Beberapa hari sebelum tahun baru 2026, adik dari ibu saya mudik ke Jogja. Sudah lama sekali tante saya ini pindah ke Jakarta untuk ikut suaminya. Malam itu, kami ngobrol panjang. Nostalgia. Dan semacamnya. Salah satu tema obrolan yang kami bahas cukup panjang adalah kelakuan pengendara plat nomor B.
Tante saya sudah kenyang dengan “pertarungan” para pengendara di Jakarta. Dia lama tinggal di sana. Yah, saya tidak perlu menjelaskan soal ini. Masalahnya adalah, para pengendara ini, membawa kebiasaan buruk ketika plesiran ke berbagai kota. Dan jelas, membuat tante saya malu. Padahal di asli Jogja, cuma kebetulan lama di Jakarta.
Makanya, kami sepakat, tidak heran kalau lahir stigma buruk untuk pengendara plat nomor B. Namun, jelas, nggak semua pengendara kayak gitu.
Pengendara plat nomor B punya kebiasaan buruk yang sudah tercatat
Saya bercerita kepada tante saya kalau Mojok pernah menayangkan artikel soal stigma buruk pengendara plat nomor B. Bahkan ada yang membuat semacam catatan kelakuan buruk yang mereka bawa ke kota lain. Salah satunya adalah Jogja. Catatannya kayak gini:
- Pokoknya berhenti sedekat mungkin dengan kendaraan di depan.
- Jangan sampai memberi kesempatan kendaraan lain masuk ke depan.
- Kalau bisa masuk ke jalur yang lebih lancar, pokoknya cepat langsung lakukan.
- Sebiasa mungkin menyalip kendaraan di depan. Tidak peduli lewat jalur mana.
- Nyalakan lampu dim kalau kendaraan di depanmu terlihat ragu-ragu.
- Lampu hijau baru satu detik? Klakson! Jangan pernah ragu.
Adalah Dwi Budi Handoyo yang membuat catatan itu dan menayangkannya di Quora untuk menjawab sebuah fenomena. Bunyinya: “Mengapa kendaraan plat nomor B terkenal arogan?”
Oke, sampai di sini jelas ya. Bukan saya atau tante saya yang membuat catatan tersebut. Ini penting saya tegaskan supaya tidak ada salah paham.
Nah, saya ingin pembaca fokus ke nomor 1 dan 3 karena baru saja terjadi di Jogja. Mari kita bahas secara singkat mulai dari nomor 3 dulu.
Plat nomor B masuk jalur yang lebih lancar di Jogja dengan berbagai cara
Adalah Merapi Uncover, akun kesayangan masyarakat Jogja, yang mengunggah konten itu. Jadi, ada 2 mobil dengan plat nomor B, yang menerobos separator di depan kafe bernama Silol. Aktivitas kendaraan di sana memang sangat padat. Bahkan macet. Dan 2 mobil ini, kayaknya, berusaha untuk putar balik.
terpantau min plat B ada 2 mobil, yang mobil depan abis turun trus mindahin palang jalannya, habis gitu mobil belakangnya ngikutin, jelas2 di tutup tapi tetep aja di trabas, kita orang jogja aja gak berani, dah tau di kota orang tapi bertingkah. jangan di tiru ya temen temen ✨… pic.twitter.com/2eP6E2gMVT
— Merapi Uncover (@merapi_uncover) January 2, 2026
Masalahnya, polisi sudah sejak lama menutup titik untuk putar balik dengan separator demi menghindari penumpukan kendaraan. Nah, 2 mobil plat nomor B ini mungkin jengah dengan kemacetan. Sudah di Jakarta macet selalu, eh di Jogja kena lagi. Maka, si pengemudi turun, menggeser separator, lalu putar balik tanpa merasa berdosa.
