MOJOK.COManifesto perempuan akhir 20-an yang belakangan sadar, “Wow, hidup orang dewasa penuh turbulensi!”

Tahun 2018 adalah tahun yang bikin capek sekali.

Saya putus cinta lumayan parah. Saya padahal tahu di antara kami sudah tidak ada cinta, tapi proses untuk selesai tetap menyulitkan. Buat saya, bukan dia. Walau begitu, akhirnya dengan cara berbelit kami bisa benar-benar berpisah.

Dan perpisahan itu membuat saya kehilangan semangat hidup.

Saya senang berada di kantor, teman-teman mengalihkan pikiran-pikiran sedih. Tapi ketika kembali menghadap laptop, bertatapan dengan pekerjaan, otak saya buntu, pikiran saya kalut. Ringkasnya, saya tak bisa memikirkan apa pun selain dia. Akhir pekan di kamar kos, saya memutar tanpa sengaja lagu-lagu sedih dan menangis lagi. Pertemuan tak sengaja dengannya akan menimbulkan serangan panik disertai mual. Dan semakin saya berusaha keras bangkit, justru rasanya keterbenaman ini tambah dalam.

Sulit menggambarkan dengan ringkas bagaimana rasanya putus cinta selain memakai kalimat “seperti ingin mati saja”. Tapi itu kurang tepat karena jika akhirnya saya mati, saya sebenarnya masih harus melalui fase hancur dulu. Dua bulan setelah putus saya memutuskan keluar dari kantor karena pekerjaan kacau-balau. Saya kemudian menganggur selama tiga bulan untuk melakukan kesenangan apa saja yang kira-kira bisa bikin lupa pada sedih. Hasilnya luar biasa. Perasaan saya masih begitu-begitu saja sementara tabungan setahun bekerja di Jakarta amblas menyisakan utang.

Dulu sekali saya pernah patah hati parah. Hidup ini memang kurang ajar karena saya harus mengalaminya sekali lagi. Lengkap dengan kehancuran hidupnya: menganggur, bangkrut, kesepian, dan sedih.

Seperti ingin mati saja rasanya.

***

Di tengah suasana ambyar itu, saya terjebak satu situasi untuk menerbitkan buku tunggal perdana. Waktu itu saya miskin berat sampai-sampai tak bisa menolak royalti buku. Realistis saja, menangis itu butuh energi, sementara energi diasup dari makanan, dan makanan dibeli pakai uang. Oh ya, memang saya bisa menangis di rumah dan minta makan dari orang tua, tapi semua orang yang bersedih tahu, menangis butuh privasi dan rumah orang tua tidak menyediakan itu. Singkat kata, buku tersebut saya kerjakan bahkan sampai campur tangan ke proses penyuntingan, tata letak, dan desain sampulnya. Bersedih ternyata bukan saja tak menghilangkan lapar, menghapus obsesi kompulsif bawaan saja ia tak mampu.

Buku itu sudah bisa naik cetak, tetapi ada yang mengganjal. Saya butuh epilog. “Tunggu sebentar,” saya mengirim pesan ke Sadam yang menata letak buku tersebut, “Aku bikin epilog sebentar.”

Epilog itu berjudul “Bahagia Mengerjakan Hal Sia-sia”, diambil dari judul bukunya.

***

Meskipun ditulis sambil lalu, saya belakangan menyadari epilog itu merangkum tahun 2018 dan tahun-tahun usia 20-an saya yang setahun lagi akan tandas. Di dalamnya saya menulis begini:

Baca juga:  Tidak Ada Patah Hati Terberat karena Semua Terasa Menyakitkan

Mulanya buku ini hendak saya juduli Tidak Muda, Tidak Beda, Tidak Berbahaya, pelesetan dari satu baris di lirik lagu “Jika Kami Bersama” milik Superman Is Dead, band yang belakangan punya konotasi negatif di mata sebagian orang karena penggebuk drumnya, Jerinx, gemar menggelar konfrontasi di media sosial.

Sepenggal lirik itu punya kontribusi dalam menandai satu fase di hidup saya. Lirik yang aslinya berbunyi “Kami adalah kamu. Muda, beda, dan berbahaya” itu saya kenal dari teman saya, Lubabun Ni’am.

Mungkin memang kalimat itu mewakili mimpi masa muda kami. Kami ingin menjadi orang muda yang beda dan berbahaya. Sampai kemudian tahun demi tahun kelihatannya mengantarkan saya pada perulangan yang telah dialami banyak orang: lulus kuliah, bekerja, punya keinginan menikah, dan tak menjadi istimewa.

Tapi, kini, sembilan tahun setelah berkenalan dengan Ni’am dan mendengarnya menyebutkan potongan lirik itu, saya telah menjadi orang yang sedikit lain. Saya yang dulu naif dan optimistis kini lebih sering skeptis dan gampang kecewa. Saya yang dulu mencintai ide-ide perubahan kini merasa perjuangan untuk menjadikan negara atau bahkan dunia lebih baik adalah pekerjaan sia-sia.

