ADVERTISEMENT

Saya tidak sudi menurunkan biaya hidup, apanya yang mau diturunkan kalau harga-harga terus naik?

Saya tidak sudi menurunkan biaya hidup, apanya yang mau diturunkan kalau harga-harga terus naik?

Kemarin, seliweran saya nemu counter argument tentang biaya hidup mencekik ini adalah salah rakyat, yang seharusnya tidak menuruti gaya hidup agar biaya yang mereka keluarkan tidak meledak. Betul, saya tahu, biaya hidup dan gaya hidup ini urusan berbeda. Nyampurin keduanya secara serampangan cuma bikin kamu terlihat seperti manusia yang cara berpikirnya amat remuk.

Tapi, okelah, kita pake for the sake of argument. Jawabanku sih, NGGAK MAU.

ADVERTISEMENT

Iya, saya NGGAK MAU nurunin biaya hidup. Menurunkan gaya hidup pun saya tak sudi. Saya hanyalah kelas menengah yang barely living, paycheck to paycheck, dan karena kesalahan sistemik, saya yang diminta berbuat sesuatu, sedangkan yang bertanggung jawab akan kekacauan ini tidak perlu berbuat sesuatu?

Aneh cara berpikirmu. Beneran.

Bare freaking minimum

Sebagai seseorang yang merasakan kemiskinan dan berhasil keluar dari jeratannya, meski ya tidak bisa dibilang keluar secara penuh, saya tahu betul bahwa hidup yang saya jalani ini adalah BARE MINIMUM.

Saya memenuhi kebutuhan keluarga, terutama protein, paying every bills yang ada, serta memenuhi kebutuhan rekreasi macam olahraga dan makan di luar bersama keluarga. Kalau kalian bilang ini adalah gaya hidup yang berlebihan, maka ada yang salah dengan cara kita memandang hidup. Ada yang salah dengan caramu berpikir.

Betul, kita bisa makan tempe, tahu, atau telur doang buat hidup. Atau sop sayur. Atau beli lauk mateng seharga 3 ribuan sebanyak 4 macam untuk makan dua kali. Kita bisa banget makan apa pun yang murahnya tak masuk akal, mengabaikan rasa, mengabaikan kebutuhan, demi biaya hidup yang lebih rendah.

Tapi bagaimana dengan kebutuhan gizi?

Saya bekerja, istri bekerja. Kalau makan kami harus diturunkan derajatnya agar ekonomi terlihat lega, justru berbahaya karena makanan adalah bahan bakar kami bekerja. Makanan seadanya tentu tak menunjang nutrisi, padahal kami bekerja dengan tuntutan performa yang oke. Menuntut rakyat punya produktivitas yang tinggi tapi dibayar serendah mungkin itu meludahi logika.

Biaya hidup diturunkan serendah mungkin, padahal tuntutan akan kehidupan begitu tinggi. Niat berhemat justru backfired. Niat berhemat justru bikin rungkat.

ADVERTISEMENT

Biaya hidup tak bisa diturunkan lagi

Gabungan penghasilan di keluarga sebenarnya oke. Tapi meski kami tidak foya-foya pun, we’re barely living. I mean, paycheck to paycheck-nya kerasa banget. Bisa jadi ini salah literasi keuangan, atau apalah itu. Tapi setelah diteliti lagi, ternyata memang ini biaya hidup yang harus kami tanggung sekalipun kami menyunat segala yang kami konsumsi hari ini.

Jadi, menyunat biaya hidup, atau gaya hidup, sesuai kapasitas otakmu saja, tidak bisa saya lakukan karena ini sudah BARE MINIMUM. 

Dan yang apa saya rasakan tentu saja kalian rasakan. Kalian sudah mendapat penghasilan yang oke, tapi masih hidup dari gaji ke gaji. itu bukan karena kalian boros, memang biaya kebutuhan naik drastis.

Apakah saya bisa menyunat, lets say, sepertiga biaya? Bisa. Tapi hidup tentu tidak akan berkualitas. Kamu tidak bisa bersenang-senang barang sedikit, dan hidup siaga terus-terusan, siapa yang tidak gila?

Kalau kalian bisa hidup seperti itu, ya urusanmu. Tapi saya sih tidak mau.  

Saya tahu betul, manusia dengan gaya hidup yang awut-awutan ada. Tapi tentu saja itu tidak bisa jadi cerminan masalah. Memang ada orang bergaji di bawah UMR nyicil iPhone. Tapi apakah mereka mayoritas? Ya tentu tidak. Berdasarkan Goodstats, Samsung masih merajai pasar hape Indonesia pada 2026 dengan 27,7 persen, disusul Oppo sebesar 22, 2 persen. Yang artinya, argumen orang miskin nekat beli iPhone itu gugur dengan sendirinya mengingat iPhone hanya mendapat 13.8 persen, tak sambai separuhnya Samsung.

Kita terus berlari sampai mampus

Tanpa kalian maki pun, manusia Indonesia kebanyakan sudah berusaha menurunkan biaya hidupnya. Tapi kondisi sekarang sudah kelewat gila. Mau diturunkan seperti apa gaya hidupnya, kalau biaya yang harus dikeluarkan lebih tinggi karena harga-harga naik, efek berhemat tentu tidak berasa.

Orang-orang sudah berusaha untuk menekan apa pun yang mereka bisa. Tapi ketika tuntutan disampaikan, mereka justru diminta menekan lagi. Ketika semua tinggal kulit dan tulang, mereka harus dipaksa menggilingnya hingga jadi debu.

Yang tersisa kini tinggal amarah. Mengutuk kenapa diri ini terlahir tidak kaya. Mengutuk kenapa nasib tak pernah berpihak. Menengadah ke langit, meracau kenapa hidup ini begitu sulit.

Akhirnya, yang tersisa tinggal amarah. Dan orang yang marah, butuh sesuatu untuk ditatap nanar, untuk dimintai tanggung jawab.

***

Saya menulis ini sambil mendengar “Lagu Selepas Hujan” dari Dongker. Saya tentu saja setuju dengan semua liriknya. Kita—saya—terus berlari sampai mampus, bahkan tangan kaki kita pun terputus. Niat baik kita memang selalu tulus, tapi takkan cukup.

Ya, saya sadar ini semua takkan cukup. Sekalipun saya memotong semua daging dalam tubuh, atau mengurangi jam tidur, atau bekerja di 4 tempat sekalipun, biaya hidup tetap naik. Tapi solusinya bukan gaya hidup, atau biaya hidup saya yang harus turun.

Kalian tentu tahu jawabannya, siapa yang harus turun.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Penyesalan Orang Jawa Tengah Merantau ke Jogja: Biaya Hidup Makin Tinggi, Boncos karena Kebiasaan Ngopi di Kafe, dan Gaji yang “Seuprit” dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2026 oleh .

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.