[MOJOK.CO] “Mengapa tuyul tidak bisa mencuri di ATM adalah pertanyaan paling besar yang membuka tahun ini. Dan ini pertanyaan serius.”

Ada yang tahu kegemparan apa yang sebenarnya membuka 2018? Bukan soal kocok ulang pilkada, bukan tentang perceraian Ahok, juga bukan perkara demo FPI di kantor Facebook yang berakhir konyol. Itu semua isu elite yang kita orang-orang kecil ikut meramaikan saja.

Satu hal yang merayap di timeline, menimbulkan kegemparan tapi tidak gaduh, tidak masuk televisi, tidak viral di akun IG gosip, tidak jadi bahan debat di ILC, tetapi sungguh penting dan darurat adalah soal tuyul.

Ya, Anda tidak salah baca.

Mungkin Anda mengamati di timeline Anda, terutama Facebook dan melihat postingan orang-orang yang memecah celengan mereka dan mendapati uang 50 ribu dan 100 ribuan mereka hilang karena (diduga) dicuri tuyul berseliweran.

Dari postingan-postingan itu diketahui, uang yang hilang memang umumnya hanya pecahan 50 dan 100 ribu. Selain itu, ada yang mendapati bahwa uang 50 dan 100 ribu dalam celengan mereka berganti menjadi pecahan 2 ribuan. Kondisi uang 2 ribuan itu juga kotor dengan bercak lumpur. Bercak inilah yang dianggap korban menguatkan bukti bahwa pencurinya tak lain dan tak bukan adalah bocah pencuri gaib itu.

Dari satu dua postingan aduan kehilangan akibat tuyul viral, efek lanjutannya adalah banyak orang yang punya celengan juga membongkar celengan mereka. Ada yang mengaku ikutan kehilangan uang, ada pula yang bilang uang mereka aman-aman saja. Yang jenis kedua itu karena uang di celengan mereka… koin semua.

Buat yang percaya, tentu kabar ini bikin panik. Buat yang tidak percaya ataupun abstain, fenomena seperti ini menarik sebagai amatan antropologis. Kita jadi tahu bahwa 1) banyak orang Indonesia yang masih menyimpan uang di celengan (mungkin ditumpuk dulu di celengan, kalau banyak baru disimpan ke bank, 2) celengan yang dipakai variatif antara plastik, kaleng, dan tanah liat, 3) sesyar’i apa pun bangsa ini menjadi, dunia klenik dan mitos tetap punya tempat di hati masyarakat. Jika masyarakat mempercayai keberadaannya, sebenarnya sekaligus masyarakat mempercayai bahwa kaya lewat jalan pesugihan benar adanya.

BACA JUGA:  Mojok Person of The Year 2015

Untuk poin ketiga, buktinya adalah sampai muncul postingan berjudul “Fenomena Tuyul Pencuri Uang Celengan, Ini Penjelasan dan Solusi Syar’inya”. Postingan ini menjelaskan apa itu tuyul, bagaimana ciri-ciri orang yang memeliharanya, dan bagaimana menhindari gangguannya.

Postingan dan berita lain yang muncul menanggapi perampokan tuyul juga bermunculan, bervariasi dari cara mengidentifikasi pemilik tuyul, cara mencegah bocah ini mencuri uang kita, sampai penjelasan berfaedah tentang mengapa tuyul tidak bisa mencuri uang di ATM. Yang terkini adalah video wawancara dengan orang yang kerasukan tuyul. Di wawancara itu, si pencuri membongkar modus operandinya.

Bagi kami, soal tuyul nggak bisa merampok ATM, penjelasan yang paling keren adalah karena ATM dijaga oleh tuyul yang lebih tua alias tuyul preman. Cool!

Sebenarnya gosip semacam ini bukan hal baru buat dunia internet. Kalau Anda mau googling, tiap tahun selalu saja ada berita tentang balita gaib ini di media online. Misalnya berita 2016 ketika ada yang mengaku berhasil menangkap tuyul dan mengurungnya di botol. Belakangan ketahuan yang ada di dalam botol itu boneka belaka.

Walau fenomena ini adalah kisah lama, tetapi dunia akademis tidak kunjung memberi perhatian yang cukup. Rasanya, satu-satunya akademisi Indonesia yang pernah memberi penjelasan serius hanyalah almarhum sejarawan Onghokham.

Yang jelas, isu tuyul ini tidak pantas ditertawakan. Terlepas ia benar ada atau tidak, bahwa ia menjadi isu tahunan adalah hal yang harus diungkap. Jika ia tetap saja menjadi misteri, sesungguhnya yang paling dirugikan adalah orang-orang berkepala botak yang rutin menjadi objek bercandaan basi.

Kecuali semua ini sebenarnya isu buatan menjelang pengumuman bahwa akan ada Tuyul dan Mbak Yul Reborn. Jika benar demikian, sungguh, orang-orang marketing dan iklan itu bajingan sekali.

Komentar
Add Friend
No more articles