Fahri Hamzah Sebut Koalisi Bikin Jokowi Sulit, Punya Prabowo Lebih Mudah

MOJOK.CO – Fahri Hamzah menyebut bahwa koalisi partai politik di kubu Presiden Jokowi malah akan semakin menyulitkan langkah mereka sendiri. Hal ini berbanding terbalik dengan Prabowo yang diklaim lebih mudah.

Detik-detik sosok yang akan mendampingi Presiden Jokowi dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 masih belum menemui titik terang. Meski sudah lebih dari dua pekan 10 nama potensial cawapres Jokowi muncul ke publik, nama-nama yang benar-benar akan dipilih jadi pendamping masih belum juga jelas.

Hal ini menurut Fahri Hamzah menunjukkan bahwa koalisi partai politik yang merapat ke PDIP sedang berada titik sulit. “Saya membaca Pak Jokowi paling sulit mencari titik temu. Saking sulitnya, bisa-bisa Pak Jokowi nggak dapat kursi. Prediksi saya belum berubah,” kata Fahri Hamzah seperti diberitakan detik.com.

Seperti diketahui, penentuan nama cawapres bagi Jokowi memang sangat cair dan berpotensi bikin koalisi parpol PDIP bisa saling sikut sama lain. Sampai saat ini, PKB yang mengajukan nama Muhaimin Iskandar (Cak Imin) masih jadi sosok paling percaya diri jika dirinya yang akan ditunjuk.

Bahkan beberapa waktu lalu, Cak Imin sampai mengeluarkan pernyataan yang seperti “mengancam” Jokowi jika dirinya tak dipilih. “Buktikan saja. Kalau nggak JOIN (Jokowi-Cak Imin), bahaya,” kata Cak Imin percaya diri. “Nanti kalah sama lawannya,” tambahnya.

Padahal, tanda-tanda Jokowi akan memilih Cak Imin masih belum muncul sampai saat ini. Meski PKB mengeluarkan pernyataan tidak akan meninggalkan koalisi dengan PDIP apapun pilihan Jokowi, tapi Cak Imin ternyata tetap menyiapkan hal-hal jika tidak dipilih Jokowi sebagai cawapres.

Dalam waktu dekat, diketahui Cak Imin berencana bertemu dengan 50 kiai Nahdlatul Ulama untuk berdiskusi mengenai langkah dirinya maju sebagai cawapres. “Beliau (Cak Imin) dalam waktu dekat ini akan menggelar pertemuan dengan para ulama-ulama di Jakarta,” kata Ketua DPP PKB, Jazilul Fawaid.

Hasil pertemuan itu bisa saja mengubah arah koalisi PKB bagi parpol pendukung Jokowi. Tentu saja patut dicurigai, apakah pertemuan ini murni sebagai perkumpulan internal Cak Imin, atau merupakan bagian dari strategi untuk “menekan” Jokowi.

Selain soal PKB dengan Cak Imin, perkara yang sedang menimpa syarat cawapres bagi Jusuf Kalla yang diajukan Perindo ke Mahkamah Konstitusi (MK) ditolak juga bisa berimbas pada kesolidan koalisi partai pendukung Jokowi.

“Anda kira Pak Jokowi ini gampang? Nggak gampang, Bos. Apalagi kalau Pak JK nanti nggak boleh dicalonkan lagi. Bubar ini, Bos. Berat lho di sana itu. Ini kan ngebungkus-bungkus doang, panggil ke istana,” kata Fahri Hamzah.

Situasi yang menimpa Jokowi sebenarnya adalah perkara yang bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Di saat banyak pihak ingin mendompleng elektabilitas Jokowi untuk memperbanyak kantong suara partai mereka masing-masing, di beberapa aspek ada potensi kecemburuan antar parpol jika bukan kader mereka yang dipilih. Hal yang barangkali dilihat oleh Fahri Hamzah, jadi kesulitan tersendiri bagi pihak PDIP dan koalisinya.

Membandingkan dengan PDIP, Fahri Hamzah justru menilai Prabowo Subianto cukup mudah menemukan “mitra” untuk berlaga tahun depan. Sampai saat ini Gerindra memang dikabarkan sedang merapat dengan Demokrat. Hal yang membuat nama Agus Harimurti Yudhoyono muncul ke permukaan untuk mendampingi Prabowo pada Pilpres 2019 ke depan.

“Kalau Pak Prabowo itu sudah jelas. Dia dapat satu kursi satu tiket maju dia. Kasarnya Pak Prabowo itu, Gerindra itu dengan Demokrat (sudah) dapat,” katanya.

Lantas, rekomendasi Ijtima Ulama bersama Persaudaraan Alumni (PA) 212 kemarin gimana dong nasibnya? Masa sudah repot-repot bikin perkumpulan besar begitu hasil rekomendasi cawapres untuk Prabowo berupa Salim Segaf Al-Jufri dan Abdul Somad nggak direspons sama sekali? Ini bijimana, Pak Fahri? (K/A)

Exit mobile version