Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame Moknyus

Gerindra: Pilpres 2019 Bisa Jadi Pertempuran Terakhir Prabowo

Redaksi oleh Redaksi
23 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ketika mendapatkan dukungan dari 300 purnawirawan jenderal TNI, Prabowo mengungkapkan soal istilah “pertempuran terakhir”. Apa maksudnya?

Calon presiden, Prabowo Subianto, beserta wakilnya, Sandiaga Uno, mendapatkan tambahan dukungan morel yang sangat besar menjelang Pilpres 2019. Ketum Partai Gerindra tersebut mendapatkan dukungan dari, tidak tanggung-tanggung, 300 purnawirawan jenderal TNI.

Iklan

Pernyataan dukungan para jenderal untuk Prabowo-Sandiaga tersebut dideklarasikan seusai acara diskusi bertajuk “Ngobrol Bersama 300 Jenderal dan Para Intelektual” di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, pada Sabtu 22 September 2019 lalu.

Sebanyak 300 purnawirawan jenderal ini menyatakan diri mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga sebab mereka merasa yakin bahwa Prabowo dengan segenap kemampuan dan gagasannya merupakan harapan baru bagi Indonesia.

Terharu dengan dukungan yang sangat besar ini, Prabowo menegaskan bahwa ia mengeluarka segala daya yang ia punya untuk merebut kedaulatan Indonesia untuk terakhir kalinya. Sebuah pernyataan yang sontak menimbulkan pertanyaan.

“Saya bertekad untuk memberi segala yang ada pada diri saya. Seluruh tenaga, pikiran, bersama saudara-saudara kira rebut kembali kedaulatan bangsa Indonesia. Terima kasih, terima kasih. Oleh karena itu, terima kasih atas kepercayaan saudara-saudara. Kehormatan yang sangat besar bagi saya, perjuangan kita inilah pertempuran kita terakhir merebut kembali kedaulatan bangsa Indonesia,” ucap Prabowo di Hotel Sari Pacific, Jakarta Pusat.

Apa yang dimaksud sang oposisi dengan pernyataan “pertempuran terakhir” itu? Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga memberikan penjelasan.

“Ya maksudnya itu kan bahasanya karena beliau mantan tantara dan di depan purnawirawan, dan di kontestasi Pilpres 2019 ini dipakailah bahasa TNI soal pertempuran. Saya rasa ini mungkin pemilu terakhir yang akan diikuti Pak Prabowo sebagai calon presiden ya. Nah saya rasa karena itu kontestasi terakhir yang mungkin akan diikuti Pak Prabowo saya rasa tentunya akan semaksimal mungkin untuk memenangkan,” jelas Andre Rosiade, seperti dikutip oleh detik.com.

Saat ini, usia Ketum Gerindra tersebut sudah 66 tahun. Jika kalah di Pilpres 2019 dan maju lagi di Pilpres 2024, maka usianya sudah 71 tahun. Belum setua Ma’ruf Amin, namun mungkin Prabowo merasa sudah waktunya untuk tidak lagi maju, apalagi sudah dua kali kalah pemilu sebelumnya (yms).

Terakhir diperbarui pada 23 September 2018 oleh

Tags: 300 purnawirawanpemilu presidenpertarungan terakhirPilpres 2019prabowoSandiaga Uno
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO
Esai

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.