• 143
    Shares

MOJOK.CO Dibandingkan pekerjaan saya di luar rumah, pekerjaan istri bisa lebih membuat depresi. Karena itu, saya sadar kalau me time memang sangat penting untuk mama muda!

Sering kita membaca update-an status para mama muda zaman now di media sosial yang menyebutkan bahwa dirinya sedang membutuhkan me time. Tak jarang juga kita melihat banyak yang mencemooh dan membandingkan mereka dengan mama-mama zaman dulu yang begitu hebat mengurus rumah tangga, yang tak dikit-dikit minta me time.

Duh, Sobat, saya cuma mau bilang: tantangan setiap zaman tentu berbeda, jadi jangan dibandingkan begitu saja.

Saya pernah memiliki pengalaman mengurus rumah sendirian, tanpa kehadiran istri. Ternyata eh ternyata, pekerjaan mengurus rumah merupakan jenis pekerjaan yang sangat “wow” hingga membuat saya mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya.

[!!!!!!!!11!!!!!111!!!!!!!]

Berawal ketika teman istri saya mengajak mamanya anak-anak untuk “jalan-jalan beli jajan” ke luar kota selama 2 minggu. Dengan segala kekhawatiran yang ada, saya meyakinkan istri saya bahwa saya bisa mengurus anak-anak selama ia pergi.

Kami punya dua anak, yang pertama laki-laki dan adiknya perempuan. Hari pertama dimulai dengan saya yang mengajak anak-anak main agar tidak begitu sedih ditinggal mamanya. Kedua anak saya adalah anak yang aktif. Buktinya, baru beberapa menit bermain, lah mainannya sudah berserakan menyebar ke semua tempat. Saat itu saya sadar: kerjaan pertama yang harus dilakukan adalah beres-beres.

Hal itu membuat saya teringat pada suatu peristiwa yang pernah terjadi. Waktu itu, sepulang kerja, saya membuka pintu dan tergesa masuk ke rumah. Ternyata, di depan pintu ada botol air tergeletak begitu saja. Dengan kemampuan refleks ibarat pendekar tanpa perguruan, saya melompat untuk menghindar dan—sayangnya—berhasil mendarat di atas sebutir lego blok, tanpa alas kaki.

Saat itu saya terdiam menahan sakit yang nyerinya sampai ke tulang ekor. Dalam hati, saya ingin menyumpah pakai sumpah serapah. Tapi saya bingung: mau ditujukan ke siapa? Ke istri saya yang nggak mberesin rumah? Atau ke anak saya yang suka ngelempar mainan? O tidak, itu tidak sebanding, Kawan. Masa iya anak dan istri sendiri mau disumpahin??? Ujung-ujungnya, saya hanya bisa meratap dalam hati sambil menahan rasa sakit ini sendiri.

Baca juga:  Stigma terhadap Ibu Rumah Tangga yang Sudah Keseringan Salah Kaprah

Untuk urusan makan, memasak sesuai selera anak ternyata butuh keahlian khusus. Di sini, akhirnya saya sadar, kemampuan masak istri saya sungguh hebat. Soalnya, saat di rumah, selain masak untuk anak, istri juga masih sempat masakin buat saya.

Selain urusan makan, kegiatan mandi yang harusnya sederhana pun menjadi rumit ketika berhadapan dengan anak-anak. Kakaknya bilang, “Pa, aku lagi sibuk (main), mandinya besok aja.” Eh, terus adiknya bilang, “Pa, Dedek udah cantik, jadi nggak usah mandi.” Pada akhirnya, anak-anak mau mandi sehabis “bantuin” saya nyuci motor. Ya, sejak mamanya anak-anak pergi jalan-jalan, motor saya hampir tiap hari dicuci. Saat itu, saya merasa istri saya sangat hebat bisa membuat anak-anak mandi tanpa harus nyuci motor.

Setelah aktivitas seharian bersama anak yang luar biasa, tiba waktunya untuk tidur. Lagi-lagi ternyata, ngeloni mamanya anak-anak jauh lebih mudah dibandingkan dengan ngeloni anak-anak!!!

