Piala Kebodohan dan Award 212, Parodi Selanjutnya dari Pilpres 2019

Piala Kebodohan dan Award 212 MOJOK.CO

MOJOK.COPiala Kebodohan ala PSI lalu disusul Award 212 adalah pilihan “hiburan politik” kita satu-satunya? Tentu tidak. Kepada Nurhadi-Aldo kita bersimpuh!

Maka menjadi sangat masuk akal ketika pasangan capres dan cawapres fiktif, Nurhadi dan Aldo atau disingkat Dildo menjadi fenomena. Menjadi kesayangan banyak orang yang sudah sangat jengah bin muak dengan narasi-narasi kebodohan di seputar Pilpres 2019.

Yang paling baru adalah parade receh yang berturut-turut ditunjukkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Alumni 212.

PSI secara resmi mengirimkan piala (lengkap dengan piagamnya) yang mereka sebut sebagai Piala Bebohongan pada tiga tokoh, yakni Prabowo, Sandiaga Uno, dan Andi Arief kader Partai Demokrat.

Piala Kebohongan tersebut diberikan oleh PSI karena di awal 2019 ini, kubu Prabowo dianggap langsung sat set menciptakan kebohongan. Tiga Piala Kebohongan tersebut masing-masing disebut Piala Kebohongan ter-Lebay awal tahun 2019, Piala Kebohongan ter-HQQ awal tahun 2019, dan Piala Kebohongan ter-Halu awal tahun 2019.

“Penghargaan ini diberikan karena baru awal 2019 sudah terjadi tsunami kebohongan yang dilakukan oleh mereka bertiga,” kata Sekjen PSI Raja Juli Antoni dalam jumpa pers di Kantor DPP PSI di Jakarta pada Jumat, 4 januari 2019 lalu.

Piala Kebohongan ter-Lebay awal tahun 2019 diberikan kepada Prabowo Subianto terkait pernyataannya tentang selang darah RSCM yang dipakai 40 kali. Pernyataannya tersebut membuat banyak orang heboh. Pihak RSCM sudah membantahnya secara resmi dan menjelaskan bahwa selang hanya digunakan satu kali.

Sayangnya, hingga saat ini, RSCM tidak berani melayangkan somasi kepada Prabowo. Kalau nggak berani kan kesannya sanggahan RSCM tidak terlalu kuat. Hayo RSCM, wani ora koen?

Piala Kebohongan ter-HQQ awal tahun 2019 diberikan untuk Sandiaga Uno atas pernyataannya yang menyebut Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dibangun tanpa utang. Padahal kenyataannya, tol tersebut dibangun melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) dengan pinjaman dari beberapa bank.

Sementara Piala Kebohongan ter-Halu diberikan kepada Andi Arief atas pernyataannya yang dianggap ikut menyebarkan hoaks mengenai tujuh kontainer berisi surat suara yang sudah tercoblos. Konon, ada 70 juta surat suara yang sudah tercoblos. Dan, yang paling bikin males adalah ketika disebut surat suara tersebut dipesan dari Cina. Dikit dikit Cina, dikit dikit Aseng.

Kubu PSI menegaskan bahwa tujuan mereka mengirimkan Piala Kebodohan yang dikirim menggunakan ojol bukan sebagai gimmick belaka. Piala Kebodohan adalah peringatan kepada kubu oposisi agar tidak terus menyampaikan hoaks yang meresahkan masyarakat.

Sikap PSI ini tentu disambut meriah banyak pendukung Jokowi. Mereka bersorak-sorai setelah mendapatkan manifestasi kekesalan karena serangan-serangan kubu Prabowo yang frontal dan menggelitik.

Namun, “serangan” dari PSI ini sebetulnya tidak etis dilakukan oleh kumpulan para politikus. Apalagi, serangan kepada Andi arief.  Politikus Partai Demokrat tersebut memang dilaporkan ke polisi karena dianggap menjadi agent of hoax. Namun, yang namanya dilaporkan bukan berarti menjadi tersangka atau terdakwa.

Untuk hal ini, meski berat, kita harus setuju dengan pernyataan Ferdinand Hutahaean, politisi Demokrat yang pernah menuntut Jokowi untuk jujur menggunakan stuntman di pembukaan Asian Games 2018. Hehe~

Ferdinand, lewat twitnya berkata bahwa: “Award ini akan kami jadikan barang bukti lampiran ke polisi karena ini pidana. Menuduh orang dalam sertifikat itu sebagai pembohonh padahal belum ada keputusan pengadilan yang incrah.”

Sebagai politikus, yang siapa tahu akan masuk parlemen dan menjadi wakil rakyat secara resmi, PSI perlu memberikan contoh melawan hoaks secara lebih beradab. Bukan hanya soal ingin “lucu-lucuan” atau menggunakan alasan “sebagai peringatan supaya tidak menyebar hoaks”. Kalau hanya begitu, apa bedanya dengan narasi-narasi kebodohan yang selama ini sudah jamak kita dengar?

Tidak ingin ketinggalan membuat kegiatan receh, Alumni 212 membuat sebuah acara penghargaan. Tajuknya adalah Award 212, sebuah acara pemberian penghargaan kepada beberapa media yang “konsisten menggaungkan jiwa patriotik 212 secara santun, tertib, dan damai”.

Berikut daftar pemenangnya:

VOA Islam sebagai “212 Content Creator of The Year”, Republika, Kumparan, dan Al-Jazeera sebagai “212 Fair and Free Media of The Year”, Front TV mendapat “212 Progressive Media of The Year”, Saling Sapa TV sebagai “Educational Media of The Year”, Hidayatullah sebagai “212 Islamic Media of The Year, dan Radio dan TV Radio Silaturahim (Rasil) sebagai “212 Devoted Media of The Year.”

Jujur saja, pemberian Award 212 lebih masuk akal dan beradab ketimbang yang dilakukan PSI dengan Piala Kebodohan mereka. Orang masih akan melihat bahwa Award 212 sebagai serangan balik atas Piala Kebodohan ala ala PSI. Namun, Award 212 masih lebih punya dasar.

Alumni 212 punya hak untuk mengganjar beberapa media yang “konsisten menggaungkan jiwa patriotik 212 secara santun, tertib, dan damai” dengan Award 212. Hak yang dimiliki oleh Alumni 212 itu tidak melanggar apapun. Tidak “mabuk sebelum minum”. Tidak “bermimpi sebelum tidur” seperti PSI yang langsung memberi penghargaan ter-Halu kepada Andi arief.

Sampai kapan kita akan terus disuguhi “parodi” sebelum Pilpres 2019 resmi digelar? Jangan-jangan, debat capres dan cawapres nanti hanya akan diisi oleh klarifikasi masing-masing calon soal hoaks. Lalu ditutup dengan pemberian penghargaan capres dan cawapres yang paling banyak merana karena hoaks.

Ini semacam opera sabun atau kontestasi politik?

Exit mobile version