MOJOK.CO – Selamat datang iuran paksaan baru! Setelah pajak, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, belum asuransi dan cicilan macem-macem, sekarang ditambah Tapera.

Waktu tahu ada yang namanya Tapera di republik ini, saya langsung mikir, “Dahsyat juga pemerintah Indonesia. Dompet kita terus dibikinnya tipis duit, tebal kartu.”

Kalau nggak buka Twitter, kayaknya saya bakal telat kuadrat buat tahu si Tapera. Singkatan dari Tabungan Perumahan Rakyat ini memang sempet jadi omongan di Twitter kemarin, ketika naskah peraturan pemerintah yang mengatur sebagian teknis program ini disiarkan. Eh, ternyata tetap aja telat, soalnya program udah diundang-undangkan pada 2016 lalu. Hadeh.

Dari baca sana sini, kira-kira Tapera adalah program pemerintah untuk menghimpun dana masyarakat buat dipakai ngutangin orang-orang yang mau bikin atau beli rumah. Mungkin pemerintah lagi pengin kelihatan, seolah-olahnya lagi peduli gitu, ada orang Indonesia yang susah punya rumah. Dengan program ini, harapannya semua orang Indonesia yang nggak mampu punya rumah jadi bisa memilikinya.

Harapannya siapa nich? Pemerintah?

Harapan saya, hehehe.

Karena ini barang bakal nyenggol-nyenggol duit kita, ada baiknya kita pelajari lebih detail Tapera ini apa. Berikut poin-poin hasil pembacaan saya.

1. Semua warga negara Indonesia maupun warga negara asing di Indonesia yang telah berusia 20 tahun, bekerja, dan punya penghasilan setara upah minimum wajib jadi ikut program ini.

Jadi, mau PNS, polisi, tentara, calon tentara yang masih sekolah, pekerja swasta tetap, pekerja swasta tidak tetap, semuaaa harus ikut jadi peserta.

2. Iurannya dipungut setiap bulan. Besarnya 3% dari gaji. Sebanyak 0,5% dibayarin kantor, sisanya bayar pakai gaji kita.

PNS sebenarnya udah jadi peserta tabungan perumahan wajib juga, namanya Taperum. Begitu Badan Pengelola (BP) Tapera beroperasi—yang rencananya 2021 nanti—tabungan PNS di Taperum bakal diekspor ke Tapera. Wow, Askes dan Jamsostek can relate.

3. Kalau udah jadi peserta selama 1 tahun, nggak pernah telat bayar iuran, belum pernah punya rumah sendiri, dan termasuk masyarakat berpenghasilan rendah, kita bisa dapat pembiayaan perumahan dari Tapera.

Pembiayaan perumahan itu maksudnya bisa pengadaan rumah baru atau buat merenovasi rumah. Nggak tahu sih, pengadaan rumah baru itu artinya dibikinin baru atau duitnya dipakai buat beli rumah jadi.

4. Modal awal Tapera dari APBN untuk dipakai sebagai biaya operasional BP Tapera. Selanjutnya, BP Tapera akan menginvestasikan uang yang terkumpul buat cari untung/marjin/passive income yang sebagian dipakai buat ngebungain tabungan orang-orang peserta Tapera, sebagian lagi buat ngebiayain operasional Tapera.

5. Buat orang yang akhirnya nggak pernah bisa dapat kredit perumahan Tapera karena nggak memenuhi syarat (misal: udah terlalu kaya), simpanan yang disetor tiap bulan itu plus bunganya bisa dicairin setelah keanggotaan Tapera-nya berakhir.

Kapankah itu?

(a) Pas udah pensiun, atau (b) udah berusia 58 tahun, atau (c) meninggal dunia, atau (d) selama lima tahun berturut-turut nggak memenuhi syarat buat jadi peserta lagi.

(Duh, jadi inget berita BPJS Kesehatan kapan hari. Jadi ada orang yang ngajuin untuk berhenti jadi peserta karena nggak kuat bayar iuran. Terus dijawab sama petugasnya BPJS-nya dibilang, dia cuma bisa berhenti kalau udah mati. Hahaha.)

