Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Perempuan, Aksi Terorisme, dan Hari Ibu Internasional

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
14 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di Hari Ibu Internasional, seorang ibu di Surabaya malah meledakkan bom bunuh diri dengan anaknya, membawa tanda tanya besar soal peran perempuan dalam aksi terorisme.

Surabaya berduka. Dunia seperti dikejutkan dengan bom yang meledak di 3 gereja, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Ngagel, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno, disusul oleh bom di rusun di daerah Sidoarjo, hingga Mapolrestabes Surabaya. Entah apakah keseluruhan ledakan ini berhubungan atau tidak, yang jelas semuanya seperti ingin menakut-nakuti warga.

Yang paling menyita perhatian pertama kali tentu saja ledakan bom di 3 gereja di Surabaya yang pelakunya adalah satu keluarga. Ya—benar-benar satu keluarga: ayah, ibu, dan anak-anaknya. Dari terkuaknya pelaku, disebutkan bahwa sang ibu, Puji Kuswati, bersama dua anak perempuannya (9 dan 12 tahun), kebagian tugas meledakkan bom bunuh diri di GKI Diponegoro dengan bom yang diletakkan di pinggang, atau disebut sebagai bom pinggang.

Kehadiran Puji dan kedua anak perempuannya dalam daftar pelaku bom bunuh diri kian menambah panjang barisan pelaku teroris perempuan.

Pada tanggal 11 Desember 2016 lalu, seorang wanita bernama Dian Yulia Novi pernah tertangkap saat berencana meledakkan bom panci di Istana Negara. Di tahun yang sama, Ika Puspitasari juga ditangkap karena aksinya yang akan meledakkan bom bunuh diri berhasil terungkap oleh Densus 88.

Meski tergolong baru di Indonesia, aksi terorisme yang melibatkan wanita bukanlah sesuatu yang baru di Georgia Utara, Irak, ataupun Iran, seperti yang dinyatakan oleh mantan narapidana teroris, Sofyan Tsauri. Sementara itu, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian meyakini hal ini terjadi karena wanita dianggap cenderung tidak mencurigakan.

‘Kalau Wanita Saja Bisa, Pria Pasti Bisa’

‘Diutusnya’ wanita sebagai pelaku bom bunuh diri, masih menurut Sofyan Tsauri, sering kali mengandung pesan tersendiri. Melalui ‘keberanian’ mereka, para pria diharapkan bisa merasa lebih giat agar melakukan apa yang mereka sebut sebagai perlawanan. Dengan beberapa alasan, banyak pihak yang kemudian mengkhawatirkan kejadian ini mengantarkan pesan khusus, yaitu: “Wanita saja bisa”.

Tak jarang, wanita-wanita ini adalah para janda yang suaminya terbunuh. Sekalipun bukan, mereka juga merupakan istri atau bagian dari keluarga para jihadis kegiatan-kegiatan radikal, misalnya Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Gerakan Negara Islam Indonesia (NII), atau bahkan ISIS.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Kholil Quomas meyakini bahwa munculnya teroris perempuan sesungguhnya diwarnai dengan paparan radikalisme dan terorisme dari media sosial.

Benar saja, kalau dipikir-pikir. Masih ingat kasus Mako Brimob? Setelah peristiwa berdarah itu terjadi, dua orang wanita berhasil diamankan karena diduga akan menyerang polisi. Setelah diusut, terkuaklah bahwa keduanya memang mempelajari keyakinannya pada ISIS melalui media sosial dan aplikasi WhatsApp yang kerap membahas perlawan kepada polisi atau penguasa masyarakat.

Ya, jelas ada mobilisasi kebencian yang membangkitkan kenekatan mereka.

Penilaian Soal Perempuan

Tapi, kenapa para wanita-wanita ini akhirnya nekat dan berani melibatkan serta mengorbankan dirinya?

