Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Privilege Anak Orang Kaya yang Terkesan Hitam Putih

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
12 Februari 2019
A A
tanpa privilese sukses nongkrong
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kamu sukses, tapi kamu kan anak orang kaya. Ah, sudahlah, kamu pasti berhasil cuma karena punya privilege, tidak seperti kami!

Dikutip dari Cambridge Dictionary, kata privilege adalah ‘an advantage that only one person or group of people has, usually because of their position or because they are rich’ atau berarti ‘keuntungan yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, biasanya karena posisi yang dimiliki atau karena kekayaan’. Belakangan, kata privilege inilah yang tengah menjadi gempuran isu keras-keras di lini masa Twitter.

Iklan

Semua bermula dari cuitan seorang pengguna bernama @notannette berikut ini.

https://twitter.com/notannette/status/1094097991818915840

Pernyataan di atas langsung menyulut reaksi netizen. Apa maksudnya si Mbak di atas??? Apakah dia sedang menertawakan kita yang kerjanya harus mengeluarkan tenaga fisik sampai lelah, termasuk air mata dan berdarah-darah??? Apakah dia sedang menertawakan kita yang lari-lari dikejar deadline dan pesanan kerjaan dari banyak pihak gara-gara kita bekerja secara freelance???

Kalimat ‘Kalo kalian mikir cari duit itu susah, berarti makenya cara yang susah’ memang terbukti mampu ‘menyenggol’ netizen dan menyulut api-api argumentasi (HALAH). Banyak orang mengaitkan pada keadaan pekerja-pekerja kasar yang harus bangun pagi-pagi buta, seperti petani, buruh, hingga kuli bangunan. O, jangan lupakan juga orang tua single yang harus bekerja keras demi sesuap nasi untuk anaknya, serta perantau yang harus bekerja banting tulang demi bayar uang kos dan makan sehari-hari!

Saya sendiri pernah membuat film dokumenter tentang kuli panggul di pasar di kampung halaman saya, Cilacap. Sejak pukul 2 hingga 3 pagi, para kuli panggul sudah siap di lokasi, menjajakan tenaganya untuk mengangkut barang-barang dagangan ke sana dan kemari. Saya yakin, kalau ditanya, “Susahkah jadi kuli panggul?” kebanyakan orang bakal menjawab, “Tentu saja susah.”

Beberapa orang lain, dalam kolom reply cuitan tadi, mengaitkan pada kondisi privilege si penulis pertama yang ditengarai sebagai anak orang kaya. Keluarga-keluarga di kalangan menengah ke atas memang sering kali dianggap memiliki privilege tersendiri, mulai dari kesempatan jaringan pekerjaan yang lebih luas, biaya pendidikan yang terjamin (tanpa repot-repot harus bekerja sambilan), atau kemudahan akses informasi.

Meski si penulis tadi menyebut dirinya berhasil meraih sejumlah uang setiap bulan, keadaan keluarganya bisa saja jauh berbeda dengan orang lain yang berlatar belakang kekurangan. Inilah yang kemudian menjadi ‘senjata’ untuk menyerang si Mbak tadi. Toh, tak semua orang lahir dengan kemudahan-kemudahan akses dan finansial, bukan?

‘Nasihat’ banyak orang yang berapi-api soal privilege anak orang kaya ini pun menjadi lebih simbolik lewat komik yang beredar di lini masa. Pada komik ini, ilustrasi kehidupan anak orang kaya dan anak orang miskin secara gamblang dijelaskan.

https://twitter.com/yatapikan/status/1094561588256722944

Lengkap sudah—pokoknya, anak-anak orang kaya, atau minimal berkecukupan, jelas dapat privilege dan mereka tak berhak bicara apa pun soal kesuksesan yang sebenarnya!

Eh, tunggu dulu—memangnya, benarkah demikian? Tapi, bagaimana jika Aned sesungguhnya tak sedang men-judge apa pun dan siapa pun? Bagaimana kalau dia sebenarnya hanya sedang mengajak kita semua berpikiran positif dan mencintai pekerjaan kita masing-masing? Hmm?

Saya pernah membuka Instagram Story dan menemukan seseorang menulis: “Untung saya bukan dari keluarga kaya yang manja. Untung saya terbiasa menabung dan tidak selalu merepotkan orang tua. Syukurlah, saya telah berusaha keras sendiri dari nol, tidak seperti anak-anak dari keluarga berada yang selalu dibantu orang tuanya yang berduit.” Keterangan ini lengkap diikuti cerita kesuksesannya yang—harus saya akui—memang mengesankan.

Iklan

Tapi—wow wow wow! ‘Keluarga kaya yang manja’? ‘Tidak selalu merepotkan orang tua’? ‘Berusaha keras sendiri dari nol’?

Menjadi keluarga yang berkekurangan, saya kira, tidak lantas membuat kita benar-benar ‘mulai dari nol’. Prinsip ini, lagi-lagi bagi saya, sama kuatnya dengan keyakinan bahwa tak seluruhnya anak-anak orang kaya bersikap manja dan bergantung pada orang tua, atau serta-merta mendapatkan privilege tertentu.

Maksud saya, gini loh: memang harus banget, ya, kita ngecap privilege anak orang kaya sebagai satu-satunya ‘alasan’ kesuksesan mereka (“Oh, pantesan jabatannya tinggi, pasti karena bapaknya”)??? Atau, harus bangetkah kita menganggap anak-anak yang mendapat privilege ini sebagai anak manja yang tidak tahu makna perjuangan???

Yang tidak semua orang pahami sebenarnya adalah: people change. Kalaupun ada orang yang awalnya manja, sangat mungkin ia berubah menjadi pejuang di kemudian hari. Atau, setidaknya, setiap orang juga pasti ingin berusaha dengan caranya sendiri. Titik.

Lagi pula, lahir dari keluarga yang berada dan mendapatkan privilege bukanlah suatu hal memalukan. Dipenuhi keinginannya oleh orang tua juga bukan hal yang membuat kita berlumur dosa. Kesuksesan bukan semata dari materi yang kita dapat, tapi juga doa yang dipanjatkan orang tua siang dan malam.

Oh, dan omong-omong, yang ‘hidup dari topangan orang tua’ pun bukan cuma orang-orang kaya—toh, kita semua juga demikian.

Bukankah itu juga telah menjadi privilege kita masing-masing?

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: anak orang kayanotannetteorang miskinprivilege
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Pelatihan keterampilan kerja bagi orang miskin dan disabilitas di Jawa Tengah MOJOK.CO
Kilas

Sebuah Lembaga Tempat Orang Miskin dan Disabilitas Jateng Dapat Pelatihan Kerja Gratis, Dilatih 10-20 Hari Langsung Jadi Kartap Perusahaan

26 Mei 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Sekolahan

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
privilege orang tua kaya mojok.co
Uneg-uneg

Privilege Orang Tua Kaya Itu Nyata

5 Maret 2023
kebiasaan flexing mojok.co
Sosial

Fenomena Orang Tajir Pamer Kekayaan, Pakar UGM Ungkap Alasan Flexing

1 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.