• 953
    Shares

MOJOK.CO Doa buka puasa “Allahumma laka shumtu” dinilai berasal dari hadis dhaif. Pernyataan ini kembali ramai dibahas menjelang bulan Ramadan.

Puasa sebentar lagi. Selain iklan sirup Marjan dan Dedy Mizwar yang biasanya bakalan sering nongol di televisi, isu-isu lain yang berbau religi berpotensi menjadi bahasan lain yang tidak kalah seru. Kadang, isu-isu ini pun sifatnya sama dengan perihal “Valentine itu haram” yang biasanya hanya ramai setahun sekali. Dengan kata lain, isu-isu ini adalah mereka-mereka yang sifatnya annually gitu, deh~

Yang kembali hangat dan menjadi bahan perbincangan orang-orang adalah perkara doa berbuka puasa “Allahumma laka shumtu…” yang dinilai sebagai hadis dhaif. FYI, hadis dhaif adalah hadis yang sanadnya (rentetan periwayatnya) tergolong lemah.

Seperti yang kita ketahui, ada bacaan-bacaan yang populer sebagai doa berbuka puasa, yaitu:

  1. Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.
  2. Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu.

(Catatan: Bagian “wa bika aamantu” sering disebut bagian yang tidak diketahui sanadnya, namun tetap dianggap shahih.)

Kedua doa ini terangkum dalam Kitab Sunan Abu Daud yang diriwayatkan oleh Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani. Meski begitu, kedua doa ini memiliki kualitas yang berbeda.

Apppuaaaa???

Naaah, dari kedua doa ini, doa berbuka puasa nomor 2 tadi dianggap sebagai hadis dhaif karena merupakan hadis mursal yang sanadnya terpotong (hanya sampai ke golongan tabi’in (sahabat Rasul)tidak sampai riwayatnya kepada Rasulullah saw.). Ini tentu berbeda halnya dengan doa berbuka nomor 1 yang dianggap shahih dan dibaca oleh Rasulullah saw..

Baca juga:  Mempertanyakan Kepantasan Ustaż Kiwil

Menanggapi pro dan kontra mengenai doa berbuka puasa yang kerap diucapkan banyak orang ini, Ustaz Ahmad Sarwat menyampaikan pandangannya di laman Facebook-nya.

Melalui tulisannya, Ahmad Sarwat tampaknya keberatan terhadap pendapat beberapa pihak yang disebutnya menyatakan bahwa hadis dhaif langsung menjadi haram untuk dibacakan. Dalam statusnya tadi, beliau berujar, “Apakah kita tidak boleh mengarang doa sendiri? Apa semua doa harus pakai Quran atau hadits shahih? Apakah doa ngarang sendiri itu haram?”, diikuti dengan contoh yang diajukannya: qunut dalam salat witir, yang sering kali merupakan gubahan dari imam.

Tulisan Ustaz Ahmad Sarwat hingga kini telah disukai oleh lebih dari 1.000 pengguna Facebook dan dibagikan oleh 400 orang. Mengenai pernyataannya, beberapa orang turut memberikan suara, bahkan hingga saling berbalas pendapat di kolom komentar.

Misalnya thread ini…

Dickie Hardiansyah: Bagaimana dengan pendapat… Berdoa itu ibadah mahdlah, karenanya teknis dan bacaannya harus sesuai dgn yg diajarkan Rasulullah. Ketika kita tidak bisa/ hafal maka di situ diberikan keringanan misalnya dengan selain bahasa Arab jika tidak hafal teks yg diajarkan oleh Rasulullah.
dr seorang ustadz sebelah sono.

Lisa M Murhan: Itu sdh jelas contoh yg ditulis ustadz, doa qunut

Itus Putra Wijaya: Mungkin ustadz sebelah sono blm pernah ke mekah atau madinah

Atau thread yang ini…

Ricky Ariyanto: Gmn kalo gini…
Qunut kan sunnah ya
Sdangkan puasa itu wajib.
Mestinya perbandingannya apple to apple dong
Bacaan sholat dibanding bacaan puasa.
Misal di shalat al fatihah, tiba tiba diganti bacaan sndiri.
Baru dibandingkan deh dengan bacaan buka puasa ramadhan (karena sama sama wajib)

Baca juga:  Kesunyian Imam Tarawih

Fatih ElMufid Lho, yg lg dibahas doa buka puasa pak, bkn puasanya. Justru kalau disandingkan ma puasanya jadinya qiyas ma’al fariq.
Yg ditulis diatas sdh aple to aple
Doa buka puasa vs doa qunut

Chaidir Doang Nanya dong, baca doa buka puasa wajib ga ya?

Wido Supraha Ricky Ariyanto berbuka dari puasa bukan dengan berdo’a, tapi dengan melakukan amal yang sebelumnya diharamkan: makan, minum, jima’, muntah. Dalam hal ini, do’a tidak dimasukkan dalam kewajiban.

Hmmm~

Senada dengan status tadi, Ustaz Adi Hidayat dalam salah satu videonya pun menegaskan bahwa pada dasarnya jika kita membaca salah satu doa berbuka puasa tadi, maka doa pun dinilai sudah benar. Namun, jika ingin keluar dari perselisihan atau perdebatan yang berkepanjangan, kamu bisa mengutamakan doa berbuka puasa nomor 1, tanpa harus mencela mereka yang memilih membaca doa nomor 2.

Teruuus, kalau menurut kamu gimana nih, Kakak-Kakak?

  • 953
    Shares


Loading...



No more articles