Iklan

Dibandingkan laki-laki, perempuan ternyata dinilai lebih setia, taat, dan patuh pada peraturan. Tak hanya itu, perempuan juga dianggap sebagai kelompok yang lebih mudah percaya pada hal-hal agamis. Musdah Mulia, penulis Perempuan dalam Gerakan Terorisme di Indonesia mengutip perkataan Bahrun Naim, pimpinan ISIS asal Indonesia, menyebutkan bahwa “perempuan melakukan aksir teror karena laki-laki lebih pengecut”.

Penilaian-penilaian soal perempuan ini menjadi dasar bagi mereka untuk akhirnya rela mengorbankan diri dalam aksi yang mereka anggap sebagai bentuk jihad. Entah bagaimana pola pikirnya, mereka sesungguhnya telah memahami idealisme yang keliru.

Menariknya, tidak semua wanita-wanita ini tidak berpendidikan tinggi. Dari beberapa investigasi, wanita-wanita di pusaran kegiatan terorisme adalah mereka-mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi ataupun pesantren.

Peledakan Bom Bunuh Diri di GKI Diponegoro Bertepatan dengan Mother’s Day

Ya, mungkin Puji Kuswati hanya merayakan Hari Ibu Nasional pada tanggal 22 Desember—atau tidak sama sekali. Tapi perlu kita tahu, banyak negara di dunia merayakan Hari Ibu (Mother’s Day) pada hari Minggu kedua di bulan Mei, yang tahun ini jatuh pada tanggal 13 Mei.

Benar—tepat sekali dengan berlangsungnya peledakan bom bunuh diri yang ditunggangi satu keluarga di Surabaya.

Miris, memang. Di Hari Ibu, seorang ibu di Surabaya malah berjalan dengan bom di pinggangnya bersama dua anak kandungnya, yang juga dililiti bom yang sama. Ibu ini telah membuat takdirnya sendiri: membunuh dirinya, membunuh anaknya, dan membunuh toleransi di sekitarnya, tanpa tahu bahwa mungkin saja siang itu ia tadinya akan menerima ucapan selamat Hari Ibu.

Terakhir diperbarui pada 14 Mei 2018 oleh

Tags: bom surabayahari ibu internasionalperempuan terorispuji kuswatiterorisme
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

parpol terafiliasi jaringan terorisme
Kotak Suara

BNPT Endus Parpol Terafiliasi Terorisme Jelang Pemilu 2024, Partai yang Mana?

14 Maret 2023
teroris sleman mojok.co
Hukum

Cerita Pak Dukuh Soal Penangkapan Terduga Teroris di Sleman

23 Januari 2023
jack harun mojok.co
Liputan

Saat Mantan Teroris Ubah Stigma di Masyarakat dengan Jualan Soto

10 Mei 2022
mencuri kotak amal hukum islam sumbangan anak yatim sedekah Guru PNS di Lampung Diduga Galang Dana Terorisme JI lewat Ribuan Kotak Amal mojok.co
Kilas

Guru PNS di Lampung Diduga Galang Dana Terorisme JI lewat Ribuan Kotak Amal

5 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Petani kibulin bulog kirim gabah kering panen "aneh-aneh. MOJOK.CO

Pengamat Imbau Bulog untuk Revisi Pengadaan GKP agar Petani Tak Setor Gabah “Aneh-aneh”

29 Januari 2026
4 jenis orang/pengendara yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya dan dipersulit bikin SIM. Biang kecelakaan lalu lintas MOJOK.CO

4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang

2 Februari 2026
Sungai Progo, Tragedi Sungai Sempor Tak Perlu Terjadi Jika Manusia Tidak Meremehkan Alam dan Menantang Takdir MOJOK.CO

Izin Tambang Sungai Progo Masih Mandek dengan “Aturan Jadul”

28 Januari 2026
Muhammadiyah larang pakai AI berlebihan. MOJOK.CO

AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah

29 Januari 2026
Menyesal pindah ke Jogja, sama saja dengan Jakarta. MOJOK.CO

Kesialan Bertubi yang Bikin Saya Merenung dan Nyaris Menyesal Pindah ke Jogja yang Penuh dengan Kebohongan

27 Januari 2026
sekolah negeri, sekolah swasta.SALAM, sekolah di Jogja. MOJOK.CO

Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua?

28 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.