MOJOK.COSecara kronologis saya seorang gen Y alias milenial, tapi Twitter kerap kali membingungkan saya dengan istilah-istilahnya. Bomboclaat lah, sco pa tu manaa lah. WTF is bomboclaat?

Saya sedang duduk di depan laptop, bekerja seperti biasa, dan kemudian bingung sendiri. Lumayan lama saya menggulir situs-situs web yang saya buka, tetap saja jawabannya tidak ketemu. Nyerah. Saya putuskan bertanya kepada Rendi, teman saya duduk di sebelah.

Ini terjadi di masa yang jauh sebelum perkara bomboclaat menyerang.

“Apa sih maksudnya nge-quote twit terus ngasih captionNo offense but bla bla bla actually sucks, Le?” tanya saya ke Rendi yang namanya bagus, tapi entah gimana ceritanya semua orang panggil dia Thole.

Itu kejadian berbulan lalu, sekarang saya sudah lupa itu twit tentang apa. Pokoknya ada twit viral dari akun katakanlah namanya Bunga. Bunga ini memposting dua foto yang diberi caption, “No offense but meeting my boyfriend in Malang would be actually suck,” atau kurang lebih kayak gitu lah.

Sementara caption-nya menandakan dia kayak sebel jika harus ketemu pacarnya di Malang, dua foto yang diberi caption itu malah menunjukkan ia berpose dengan pacarnya, di Malang, dan mereka berdua tersenyum. Sucks seko endi nek ngene ceritane?

Thole bekerja di sebuah perusahaan teknologi yang kayaknya berkutat di bidang intrajaringan atau sejenis itu. Semisterius nama panggilannya, sehari-hari saya lihat dia bukannya kerja, malah lebih banyak main Twitter, Instagram, dan nonton Netflix.

Baca juga:  Hotman Paris Hutapea: Mobil Lamborghini, Ngopi di Kopi Johny

(Pertama, bahasa di Twitter, sekarang pekerjaan di bidang teknologi. Kenapa semua-mua hal nggak bisa saya pahami? Apakah saya mentally a boomer?)

Abaikan pertanyaan dalam kurung barusan. Thole ternyata tahu apa maksud caption itu. Begini penjelasannya.

Jadi pada suatu ketika satu akun Twitter, kayaknya di luar negeri, menulis caption kayak gitu untuk sesuatu yang sebenarnya dia inginkan. Terus habis dia ngetwit gitu, hal yang dia inginkan itu terkabul beneran.

Jadilah template “No offense but [isi harapanmu di sini] actually sucks” adalah cara baru berdoa di Twitter.

“Ya Allah, gitu thok jebule,” kata saya kepada Thole, pura-pura kecewa, padahal dalam hati senang bisa memahami gaya bahasa gen z. Mungkin besok-besok saya bisa pakai pengetahuan baru ini buat mengejek teman-teman.

“Halah, istilah itu kan udah lama rame di Twitter. Kamu kok nggak tahu. Cupu~”

Tapi belum lagi ide itu dieksekusi, saya sudah kebingungan lagi. Lah, kok tahu-tahu banyak orang ngupload gambar di Twitter pakai caption “Bomboclaat”?

WTF is bomboclaat?

INI APA LAGI???

Baca juga:  Keep Tidak Injak Rumput and Stay Boikot Sari Roti

Saya harus googling untuk tahu artinya apa. Perjalanan googling itu amat panjang, berliku, dan tak usahlah saya ceritakan di sini. Cukup Anda diberi tahu hasilnya. “Bomboclaat” itu bahasa Twitter untuk “caption this”.

Tidak cuma bomboclaat. Ada istilah lain, yang hakulyakin sudah pasti, diimpor dari cara konversasi akun-akun Twitter luar negeri tapi kurang begitu populer di sini. Itu adalah istilah “Sco pa tu manaa” yang setelah menyita waktu saya yang harusnya untuk membaca Kapital I (saya sedang membaca buku ini lagi setelah pusing menyaksikan debat dangkal soal privilege di Twitter).

Sco pa tu manaa, Kawan-kawan, Saudaraku para milenial berjiwa boomer senasib, ternyata sejajar dengan “express what your opinion about this/what do you think”.

Saya pikir bahasa gaul jaman saya SD dulu, yang menyisipkan “fa” tiap satu suku kata, sudah cukup rumit. Anak Twitter sekarang ternyata lebih-lebih. Dan sekarang saya sudah mengeluh. Demi Tuhan, apakah saya memang benar-benar mentally a boomer? Meskipun saya tahu singkatan THUG LIFE?

N.b.: Cah Tupac harus tahu dong, THUG LIFE itu singkatan the hate u give little infant fucks everybody 🙁

BACA JUGA Penulisan Di dan Pun: Harusnya Dipisah atau Digabung, Sih? atau artikel bahasa lainnya di VERSUS.