Nah, saya mulai resah karena mungkin ungkapan “semesta bekerja secara rahasia” itu benar adanya. Kok ya kebetulan, si pengemudi yang membuka separator itu naik Pajero. Maka semesta seperti mempertemukan jodoh, antara pengendara plat nomor B dan Pajero. Pengendara arogan dan mobil yang celakanya sudah kadung mendapatkan stigma yang sama. Bisa gitu, yak.
Berhenti di mana saja, pokoknya yang cepet jalan
Jadi konteksnya gini. Buat pembaca yang belum tahu. Di Jogja, di banyak lampu merah, pemerintah bikin sebuah kotak berwarna hijau untuk tempat berhenti pesepeda. Posisinya di paling depan, persis di bawah lampu lalu-lintas. Biasanya, kalau warga lokal, sadar untuk berhenti di belakang kotak hijau itu. Ada yang nggak juga, sih.
Plat B ni emang ga ngerti norma berkendara ya https://t.co/mzWkOkhui3 pic.twitter.com/0aWpnQpNuv
— adit (@shoyopundung) January 1, 2026
Nah, tepat di tanggal 1 Januari 2026, ada satu mobil plat nomor B tertangkap kamera netizen, berhenti di kotak hijau itu. Inilah gambaran dari nomor 1 dari catatan “dosa pengendara plat nomor B” yang saya jelaskan di atas. Dan tentu saja, kolom komentar di konten tersebut berisi curhatan warga Jogja yang nggak enak kalau sampai di kuping pengendara dari Jakarta.
Begitulah. Dan saya belum membahas soal kebiasaan pakai klakson, lho ini.
Karena salah satu keluhan warga lokal adalah mobil plat nomor B gemar sekali menekan tombol klakson. Seakan-akan kalau nggak nglakson, tangan bisa kena panu.
Sementara, bagi warga Jogja, fungsi klakson itu ada dua. Pertama, alat silaturahmi. Kalau ketemu kenalan di jalan, dia akan klakson sambil senyam-senyum tolol. Kedua, memakai klakson ketika lewat tempat wingit nan angker. Dia akan nglakson sambil bilang, “Nuwun sewu.” Ya konyol, tapi begitulah namanya kearifan lokal memakai klakson WQWQWQ.
Pengendara plat nomor B nggak sendirian
Sebagai warga asli Jogja, saya ingin menegaskan sesuatu. Bahwa sejatinya, pengendara arogan itu nggak cuma plat nomor B. Bahwa, pengendara lokal, yaitu plab AB, juga sama-sama arogan. Bahkan semakin menyebalkan karena kalau salah, pasti lebih kencang berteriak.
Saya nggak tahu alasannya. Mungkin sebagian dari kami menganut pandangan “alon-alon waton kelakon” secara keliru. Karena sebagian dari kami, justru berjalan pelan ketika di jalur cepat. Tapi, begitu masuk jalur cepat, malah pelan-pelan. Seakan di dalam kepala kami, dunia itu selalu kebalikannya.
Selain itu, banyak warga lokal yang berhenti juga di kotak hijau khusus untuk pesepeda. Banyak dari kami yang nggak ngerti apa itu “cara antre”. Kamu bisa melihat hal ini secara realtime di persimpangan Pelem Gurih.
Dari timur menuju barat. Begitu sampai lampu merah, pengendara nggak akan berhenti di tempatnya. Mereka akan lebih maju, melanggar marka, apalagi cuma kotak hijau khusus pesepeda. Kami akan “balapan” masuk ke barat, menuju ke arah Godean. Jadi, persimpangan itu hampir selalu macet di jam sibuk.
Jadi, bagi pengendara plat nomor B, nggak perlu khawatir. Kami, plat AB, juga sama-sama punya stok pengendara brengsek.
Yah, cuma kebetulan saja, kalian lebih terekspos karena menyandang status “pendatang” atau “wisatawan”. Dua status yang bisa sangat nyelekit di hati warga lokal. Lain kesempatan, saya akan jelaskan.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Derita Plat Nomor B, AA, AD, H, dan K yang Dibenci Pengendara dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.