Ya gitulah. Semoga udah cukup kebantu untuk membayangkan Tapera ini seperti apa. Tafsiran saya sih, Tapera itu cara meminjam uang orang yang lebih kaya biar bisa dipakai orang lebih miskin untuk punya rumah.

Setahu saya, aturan mengenai Tapera baru sekadar UU 4/2016 dan PP 25/2020. Jadi, masih ada hal-hal yang belum ketahuan dan jadi pertanyaan. Biar jadi arsip untuk siap-siap ketika Tapera ini makin serius digodok, saya rangkum pertanyaan-pertanyaan itu di sini.

1. Dari yang receh dulu: Kalau telat bayar, bakal didenda berapa?

Baca juga:  Tips Punya Rumah bagi Pasangan yang Baru Menikah

2. Yang agak traumatis: Kalau BP Tapera merugi dalam investasinya, kayak yang dialami Jiwasraya, apakah duit kita akan tetap dibalikin? Kalau iya, pakai duitnya siapa?

3. Jika saya kerja sebagai pekerja lepas dengan penghasilan bulanan tak menentu, berapa dong saya harus bayar iurannya? Masak 3% juga?

4. Apa sih konsekuensi dari aturan “semua orang yang udah kerja wajib jadi peserta Tapera”? Apa bakal ditakut-takutin kayak BPJS yang kalau enggak punya, jadi nggak bisa ngurus KTP lah, SIM lah, dsb.?

5. Kalau saya kelas menengah yang nggak akan pernah memenuhi syarat buat dapat kredit Tapera, kan saya jadi kayak nabung aja ya di Tapera. Emang apa kelebihan menabung di Tapera ketimbang saya investasi emas, saham, atau tanah?

6. Pemerinta ngerasa nggak sih potongan gaji buat PNS, TNI, dan polisi tuh sekarang jadi banyak banget? Hih!

7. Kenapa WNA kudu ikut? Kan mereka, kayak disebutin di UU, nggak bakal boleh memiliki rumah di Indonesia.

8. Apa sih yang dimaksud dengan masyakarat berpenghasilan rendah?

9. Kenapa keanggotaannya harus sampai pensiun? Kalau ada orang nggak mau punya anak dan nggak mau ngasih duitnya ke saudara gimana? Kenapa nggak biarkan dia menikmati uangnya sesuka hati lompat ke sana-ke sini?

10. Pemerintah sadar nggak sih orang tuh banyak yang nggak bisa beli rumah karena harganya naik tiap hari Senin? Kenapa pemerintah nggak mengintervensi pasar biar harga rumah lebih bisa ditoleransi? Kenapa kontraktor dibiarkan mengambil untung terlalu besar?

Baca juga:  Rumah DP 0 Rupiah: Syarat dan Ketentuan Berlaku

11. Ada dua jenis orang miskin yang nggak bisa beli rumah: pertama, yang emang harus nabung dulu atau mampunya beli nyicil. Kedua, orang yang mau dia reinkarnasi enam kali juga tetap nggak akan punya duit buat beli rumah, saking miskinnya. Contoh jenis kedua ini adalah gelandangan. Apa komitmen Tapera/pemerintah untuk menyelamatkan kaum miskin yang seperti ini?

12. Kenapa PP 25/2020 Pasal 41 ayat 3 bisa-bisanya mementahkan UU 4/2016 Pasal 60?

13. Kalau seseorang nyicil rumah lewat Tapera, terus dia pindah domisili, apakah bisa oper kredit?

Segitu aja dulu. Maaf, bukannya ngasih banyak informasi malah jadi nyetor pertanyaan. Jujur, saya lagi pusing mikirin kehidupan ini.

BACA JUGA Bagaimana Kapitalisme Finansial Bekerja dalam Kasus Jiwasraya dan esai Prima Sulistya lainnya.