MOJOK.CO Bahasa gaul terus berkembang dari waktu ke waktu. Kami yakin, dangdut adalah pihak yang berjasa menotulasi perkembangannya lewat lagu-lagu.

Masih terngiang lagu Cita-citata yang judulnya “Sakitnya tuh di Sini” beberapa tahun silam. Lagu ini konon hadir dari istilah gaul yang kala itu berkembang buat menggambarkan patah hati yang ultimate sakitnya. Istilah ini tergolong biasa saja, nggak unik-unik amat, tapi ramai jadi bahan perbincangan. Setelah diadaptasi menjadi lagu dangdut, lagunya pun ikut viral. Semenjak saat itu, secara otomatis musik dangdut punya andil untuk menjelma jadi glosarium bahasa gaul.

Penyanyi iMeyMey pernah menyanyikan “Gue mah Gitu Orangnya” sebagai respons terhadap meme dan istilah yang sedang banyak diperbincangkan di media sosial ketika itu. Seolah-olah tak bosan, iMeyMey kembali merilis lagu dari istilah “Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih”. Istilah ini muncul sebenarnya karena acara televisi 86 saat seorang polwan yang profilnya sedang disorot, mengatakan istilah tersebut dengan mimik muka mengharukan. Ibu polwan jadi bahan meme, istilahnya pun diabadikan dalam lagu dangdut. Sebuah penghormatan dengan cara tidak biasa.

Seperti belum puas, iMeyMey kembali menggeber panggung dengan rilis lagu dari bahasa gaul lainnya. Istilah yang saking digdayanya juga pernah dicuitkan DJ Internasional sekelas Zedd dan The Chainsmoker, “Om Telolet Om”. Sungguh keriaan klakson bus yang mendunia. Dengan ini Mbak iMeyMey bisa dinobatkan sebagai pegiat kamus urban bahasa gaul yang paling rajin nge-draft.

Baca juga:  Kubu Prabowo-Sandi Siap Menerima Apa Pun Keputusan MK

Bahasa gaul memang lebih cepat berkembang daripada sayur sawi hidroponik yang kalian tanam di masa pandemi. Antusias netizen memperbincangkan hal baru mampu melahirkan berbagai budaya kocak yang tak seorang pun tahu formulanya. Ada satu istilah yang lahir dari meme dan sampai sekarang masih sering diucapkan orang ketika menghadapi kejutan hidup yang sebenarnya nggak bikin terkejut. Iya. Sesuatu yang dari awal sudah bisa diprediksi, tapi agak kaget ketika itu terjadi. Istilah itu adalah “hmmm sudah kuduga” lengkap dengan foto mas-mas mencubit dagu.

Mas-mas itu sudah ditemukan, sudah ramai di media sosial, dan istilahnya juga masih laris manis. Saking terkenalnya, nggak hanya lagu dangdut yang mengabadikan istilah ini dalam lagu (iya ini kan sudah keniscayaan), The Changcuters pun ikut-ikutan bikin lagu dengan judul “Hmmm… Sudah Kuduga”.

Memang bisa dibilang musik dangdut nebeng populer lewat bahasa gaul. Tapi, hal ini sekaligus bikin musik dangdut berjasa besar untuk bikin kamus urban yang paten dipelajari oleh mereka yang khawatir ketinggalan zaman. Dari mana lagi kita bakal belajar budaya pop netizen kalau nggak dari musik?

Yang terbaru, Vebrie Verona bakal merilis lagu “Ga mau, Ga Suka Gelay” yang viral karena diucapkan oleh Nissa Sabyan. Terlepas dari isu pribadi yang berkaitan dengan grup musik Sabyan, diakui ataupun tidak, cara Nissa bilang “gelay” itu wholesome banget. Pantas saja Aldi Taher getol.

“Gelay” pun dalam sekejap bisa kita sepakati sebagai bahasa gaul yang awalnya diketahui kaum-kaum urban aktivis scrolling TikTok dan kini rasanya di semua medsos sudah kenal kata ini. “Gelay” sebenarnya bentuk distorsi dari istilah campur kode “nggak like” atau “nggak suka”. Perhatikan bagaimana Nissa Sabyan mengatakannya dalam satu kalimat bulat, “Ih nggak mau, nggak suka, gelayyy.” Kata “gelay” memang dimaksudkan buat menegaskan kata “nggak suka” yang sebelumnya dia ucapkan.

Entah dimaksudkan buat menyindir atau lagi-lagi demi nge-draft bahasa gaul yang lagi ramai, lagu Vebrie Verona memang begitu adanya. Konon musik dangdut adalah musik paling merakyat yang bisa dinikmati semua kalangan tanpa memandang sirkel dan tongkrongan. Jadi, semoga lagu “Ga Mau, Ga Suka Gelay” ini bisa merakyat layaknya jati diri dangdut.

BACA JUGA Pembagian Kelas Pasukan Joget di Konser Dangdut Koplo dan artikel KILAS lainnya.

Baca juga:  Kebangkitan Kedua Didi Kempot: Karena Tak Seharusnya Orang Bersedih Sendirian