Ketika saya membaca kabar tentang wisatawan yang mengeluh harga gudeg sebesar 85 ribu di Malioboro, jujur saja saya nggak kaget. Bukan, saya sedang tidak menguliti keburukan Jogja, tidak. Justru saya sedang “membela” Jogja kali ini, karena hal ini muncul atas branding serampangan yang orang lekatkan pada Jogja.
Ya, branding apa lagi selain “Jogja itu murahnya kebangetan”. Mbahmu kiper, Riiii.
Saya sempat punya prediksi, bahwa branding murahnya Jogja ini suatu saat akan menggigit Jogja balik, karena ekspektasi orang jadi tidak masuk akal saat mengunjungi Kota Istimewa. Padahal kita tahu, ekspektasi kerap melukai kita dari sudut yang tak tertebak.
Orang jadi menganggap bahwa Jogja akan lebih murah dari Jakarta, Bali, Semarang, Surabaya, atau kota besar lain. Padahal sebenarnya, harga tak jauh beda. Benar Jogja memang terbilang lebih murah, tapi tentu saja tidak signifikan.
Kalau kamu berpendapat mi ayam 5 ribu adalah representasi murahnya Jogja, yah, kamu juga bagian dari masalah tersebut.
Nggak kemahalan, ah
Saya pikir, 3 gudeg dibanderol 85 ribu di Malioboro itu tidak kemahalan. Saya tidak bilang murah, tapi ya kalau dibilang nuthuk, ya tunggu dulu. Sebagai manusia yang berakal, kita harus tahu konteks.
Ini Malioboro, tempat wisata teramai di Jogja. Pastilah harga makanan akan lebih mahal ketimbang di tempat lain. Ini sudah hukum pasti. Kalau lebih mahal 20-30 persen, ya akan sangat wajar. Toh gudeg juga bukan makanan yang murah sebenarnya. Tanya para mahasiswa yang merantau ke Jogja, mayoritas akan bilang bahwa makanan ini sebenarnya tidak affordable.
Situasi yang sama saya alami Desember 2024 lalu di Ubud. Saya dan istri agak kaget melihat harga bakso dan mi ayam menyentuh 30 ribuan. Ya wajar kali saya kaget, saya asli Wonogiri. Kalau sampai ada warung mi ayam di Wonogiri jualan seporsi 30 ribu, dibakar warunge. Tapi ini Ubud. Jadi ya kami hanya kaget, tapi tetep pesen, dan dibayar dengan tenang.
Pengetahuan tersebut harusnya dipahami wisatawan, jadi tidak mudah memviralkan apa pun yang tidak sesuai ekspektasi. Ya kalau kamu kira bisa beli gudeg isi lauk ayam, telur, dan krecek seharga 15 ribu, ya yang perlu diperbaiki sih jan-jane cara berpikirmu.
Jogja memang murah, tapi…
Saya tahu betul, kalian datang ke Jogja ini karena tempatnya syahdu dan pasti juga ada embel-embel murahnya. Saya paham betul karena ya bagi saya, jan-jane, ada sedikit benarnya juga kalau Jogja itu murah. Cuma, kalau kalian anggap murahnya bisa beda jauh, nggak bisa.
Branding yang selebgram sematkan itu kadang hiperbolis memang. Apa-apa yang positif tentang Kota Istimewa disampaikan dengan storytelling menawan dan nada sendu yang dibuat-buat, plus dilebih-lebihkan. Padahal jane yo ra ngono banget.
Yang jadi korban ya pelaku usaha. Mereka mau tak mau ya harus menekan biaya produksi karena branding yang kelewat masif. Saya ini takutnya cuman satu: kalau dijual sesuai harga produksi, nanti dibilang nuthuk. Padahal kita tahu, harga-harga naik tiap tahun, dan ini keniscayaan yang tak bisa dibendung dengan branding mendayu ala selebgram.
Saya tak mau memungkiri, memang ada pedagang nuthuk. Ada pedagang yang aji mumpung. Tapi tentu saja tidak semua. Selalu ada pedagang yang rela margin keuntungan terpotong secara gila-gilaan demi tetap laku. Orang-orang tersebut adalah pahlawan para perantau yang makan masih jadi masalah paling utama.
Yang ingin saya sampaikan adalah, pandanglah Jogja dengan adil. Jangan kau puja-puji bak sesuatu yang suci, sampai kau lebih-lebihkan, yang bikin orang nggak fair dalam menilai. Jogja itu pada dasarnya mirip kota lain, nggak beda-beda jauh.
Jangan kau jatuhkan Jogja hanya karena ekspektasimu yang dibentuk oleh orang-orang nggak napak tanah.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Jogja Mahal, karena yang Murah Hanya Upah Pekerjanya dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN














