MOJOK.COMereka yang tidak boikot pajak adalah setan kurap, kata Arif Poyuono, menciptakan sebuah istilah. Ki Amien Rais pasti bangga setengah mati.

Kalau di sepak bola, ada yang namanya wonderkid. Ia adalah sosok pemain belia yang punya potensi menjadi pemain kelas dunia. Latihan ideal dan bimbingan pelatih yang tepat, perkembangan wonderkid akan sangat cepat. Nah, di dunia politik, yang namanya wonderkid juga ada. namanya Arif Poyuono, wonderkid penerus Ki Amien Rais.

Semuanya perlu dimulai dengan sebuah kontroversi. Momennya adalah ketika kubu BPN Prabowo-Sandiaga Uno bersikeras bahwa telah terjadi kecurangan di Pilpres 2019. Ramai-ramai aksi protes kepada KPU dan Bawaslu. Kubu Prabowo merasa dicurangi. Memanfaatkan momentum emas, Arif Poyuono bermetamorfosis menjadi wonderkid yang langsung menggebrak.

Ki Amien Rais dikenal dengan kelihaiannya menciptakan istilah untuk menyerang kubu lawan. Sesepuh Partai Amanat Nasional (PAN) itu mungkin bisa pensiun dengan tenang lantaran Arif Poyuono langsung melejit menjadi sasaran tembak. Betul, sasaran tembak dua kubu sekaligus, yaitu TKN Jokowi-Ma’ruf dan BPK Prabowo-Sandiaga.

Sungguh prestasi tersendiri ketika seorang Arif Poyuono bisa menyatukan cebong dan kampret yang saling jegal selama ini. Bapak Arif ini menyebut mereka-mereka yang tergabung dalam koalisi BPN, termasuk kader Gerindra yang tidak memboikot hasil Pilpres 2019, termasuk ajakan tidak membayar pajak, sebagai setan kurap.

Baca juga:  Perbedaan Hoaks Soal Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019 Menurut Ketum PPP Romahurmuziy

“…hasil pemilu curang dan tidak legitimate karena dihasilkan dari suara suara setan alas dan bukan dari suara rakyat, suara Allah, dengan tolak membayar pajak nantinya, mereka ini semua kayak setan-setan kurap yang selama ini menyusup di sekitaran Prabowo-Sandi ya,” kata Arif kepada Detik.

Betul, Bapak Arif ini mengajak pendukung Prabowo untuk tidak perlu membayar pajak karena pemerintahan hasil Pilpres itu tidak sah. “Kalau hasil pemilu itu tidak sah, tidak kami akui, artinya ngapain kami tunduk? Seperti bayar pajak, untuk apa kita bayar pajak dari pemerintahan yang tidak sah?”

Sontak, ajakan ini membuat banyak orang panas. Bukan hanya dari lawan politik alami mereka, TKN, bahkan anggota BPN Prabowo pun meradang. Moeldoko dan Sri Mulyani mengecam habis ajakan Arif itu. Bahkan Sri Mulyani menegaskan bahwa Arif perlu ingat bahwa partai-partai mendapat “subsidi” dari ABPN.

Desmond J Mahesa, Ketua DPP Gerindra, rekan satu tim Arif Poyuono juga ikut meradang. Bahkan, Desmond memandang ajakan Arif itu seperti membakar rumah koalisi mereka sendiri. “Arief Poyuono kan kesannya membakar gitu lo.” Apalagi, beberapa saat sebelumnya, Arif sudah “mengusir” Partai Demokrat dari koalisi.

Senada dengan Desmond, Sandiaga Uno dengan tegas menolak ajakan Arif. “Saya ingin mengingatkan kita bahwa negara kita lagi sulit, ekonomi neraca perdagangan kita jeblok. Kita juga lihat pelambatan ekonomi. Kita justru perlu meningkatkan dengan menambah basis pembayar pajak.”

Baca juga:  Caleg Miskin: "Jokowi Baru" Atau Bakal Tertelan Oligarki yang Sama

Apalagi, saat ini, negara sedang membutuhkan pemasukan dari pajak. “Kita juga harus mampu meningkatkan revenue kita dari pajak dari sistem IT yang lebih baik. Kami mengusulkan bahwa ada penerimaan negara, yang dipisah dari Kementerian Keuangan dan itu butuh pendekatan yang dihadirkan dengan pemerintahan yang kuat dari pemerintahan yang cerdas.”

Wah, alamat jadi setan kurap semua, nih. Apa Bapak Arif ini nggak kasihan sama setan. Katanya mereka dikerangkeng selama Ramadan. Masih saja diseret-seret. Kasihan, Pak. Biarkan mereka piknik atau pendalam materi dulu selama nggak keluyuran.

(yms)

 



Loading...



No more articles