Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Kalau Semua Maling Ditangkap, Nanti yang Nyolong Siapa?

Redaksi oleh Redaksi
14 Oktober 2017
A A
171014 KILAS OPERASI TANGKAP TANGAN

171014 KILAS OPERASI TANGKAP TANGAN

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Netizen dibikin geli dengan pernyataan bahwa operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK akan menghabiskan pejabat.  Siapa yang bikin pernyataan itu? Beliau adalah Pak Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI. Pejabat yang korup dikira beda ama maling apa ya. Ia mengatakan ini di acara “Penyerapan Aspirasi Masyarakat: Penguatan Kejaksaan dalam Sistem Ketatanegaraan di Indonesia” di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, 9 Oktober lalu.

Menurut Pak Zul, KPK itu kan lembaga penegakan hukum pemberantasan korupsi extraordinary, artinya lembaga yang diberi kewenangan khusus untuk memberantas kasus khusus, lha kok akhir-akhir ini semakin sering melakukan Operasi Tangkap Tangan? Pak Zul berpendapat bahwa kasus dugaan korupsi dengan barang bukti hanya puluhan juta pun dilakukan OTT. Padahal, KPK adalah lembaga penegakan hukum extraordinary, harusnya ya nangkep maling yang korupsinya tinggi, mungkin blio niatnya ngomong begitu.

Iklan

Sebelumnya beliau juga memberikan komentar terkait OTT terhadap pejabat tinggi di Kementerian Perhubungan dan panitera pengganti di Pengadilan Jakarta Selatan. “Masih nggak kapok-kapok. Akhirilah korupsi apalagi mengambil uang rakyat. Walaupun nggak terlihat, yakinlah temboknya bisa ngomong, apalagi ada KPK, polisi, kejaksaan, hentikanlah mengambil uang rakyat itu,” ujar Zulkifli kepada wartawan di gedung MPR pada 24 Agustus.

Mungkin niat Pak Zul baik, dia berpikir kalau semua semua maling dan koruptor yang nyambi jadi pejabat dibabat habis oleh KPK, nanti polisi kerja apa? Ingat tidak, paling nggak sudah ada beberapa orang anggota DPR yang tertangkap tangan karena kasus korupsi atau suap. Seperti I Putu Sudiartana dari Partai Demokrat, Andi Taufan Tiro dari Partai Amanat Nasional, Budi Supriyanto dari Partai Golkar, Damayanti Wisnu Putranti dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Dewie Yasin Limpo dari Partai Hanura, Patrice Rio Capella dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem), dan Adriansyah dari PDIP.

Belum lagi pejabat seperti gubenur, hakim, sampai jenderal polisi. KPK memang demikian sigap bekerja: jika dulu dibilang tebang pilih, sekarang mereka terbukti berkomitmen untuk menangkap siapa pun tanpa peduli latar belakangnya. Pak Zul mungkin benar, ia perlu waswas, tapi kalau memang tidak korup, bukan maling, tidak terima suap, dan tidak terima uang sogokan, kenapa harus takut? Bukankah tugas wakil rakyat itu bekerja dengan baik? Kalau memang takut ditangkap, ya jangan menggarong.

Salah satu inspirasi lahirnya KPK adalah unit antikorupsi dari Hongkong. Independent Commission Against Corruption (ICAC) didirikan pada 15 Februari 1974. Organisasi ini fokus pada pemberantasan korupsi dan suap terhadap aparatur negara. Pada 1976, ICAC melakukan penggerebekan sindikat narkoba Yau Ma Tei yang beroperasi di pasar buah. Dalam mengerjakan kasus ini, ICAC menangkap 87 polisi yang menerima suap sehingga kantor polisi lokal hampir kosong. Apakah ketua DPR Hongkong mengeluh? Tentu tidak berani, rakyat berada di balik ICAC karena berani membersihkan lembaga korup.

Prinsip utama dalam membersihkan kotoran adalah menggunakan perangkat yang bersih. Di Hongkong, ICAC sebagai lembaga independen fokus pada pembersihan lembaga hukum seperti polisi dan kejaksaan. Logikanya, jika aparatnya bersih, mereka akan bekerja dengan baik untuk memberantas kejahatan, baik korupsi atau yang lain. Nah, di sini KPK jadi penting dalam menjaga wibawa pejabat. Jika tak ingin KPK menangkap habis pejabat, ya jangan korupsi atau menerima suap; harusnya logika ini bisa dipahami semua orang.

Mungkin sudah waktunya kita kembali menyadari pentingnya KPK. Selama ini mereka berusaha dilemahkan wewenangnya, seperti menyadap dan melakukan penangkapan, padahal melalui proses inilah KPK bisa membabat habis koruptor yang merampok uang rakyat. Tinggal pilihannya sederhana, apakah Pak Zul dan orang-orang di DPR sana berpihak kepada rakyat atau kepada pejabat korup? Sesederhana itu.

171014 KILAS OPERASI TANGKAP TANGAN INFOGRAFIK

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2017 oleh

Tags: dprketua mprkorupsiOTT KPKZulkifli Hasan
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO
Tajuk

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO
Esai

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
AUBMO Selamatkan Hidup Mahasiswa penerima KIP-K di Unair. MOJOK.CO
Sekolahan

Di Balik Skandal Korupsi Rp103 Juta, AUBMO Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Penerima Beasiswa yang Merantau

23 Juni 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO
Tajuk

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.