• 13
    Shares

MOJOK.CO ­– Setelah pelukan bareng atlet silat saat Asian Games 2018 kemarin, kali ini Jokowi dan Prabowo tampak kompak soal menolak penggunaan Bahasa Inggris untuk debat capres-cawapres.

Usulan penggunaan Bahasa Inggris untuk debat capres-cawapres sempat ramai setelah muncul ide dari politisi PAN, Yandri Susanto. Menurut Yandri, format debat pakai Bahasa Inggris cukup menarik juga untuk dipertimbangkan oleh KPU.

“Boleh juga kali ya? Ya, makanya hal-hal detail seperti ini perlu didiskusikan,” kata Yandri seperti diberitakan detik.com.

Masalahnya, saat itu Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Gerindra pernah kelepasan mengomentari usulan ini. Sehingga jadi isu yang cukup ramai dibicarakan, terutama di media sosial.

“Kalau pakai bagus, kalau nggak juga nggak apa-apa. Tapi kalau ada, ya itu berarti itu suatu kemajuan, tetapi kalau nggak, ya, nggak ada masalah,” kata Fadli Zon.

Penggunaan Bahasa Inggris ini memang lebih banyak diusulkan oleh koalisi partai oposisi. Selain dari PAN dan Gerindra, ada juga dari Ferdinand Hutahean dari Partai Demokrat yang penggunaannya barangkali bisa dicampur. Ada Bahasa Indonesianya, ada Bahasa Inggrisnya. “Yang penting substansinya dapat,” kata Ferdinand.

Selain mereka, ada pula Ketua DPP Partai Demokrat, Janesn Sitindoan yang memberikan gambaran bahwa debat antar-cagub di Pilgub Jawa Timur tidak melulu bahasa Indonesia, melainkan juga ada bahasa Jawa. Apalagi menurut Jansen, pemimpin Indonesia diharapkan cakap dalam berdiplomasi dengan bahasa Inggris ketika bertemu dengan pemimpin-pemimpin asing.

Baca juga:  Abdul Rani Rasjid, Capres yang Menurut Polling Mengungguli Jokowi dan Prabowo

“Ketika menyampaikan visi dan misi dan berbicara banyak menggunakan istilah-istilah Bahasa Inggris. Jadi sekalian saja diformalkan ada satu sesi debat oleh KPU, misalnya di sesi ketika bicara hubungan Internasional pakai Bahasa Inggris,” kata Janesen seperti diberitakan detik.com.

Akan tetapi usulan-usulan tersebut oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) ditolak karena penggunaan Bahasa Indonesia lebih mudah bisa dimengerti oleh semua kalangan. Bahkan dua kubu capres yang akan beradu untuk Pilpres 2019 sama-sama menolak penggunaan Bahasa Inggris saat debat.

Usulan soal debat menggunakan Bahasa Inggris ditolak oleh Jokowi dan Prabowo. Sebelumnya, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa debat antar-capres tidak perlu menggunakan bahasa asing.

“Saya kira nggak perlulah,” kata Prabowo.

Prabowo lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia karena bahasa itu merupakan bahasa kebangsaan, sekalipun secara kemampuan berbahasa asing, Prabowo memang punya reputasi lebih jago ketimbang Jokowi. “Bahasa Indonesia aja, bahasa kebangsaan,” tambah Prabowo.

Hal senada juga disampaikan oleh Sandiaga Uno, cawapres yang akan mendampingi Prabowo, dalam kesempatan yang berbeda pemilihan bahasa ditekankan agar masyarakat lebih mudah memahami adu gagasan yang terjadi. Bukan sok-sokan memamerkan siapa yang lebih jago Bahasa Inggris di antara para capres.

“Saya rasa nggak perlu ya. Ini pendapat pribadi saya, bahwa bahasa kita adalah Bahasa Indonesia. Bahasa yang dimengerti 100 persen oleh orang Indonesia. Bahasa Inggris ya ada yang mengerti, tapi karena kita ingin menjangkau seluruh rakyat Indonesia,” kata Sandi.

Baca juga:  Sertifikat atau Sertipikat, Mana yang Benar?

Di sisi lain, dari pihak lawan, Jokowi juga kompak untuk sepakat dengan penggunaan Bahasa Indonesia saja. “Kita ini kan bangsa Indonesia. Kita ini Bangsa Indonesia, kita punya bahasa nasional Bahasa Indonesia,” kata Jokowi.

Nah, gitu dong, Pak Jokowi dan Pak Prabowo, sekali-kali kompak kan enak rakyat lihatnya. Mau pakai Bahasa Inggris kek, Bahasa Indonesia kek, atau Bahasa Planet Namec sekalian, kalau yang beradu untuk Pilpres 2019 saja kompak begini kan adem rasanya. (K/A)