kadang-kadang. Bisa saja malah abu-abu.”

Penonton kembali bertepuk tangan. Deddy nyengir. Dia melihat ke arah penonton seolah hendak melihat reaksi mereka. Hendro Priyono yang juga duduk di barisan depan, sama sekali tak tersenyum, tapi kamera tak menyorotnya.

“Abu-abu itu apakah termasuk ketika memilih Pak Budi Gunawan sebagai calon kapolri?”

“Itu bukan abu-abu, Mas Deddy. Itu sudah urusan presiden. Presiden punya wewenang mengangkat dan memberhentikan pembantunya termasuk kapolri. Masalahnya ada kesalahpahaman dengan KPK. Saya kira Pak Samad juga tahu.”

Selesai Jokowi menjawab, tanya-jawab dihentikan. Pengambilan gambar pertama selesai. Para tamu riuh. Deddy terlihat berbicara dengan Jokowi. Seorang ajudan naik ke panggung dan menyodorkan tisu dan air minum pada Jokowi. Dia melap wajah, lalu minum. Hasto celingak-celinguk.

Setelah lima belas menit jeda, pengambilan gambar kedua dimulai. Anu memainkan lagu “Maju Tak Gentar” dengan sangat pelan. Deddy membuka dengan bertanya pada ketua KPK Abraham Samad soal jawaban Jokowi, dan Samad sambil membetulkan kerah bajunya membenarkan memang terjadi kesalahpahaman. Pencalonan Budi Gunawan, kata Samad, adalah hak presiden, tapi juga hak KPK menetapkan seseorang sebagai tersangka. Bahwa kemudian muncul polemik dan kontroversi, hal itu tak mengurangi hak presiden dan hak KPK.

Pertanyaan Deddy berikutnya pada Samad hanya mengulang-ulang, dan Samad juga menjawab dengan datar dan formal. Dari bahasa tubuhnya, Samad terlihat seperti kurang percaya diri. Agak kikuk. Mungkin karena dia harus berbicara di depan presiden, wakil presiden, beberapa menteri dan Subagyo yang mengenakan topi hitam bergambar bintang 4.

“Pak Budi, Anda kecewa karena pelantikan Anda sebagai kapolri ditunda?”

“Mas Deddy, seperti dijelaskan Bapak Presiden, hidup ini mirip hitam-putih. Sebagai prajurit bhayangkara dan abdi negara, saya menerima dan mematuhi apapun keputusan atasan.”

“Woh…begini ini nih yang namanya perwira. Betul begitu, Pak Budi?”

“Siap.”

Ramai penonton bertepuk tangan. Budi tampak semakin kaku. Jokowi tersenyum. Samad masih menahan senyum. Hasto menunduk.

“Pak Hasto, apa pendapat Anda?”

“Saya kira, semua ini karena ada campur-aduk politik dan hukum.”

“’Bapak melihat ada yang melakukan campur tangan’…tapi sebelum dijawab, perlu saya jelaskan, Pak Hasto ini adalah orang yang beberapa hari lalu menjadi pusat pemberitaan karena pernyataan kontroversialnya terhadap Pak Samad… ‘Pak Hasto yakin dengan tuduhannya?’”

“Yakin dong. Saya bukan politikus kemarin sore.”

“Luar biasa. Tepuk tangan dong buat Pak Hasto…”

Ruangan kembali riuh dengan suara tepuk tangan. Samad sama sekali tidak tersenyum. Dia membetulkan posisi duduknya. Diangkatnya sedikit badannya ke sandaran sofa. Budi masih duduk dengan tegak. Hendro mulai terkekeh. Pengambilan gambar kedua ditutup.

Jokowi lantas berdiri, diikuti Budi dan Samad. “Maaf, Mas Deddy, saya harus meninggalkan acara.”

Jokowi menyalami Deddy, Samad, Budi dan Hasto. Jusuf Kalla dan semua penonton berdiri. Beberapa kru bergegas menyalami Jokowi. Mereka minta selfie.

Pengambilan gambar ketiga dimulai dengan suasana agak cair. Deddy mengawali dengan penjelasan dan permintaan maaf karena Jokowi harus meninggalkan acara. Kata dia, presiden tidak sama dengan kebanyakan orang karena jadwalnya ketat dan sudah diatur oleh protokoler. Tak lupa Deddy menyampaikan terima kasih pada Jokowi dan protokol kepresidenan karena bersedia meluangkan waktu untuk acara “Hitam Putih.”

Dia meneruskan acara dengan bertanya pada Hasto. Pertanyaannya  masih seputar tuduhan Hasto pada Samad dan sekali lagi Hasto meyakinkan penonton, apa yang dia sampaikan ada dasarnya dan berdasarkan bukti yang dia punya. “Itu saja sih. Kita harus mendukung KPK, tapi juga harus membersihkan KPK dari orang-orang yang ingin memanfaatkan untuk ambisi politik pribadi dan kelompoknya.”

Deddy dan penonton bertepuk tangan. Samad mulai gelisah. Dia tampak seperti bersiap-siap akan ditanya oleh Deddy, dan Deddy kemudian memang bertanya pada Samad tentang isu yang sama.

Hasto harus bisa membuktikan ucapannya, Kata Samad, karena sudah termasuk insinuasi.  KPK, kata dia, sudah membantah, dan dia memastikan tuduhan Hasto adalah serangan kepada KPK. Bila itu terjadi, maka publik akan melihat sedang ada usaha membungkam KPK.

“Pak Budi punya tanggapan, mungkin?”

“Saya no comment karena bukan tempatnya saya ikut berkomentar.”

“Itu kenapa Pak Bambang Widjojanto ditangkap polisi?”

“Soal itu silakan tanya ke Mabes Polri, Mas Deddy.”

“Pak Hasto ada tanggapan?”

Hasto tak menjawab tapi dia kemudian mengenakan topi dan masker yang pernah populer dikenakan warga Hong Kong saat wabah flu burung melanda. “Jawaban saya seperti ini saja,” katanya kemudian.

Ruangan riuh dengan tepuk tangan penonton. Budi mulai terlihat  tertawa. Wajah Samad merah padam. Hendro semakin terkekeh. Jusuf Kalla geleng-geleng.

Di tengah keriuhan, Deddy segera menutup acara dengan kata-kata bijak seperti biasa dia ucapkan di setiap akhir acara “Hitam Putih.” Katanya,  “’Apa yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada…’ Saya Deddy Corbuzier…”

Piano Anu mengalunkan lagu Slank “Balikin.” Deddy menyalami Budi, Samad dan Hasto. Budi menyalami Hasto dan Samad. Samad menyalami Hasto. Beberapa saat, keduanya terlihat saling menatap.

Jusuf Kalla berdiri menyambut Deddy yang turun dari panggung. Dia menyalami Deddy.

“Saya sudah telepon Pak Chairul Tanjung. Menyampaikan terima kasih. ‘Hitam Putih’ membuat persoalan menjadi terang. Anda lihat sendiri,  tidak ada persoalan di antara Bapak Presiden, Ketua KPK, Pak Budi dan Pak Hasto. Ini semua demi bangsa.”

Deddy niscaya kaget. Dia merasa acara “Hitam Putih” tak pernah menghadirkan Jokowi, Samad, Budi dan Hasto sebagai bintang tamu. Tak pernah ada pengambilan gambar di Istana Negara, tidak juga di studio Trans7. Tidak sekali pun.

No more articles