Ya, Saudara-saudara: urusan tidur juga menjadi runyam saat berurusan dengan anak. Ketika disatukan dalam satu tempat tidur, keduanya akan kuat-kuatan lembur dan malah saya yang ketiduran.

Akhirnya, saya putuskan agar anak tidur di kamar masing-masing. Sementara adik di-nina-bobok, kakaknya justru membuka laptop untuk main game sendiri. Haddeeehhh!

Setelah anak-anak tidur, ternyata urusan juga belum selesai. Bayangkan: dini hari (sekitar jam 2) saya terbangun. Tahu-tahu anak laki-laki saya hilang dari tempat tidur.

[!!!!!!!!11!!!!!111!!!!!!!]

Terdengar suara dari dapur, dan ternyata anak saya yang laki-laki ada di sana. Dengan polosnya, dia bilang, “Pa, tadi ada temen main sama aku, terus tak suruh pulang, kan udah malem.” Sebelum drama keluarga berubah menjadi cerita horor, akhirnya saya bilang, “Baiklah, ayo tidur lagi.” Tentu saja pintu kamar saya kunci setelah itu agar peristiwa serupa tidak terulang.

Untuk ibu rumah tangga atau ibu tidak bekerja yang bilang ngurus anak itu pekerjaan full time, ternyata mereka bohong. Karena yang saya alami, ngurus anak itu pekerjaan yang over time. Pantas saja banyak ibu yang kelebihan beban kerja selama ini!

Baca juga:  Perempuan Sukses dalam Karier Katanya Lebih Mudah Selingkuh, Benarkah?

Ngurus anak itu ternyata nggak sekadar dikasih makan, dimandiin, terus dikelonin.Nyatanya, anak-anak juga harus ditemani main, dalam artian “main bareng sama anak-anak”. Ingat ya, bukan anaknya main sendiri, terus kita-kita yang nemenin malah main HP. Pasalnya, kalau anak main sendiri ternyata cukup berbahaya.

Ketika anak saya (yang baru 5 tahun) main laptop, ternyata ia bisa mengakses beberapa game lama yang saya miliki. Dari banyak game yang ada (game bola, balap mobil, dan lainnya), anak saya memilih game CS (Counter Strike). Dari sekian banyak pilihan senjata (Uzzy, AK-47, Sniper Riffle, dan lainnya), ternyata yang dipilih adalah pisau. Di sinilah saya mulai khawatir. Oleh karena itu, diam-diam beberapa game saya “amankan”, termasuk CS tentunya.

Beratnya pekerjaan rumah tangga menjadi tidak seberapa dibandingkan dengan rasa jenuh yang saya hadapi. Bayangkan saja: setiap hari masak sendiri, dimakan sendiri, makanannya juga yang itu-itu saja. Saya yang baru beberapa hari menjalani sudah mengeluh, bagaimana istri saya yang sudah menjalaninya selama bertahun-tahun???

Akhirnya saya mengerti: dibandingkan pekerjaan saya di luar rumah, pekerjaan istri saya bisa lebih membuat depresi, terutama kalau berkaitan dengan anak-anak. Karena itu, saya sadar kalau me time memang sangat penting untuk mama muda.

Memanjakan diri sendiri dengan aktivitas yang disukai (termasuk tidak melakukan aktivitas apapun) sangatlah penting untuk membuat para mama muda zaman now memiliki kesehatan mental yang stabil. Jadi, kalau ada orang (terutama suami) yang menganggap pekerjaan ibu rumah tangga remeh, kayaknya dia mesti coba mengurus rumah sendirian.

Tapi, yaaaah, kalau mau ngurus rumah sendiri minimal harus 1 bulan, biar bisa ngerasain sensasi pekerjaan rumah tangga. Kalau nyobanya cuma sehari  atau cuma dua hari, itu mah namanya masa trial aplikasi gratisan!

  • 143
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles