MOJOK.CO Partai Demokrat tengah mempersiapkan kemunculan Koalisi Kerakyatan lewat pasangan yang baru saja digodok dalam simulasi: JK-AHY.

Dalam rangka meracik kehadiran kekuatan ketiga di antara dominasi Jokowi lawan Prabowo yang (pendukungnya) kian memanas, Partai Demokrat kini tengah memunculkan tren pasangan baru: Jusuf Kalla dan Agus Harimurti Yudhoyono alias JK-AHY.

Sebelumnya, Partai Demokrat dikabarkan masih menjalin komunikasi intensif dengan beberapa partai dan kandidat lainnya. Namun, hadirnya penjodohan ini juga menimbulkan pertanyaan lain—seperti yang diutarakan pihak PKB—tidakkah Partai Demokrat kebanyakan opsi?

Pertanyaan ini tidak hadir tanpa alasan. Nyatanya, Partai Demokrat memang mempersiapkan beberapa nama untuk diusung. Dan, dalam simulasi nama-nama ini, AHY jelas merupakan orang yang paling dijagokan. Tentu saja.

Soalnya, dalam beberapa opsi populer Partai Demokrat, seluruh kandidat yang disebutkan dalam simulasi ini seluruhnya disandingkan dengan AHY. Misalnya, Prabowo-AHY, Jokowi-AHY, Chairul Tanjung-AHY, Gatot-AHY, hingga JK-AHY. Belum ada keputusan yang pasti mengenai hal ini, namun Partai Demokrat mengakui bahwa pasangan JK-AHY adalah opsi baru yang masih hangat dibahas secara internal.

Dalam simulasi yang akan terus dilakukan, Partai Demokrat menyebutkan bahwa pasangan AHY yang terkuat hingga saat ini adalah Jokowi, Prabowo, dan Gatot. Namun demikian, menurut Ketua DPP Demokrat, Jansen Sitindaon, pasangan JK-AHY merupakan sebuah “pasangan ideal” untuk mewujudkan Koalisi Kerakyatan. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Koalisi Kerakyatan adalah upaya yang dibangun Partai Demorat untuk menyaingi Koalisi Keummatan dan Poros Kekuasaan.

Baca juga:  Dipengaruhi Filosofi Cina, Apakah Prabowo Tak Lagi Anti-Aseng?

Munculnya nama AHY dalam panggung politik Indonesia melalui Partai Demokrat memang mencuri perhatian. Masih jelas di ingatan, tempo hari AHY ramai dibicarakan karena mengeluarkan 5 kritik bagi pemerintahan Jokowi-JK yang mencakup: penurunan daya beli masyarakat, kenaikan tarif listrik, sempitnya lapangan kerja, jumlah tenaga kerja asing, dan keberlangsungan mental.

Reaksi masyarakat menanggapi kritik AHY pun beragam. Tapi, ada satu hal yang bisa dipelajari dari kritikan balasan masyarakat atas kritik AHY:

Siapapun pasangan AHY nantinya—mau Jokowi-AHY kek, JK-AHY kek, Prabowo-AHY kek, dan lain-lain—Partai Demokrat jelas punya PR besar untuk membuat masyarakat move on dari citra AHY yang sudah telanjur terpatri, yaitu sebagai putra mantan Presiden SBY yang “terpaksa” melepas posisinya di bidang militer demi terjun ke dunia politik. Itu saja dulu.

Malah, ada seseorang yang berkelakar. Katanya, JK-AHY bisa saja bukan Jusuf Kalla-Agus Harimurti Yudhoyono, melainkan Jo Kesusu, AHY.

Hehe~