Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Penjaskes

Nunggak BPJS dan Lebih Memilih Berobat ke Orang Pintar

Redaksi oleh Redaksi
23 Desember 2019
A A
nunggak BPJS MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak orang yang merasa hidupnya tetap tenang ketika nunggak BPJS. Mereka lebih percaya dengan pengobatan orang pintar karena hasilnya (terlihat) instan.

Sepulang kantor, saya berkendara di bawah rintik gerimis. Jalanan jadi licin. Karena sudah agak malam, saya memacu motor lebih cepat ketimbang biasanya. Sampai di sebuah pertigaan, dari arah kiri, arah masuk dalam gang, muncul motor tanpa lihat kanan dan kiri.

Motor di depan saya mengerem mendadak. Panik, saya juga melakukan hal yang sama. Celaka, ban belakang motor saya sudah gundul. Hasilnya, ban motor selip dan oleng ke arah kiri. Saya jatuh dan terseret motor sejauh beberapa meter. Relfek, saya mengangkat kepala dan memosisikan bahu kiri untuk membentur aspal kali pertama.

Hasilnya, tiga tulang rusuk bagian belakang saya patah. Untungnya, patahan itu tidak terjadi di satu tulang rusuk. Jika sampai terjadi, saya harus naik meja operasi. Karena patahannya terjadi di tiga tempat, pengobatan cukup dengan minum obat dan bed rest selama dua bulan. Saya takut jatuh dari motor? Nggak begitu, sih. Saya lebih takut dengan biaya rumah sakit.

Untung saja, saat itu saya belum nunggak BPJS. Semua biaya rumah sakit selesai oleh BPJS. Saya keluar dari rumah sakit dengan beragam macam obat dan tagihan terapi. Setelah memeriksa nota pembayaran, saya hanya perlu membayar 300 ribu rupiah saja. Seingat saya itu biaya konsultasi dengan dokter spesialis tulang dan penyakit dalam.

Saya tidak bisa membayangkan kalau saat itu nunggak BPJS. Atau lebih parah, saya belum mendaftar asuransi pelat merah itu. Sekarang, pengalaman itu membuat saya berpikir kenapa masih banyak yang nunggak BPJS padahal biayanya terjangkau. Istilah terjangkau memang berbeda-beda tiap orang. Namun, bagi seorang pekerja atau kelas menengah, biaya BPJS masih terjangkau.

Namun, yang masih terjadi adalah nunggak BPJS. Bahkan, sudah nunggak BPJS, beberapa orang yang saya kenal lebih suka pergi ke orang pintar untuk berobat. Saya tidak dalam posisi menyalahkan atau membenarkan. Toh itu preferensi pribadi. Cuma, kalau punya, sebaiknya jangan nunggak BPJS karena ini bukan asuransi semata tetapi usaha membantu sesama yang sakit dan membutuhkan biaya berobat.

Tentu saya bertanya kepada teman yang pernah nunggak BPJS dan suka sowan ke orang pintar. Alasanmu apa?

Prima Sulistya, Pemred Mojok itu pernah mengutarakan empat alasan orang memilih nunggak BPJS dan tidak berobat ke medis demi pergi ke orang pintar. Empat alasan itu, pertama, kita lebih percaya hal-hal supranatural sejak kecil. Kedua, pengobatan orang pintar lebih murah ketimbang pengobatan medis.

Ketiga, kesembuhan terlihat dengan cepat, meskipun tidak semua merasakannya. Keempat. Promosi dari mulut ke mulut yang masif. Izinkan saya menambah satu poin hasil dari ngobrol dengan teman yang nunggak BPJS: malas karena mengurus BPJS itu ribet betul.

Saya rasa ini pola pikir yang umum lahir. Pasien yang hendak menggunakan BPJS harus sudah mengantre sejak subuh demi mendapatkan nomor antre kecil. Tidak banyak yang bisa bangun pagi untuk menganter. Padahal, kata “antre” itu sudah bikin malas, ditambah antrean BPJS. Saya pun mengalami ketika hendak terapi. Bapak saya berangkat pukul 04.00 pagi dan itu saja masih mendapatkan nomor antrian lebih dari 10.

Bagi banyak orang, mengantre itu pekerjaan yang menyebalkan. Itu baru mengantre ambil nomor urut, belum mengantre untuk dipanggil ke meja resepsionis, lalu antre dipanggil dokter. Berangkat ke rumah sakit pukul 06.30 pagi, saya pulang menjelang sore. Saya sih santai saja, lha wong gratis. Tapi, banyak orang tidak bisa sesantai saya.

Teman saya memilih nunggak BPJS ketimbang menghabiskan waktu untuk mengantre. Apalagi dia sudah pernah dibuat kesal ketika mengurus faskes 1 dan 2. Jadi, banyak orang itu sebetulnya bersyukur biaya rumah sakit “disubsidi” pemerintah. Namun, mereka jadi malas karena proses memanfaatkannya yang terlalu ribet.

Dia semakin yakin dengan status nunggak BPJS ketika patah tulangnya bisa sembuh ketika dibawa ke orang pintar yang ahli patah tulang di Jawa Tengah. Meski sampai sekarang masih merasakan ngilu, tetapi dia sudah yakin akan segera sembuh. Saya pernah mengingatkan kalau patah tulang harus tuntas pengobatannya. Namun, dia bergeming dan saya tidak mungkin memaksa.

Iklan

Dari kasus ini, menjadi masuk akal ketika ada orang yang sudah putus asa berobat ke dokter lalu memilih sowan ke Bu Ningsih Tinampi. Bahkan ketika dia harus antre selama satu tahun dan mengeluarkan biaya besar. Sudah kadung kecewa, antre BPJS juga lama (padahal beberapa jam saja), dan bukti hasil orang pintar yang instan bikin orang nggak masalah nunggak BPJS.

Sampai di titik ini, perbaikan pelayanan BPJS memang perlu dilakukan. Defisit BPJS, mungkin, bisa dikurangi dengan lebih banyak orang bayar tepat waktu. Nunggak BPJS nggak selalu bisa diatasi dengan denda dan hukuman. Apalagi kalau sudah ngomongin boleh nggak berhenti BPJS saja. Lha itu kan sebetulnya hak kita kan untuk punya asuransi merek apa.

BACA JUGA Bayar Jutaan ke Orang Pintar Bisa, Giliran BPJS Malah Nunggak atau tulisan dari rubrik PENJASKES lainnya.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2019 oleh

Tags: asuransiBPJSningsih tinampinunggak BPJSorang pintarpatah tulang
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

bpjs kesehatan.MOJOK.CO
Kabar

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja.MOJOK.CO
Catatan

Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

29 Januari 2026
Kepesertaan BPJS Kesehatan Jawa Tengah capai 98% MOJOK.CO
Kilas

Kepesertaan BPJS Kesehatan di Jateng Capai 98,68%, Digenjot demi Bantu Masyarakat Dapat Layanan Paripurna

3 September 2025
Pedih orang-orang yang penyakitnya tidak ditanggung BPJS MOJOK.CO
Ragam

Tersiksa Punya Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS, Biaya Pengobatannya bikin Putus Asa

14 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.