Saya menyaksikan orang-orang yang saya kagumi karena keteguhannya untuk membela kebenaran, ternyata tak sesuci yang terbayangkan. Kenyataan telah mendistorsi gagasan ideal mengenai diri mereka dan kerja-kerja mereka. Dunia tidak hitam putih dan fakta itu menimbulkan perasaan depresif.

Mungkin teman-teman pun melihat saya yang sekarang dengan opini serupa. Ya memang beginilah saya jadinya. Sudah tidak muda, sudah tidak beda (memangnya dulu iya?), dan sudah tidak berbahaya (kapan pernah berbahaya?).

Kekecewaan yang menumpuk, rongsokan ide-ide yang tidak diperjuangkan dengan cukup tangguh, lalu pragmatisme yang harus dihadapi sehari-hari. Kini gagasan yang saya simpan bukan lagi menyelamatkan dunia atau negara, tapi diri sendiri. Bagaimana caranya membuat diri tetap waras melalui hari, melewatkan ulang tahun demi ulang tahun, dalam keadaan yang tetap sehat dan bahagia.

Tapi, selain sehat dan bahagia, ternyata saya tetap tak bisa melepaskan diri dari keprihatinan sehari-hari. Hanya saja ada cara pandang yang berbeda-beda dan jauh dari muluk-muluk.

Sama seperti semua orang di dunia ini, hidup saya adalah perjalanan dari satu masalah ke masalah lain. Entah masalah saya sendiri, sering pula masalah orang lain. Ada banyak penyesalan, buah dari permasalahan-permasalahan itu. Saya tidak suka mengalami masalah, tapi rupanya ada hikmah juga (kata ini membuat saya terdengar sangat tua dan klise). Kalau tanpa masalah, mungkin saya tak akan bisa mengaca, melihat diri sendiri.

Baca juga:  Mengapa Nge-Block Mantan Perlu Dilakukan dan Ini Bukanlah Hal yang Childish

Saat ini, mimpi saya bergeser dari khayalan melangit seperti “kuliah lagi di Prancis” ke “harus belajar tepat waktu dan tepat janji”, “jangan tidur pagi terus”, atau “tidak boleh gampang marah”.

Pergeseran itu terutama dipantik oleh satu kejadian. Saya sedang bertandang ke padepokan Yayasan Insist dan kemudian dijamu makan siang bersama, hal yang rutin terjadi di sana. Lalu, saat akan ke dapur mengambil minum, saya membaca tulisan di sebuah kertas yang tertempel di dinding.

Bunyinya kira-kira begini: Hal besar dimulai dari hal kecil, seperti mencuci piringmu sendiri sesudah makan. Jangan tunggu orang untuk melakukannya.

Hari itu saya tahu, banyak kegagalan dan masalah saya di masa lalu disebabkan oleh diri saya yang kacaunya minta ampun. Pada kesalahan-kesalahan yang dulu saya timpakan kepada teman-teman saya, tidak lain ada peran saya pula di sana. Jadi, agenda terdekat bukan lagi mengubah dunia. Coret itu. Tugas utama saya hari ini adalah mengubah diri sendiri.

Nyatanya, hidup jadi lebih ringan ketika tidak ada tanggungan ekspektasi lagi. Kepuasan datang dari hal-hal sederhana: menyelesaikan tugas kantor tepat waktu atau berhasil meninggalkan kamar sebelum berangkat kerja dalam kondisi bersih dan rapi. Saya tahu, tugas kantor akan datang lagi besok dan saya mengulang hal sama persis yang tak ada artinya bagi perubahan dunia. Kloset kinclong di toilet kamar kos saya juga tidak akan menjadikan angka inflasi Indonesia tahun ini berada di bawah 4%.

Termasuk pula menulis esai-esai yang ada dalam buku ini lalu menerbitkannya. Apa sih gunanya? Tidak tahu. Tapi, saya senang. Saya senang ada satu orang yang menghargai usaha saya menjadi penulis dan orang itu orang yang saya hormati. Oh, begini ya rasanya. Ternyata menghargai hal-hal kecil itu membuat saya lebih sehat dan bahagia.

***

Tahun 2018 adalah tahun yang bikin capek sekali. Tapi ya mau disesali pun tak ada gunanya, toh sudah terjadi.

Saya memulai 2019 dengan membangunkan akun Twitter yang lama teronggok, lalu mengetwit, “Tahun ini nggak boleh ngoyo.”

Saya memang masih sulit memaafkan kesalahan-kesalahan dari tahun-tahun lama, tapi turbulensi selama 2018 yang jika diceritakan bisa jadi novel menyisakan bekasnya, bahwa hidup ngoyo itu sulit ternyata. Tadinya saya ingin cerita tentang betapa ngoyonya saya menjalani hidup, tapi sudahlah. Intinya saya yang dulu ngoyo minta ampun karena terobsesi sukses di segala bidang. Setelah 2018 saya lebih kalem menerima bahwa “Yah, aku ini sudah berusaha tapi dasarnya memang medioker.”

Dan ternyata, menerima diri yang medioker rasanya enak.

BACA JUGA Kenyataannya, ‘Semesta Bekerja Untukmu” Bukan Sesuatu yang Romantis-Melankolis dan esai PRIMA SULISTYA lainnya.