Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Dalam Berpolitik, Kita Memang Harus Belajar Pada Pecinta Dangdut Koplo

Redaksi oleh Redaksi
4 Mei 2018
A A
Prabowo-dan-Jokowi-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kontestasi politik dalam lima tahun terakhir ini memang terasa betul sangat memuakkan. Diawali dengan pemilihan presiden 2014, kemudian dilanjut dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017, dan kemudian akan segera disusul dengan pemilihan presiden 2019.

Selama lima tahun terakhir ini, setidaknya terbentuk polarisasi kubu yang begitu berlawanan satu sama lain. Pertarungan antara dua kubu seakan memang sudah didesain untuk menjadi pertarungan urat syaraf yang abadi. Dua kubu ini yang saling bertentangan ini seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, punya banyak penyebutan nama, dari mulai bani taplak dan bani serbet, jokowers dan prabowers sampai kecebong dan kampret.

Iklan

Dua kubu yang saling berlawanan ini benar-benar menguasai setiap dinding-dinding kebencian di media sosial. Setiap isu yang berhubungan dengan kontestasi selalu bisa digiring menuju keributan. Saling serang, saling sindir, saling hujat.

Pertentangan dua kubu ini tentu saja menimbulkan efek yang bukan main ngeheknya. Dari mulai keyakinan untuk tidak mau menyalatkan mayit saudara sendiri, menghilangkan rasa empati dan pembiaran terhadap tindak pembullyan, sampai yang paling parah, putus hubungan sahabat, saudara, sampai asmara.

Kalau sudah begini, rasanya kita bisa maklum jika pada suatu masa, Thomas Jefferson pernah menulis, “Jika masuk surga harus melalui partai politik, maka aku memilih untuk tidak masuk surga.”

Pada titik ini, agaknya memang kita harus mulai berkaca dan belajar pada dangdut koplo. Dalam urusan pertentangan, dangdut koplo adalah suri tauladan yang paling bijak dan bisa diandalkan.

Seorang pecinta Sera, misalnya, ia tak akan segan untuk tetap membeli kaset CD Monata. Atau seorang sahabat New Pallapa yang tak akan keberatan jika ia harus mendengarkan lagu-lagu dari Sagita.

Contoh yang lebih sederhana, dalam sebuah konser dangdut, akan ada satu kesempatan ketika si biduan bertanya kepada para penonton ingin dibawakan lagu apa. Para penonton kemudian mulai berebut, saling berteriak mengusulkan lagu favoritnya.

“Bojo galaaaak!” teriak seorang penonton.

“Kimcil kepolen!” sahut penonton lain.

“Secawan madu!” balas penonton yang lainnya lagi.

Pada akhirnya, tidak semua lagu bisa dibawakan. Namun begitu, penonton yang usul dan lagunya tidak dibawakan akan tetap legowo dan tetap menerima lagu usulan dari penonton lain.

Mau yang lebih dalam? Boleh.

Kita bisa contohkan pertentangan antara fans Via Vallen dan Nella Kharisma dalam jagad perkoploan.

Iklan

Hubungan fanatisme Vyanisty (fans Via Vallen) dan Nellalovers (fans Nella Kharisma) sering kali bersifat vice versa. Banyak orang mengamini hal ini.

Namun begitu, sefanatis-fanatisnya seorang Vyanisty, kalau ia sedang berada di depan panggung dengan Nella Kharisma sebagai biduannya, ia akan tetap bergoyang menikmati musiknya. Begitu pun sebaliknya, semilitan-militannya seorang Nellalovers, kalau ia sedang berada di depan panggung dengan Via Vallen sebagai biduannya, ia juga akan tetap berjoget menikmati musiknya.

Mengapa dalam dangdut koplo hal-hal di atas bisa terjadi? Mengapa pertentangan dan persaingan selalu bisa berada dalam koridor yang lentur dan tetap damai? Jawabannya hanya satu: Sebab masing-masing kubu sadar, walaupun pilihan hati berbeda, namun di depan dangdut koplo, semua lebur menjadi satu.

Yah, andai saja fanatisme ala dangdut koplo bisa diaplikasikan pada fanatisme Jokower dan Prabower, pastilah indah rasanya.

Sayang, hal tersebut mustahil terjadi, sebab Jokowi memang bukan Via Vallen, Prabowo bukan Nella Kharisma, dan yang jelas, politik bukan dangdut koplo.

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2018 oleh

Tags: jokowikoploprabowo
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO
Esai

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta MOJOK.CO

KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta

23 Juli 2026
Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.