Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Penjelasan Sederhana tentang Razia Kondom yang Bodohnya Bukan Main

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
1 Januari 2020
A A
kondom, apotek, kasir, kontrasepsi, penyakit kelamin mojok.co

kondom, apotek, kasir, kontrasepsi, penyakit kelamin mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tahun baru dan hari Valentine adalah waktu langganan untuk satpol PP, ormas, dan siapa saja pihak kurang kerjaan untuk melakukan razia kondom dari pasaran. Daripada merazia barang legal, kenapa kalian nggak merazia kebodohan sendiri aja sih? 

Trik ini saya tiru dari guru-guru sekolah dan para mubalig. Sesuatu yang rumit akan jadi mudah dipahami kalau dijelaskan menggunakan perumpamaan atau persamaan. Saya akan mencontohkan lewat satu cerita.

Iklan

***

Syahdan seorang santri yang baru pulang belajar dari luar negeri galau minta ampun. Ia kemudian mendatangi kiainya untuk menanyakan tiga hal.

Kiai, katanya–tapi ini pakai bahasa saya sendiri, saya ingin menanyakan tiga hal yang membuat saya resah dan gundah.

Apa tiga pertanyaan itu, Nduk?–cerita ini aslinya pakai tokoh santri, tiap biar nggak mainstream, tokohnya saya ganti jadi santriwati.

Pertama, apakah Tuhan itu ada sementara kita tidak tahu wujudnya? Kedua, apakah takdir itu ada dan bagaimana cara kerjanya? Ketiga, mengapa setan yang terbuat dari api malah dimasukkan ke dalam neraka yang isinya api, api, dan api? Api ketemu api, di mana letak penyiksaannya, Yai?

Oh, aku akan menjawab ketiga pertanyaan itu sekaligus dengan satu jawaban. Ia kemudian menampar tangan si santriwati. (Adegan aslinya menampar pipi, tapi rasanya kok kasar banget untuk ukuran guru yang lagi ngajari muridnya.)

Lho, saya kok dipukul, Yai?

Ya, itu jawabannya. Coba sekarang, tanganmu setelah dipukul apa rasanya?

Sakit, Yai.

Sakit itu ada apa nggak?

Ya, ada, Yai. Wong saya sampai meringis begini.

Coba kalau sakit itu benar ada, tunjukkan ke saya, apa wujudnya?

Iklan

Si santriwati klakep karena dia santriwati. Kalau dia Willy The Kid, dia akan klakep sambil mam ketoprak pedas cabe rawit 4%.

Waktu kamu datang ke sini, kamu tahu nggak kamu bakal saya pukul?

Nggak, Yai.

Itu takdir. Sekarang saya tanya lagi, kalau tangan saya ini dilapisi kulit, lenganmu dilapisi apa?

Kulit juga, Yai.

Kulit ketemu kulit kok sakit?

Santriwati itu klakep lagi sambil menatap lantai. Tidak ada ketoprak pedas cabe rawit 4% di sana.

***

Setelah bertele-tele di atas, mari kita masuk ke topik razia kondom.

Apa sih fungsi kondom? Sebagai alat pengaman ketika berhubungan seksual. Pengaman dari apa? Dari potensi kehamilan tidak diinginkan (birth control) dan dari peluang tertular penyakit menular seksual, seperti sipilis, herpes, dan HIV.

Siapa yang memakai kondom untuk berhubungan seksual? Ya pasangan, bisa yang sudah menikah, bisa yang belum. Kenapa pasangan yang sudah menikah memakai kondom? Karena dianjurkan tenaga kesehatan. Kenapa dianjurkan? Satu, jaga-jaga kalau memang belum pengin punya anak. Dua, karena pernikahan tidak menjamin seseorang hanya akan berhubungan seksual dengan pasangan sahnya.

(FYI, ibu rumah tangga adalah salah satu populasi kunci dengan HIV dan AIDS tertinggi di Indonesia. Mereka tertular dari suami.)

Apakah kondom satu-satunya alat kontrasepsi di dunia? Tidak. Apa lagi? Untuk fungsi birth control, ada coitus interruptus alias keluar di luar (RIP EYD), macam-macam KB, hingga steril. Sedangkan untuk pengamanan dari penyakit menular seksual, kondom adalah yang paling praktis.

Sekarang clear ya soal kondom. Sekarang, para tukang razia kondom adalah rombongan orang-orang yang percaya bahwa kondom hanya dan hanya digunakan untuk mencegah kehamilan, persisnya lagi dipakai oleh orang-orang yang belum menikah. Di lembaga agama, kondom untuk pasangan sah pun dilarang karena dogma seks adalah ibadah, tidak boleh dilakukan hanya untuk senang-senang.

Kondom ibarat gelas, terus gelas itu kadang dipakai untuk minum bir, entah Prost yang sering promo sampai Paulaner.

Terus saya nggak suka bir. Jadi saya mau razia gelas. Biar orang nggak bisa minum bir.

Padahal bir bisa diminum langsung dari botolnya. Atau kalau kepepet, pakai mangkuk. Kalau mau gaya jawa timuran, diminum pakai tatakan gelas. Dan hubungan seks pranikah seperti itu: Mau ada, nggak ada kondom, kalau udah konak mah tetep jalan terus. Jadinya malah seks berisiko.

Akibat gelas dirazia, orang lain yang mau pakai gelas untuk minum kopi jadi nggak bisa. Padahal udara sedang dingin dan enaknya minum dang kopi, makannya dang goreng, ududnya dang garam, hiburannya dangdutan. Kan kasihan, dia jadi nglangut.

Kalau memang orang-orang itu takut sekali rekan-rekan senegaranya suka seks bebas, mending pakai cara lain. Kita bisa pakai KB sebagai contoh.

Program KB bisa dibilang tidak berhasil (ciye, eufemisme) pada masa-masa awalnya. Lha emang ngasih target kebangetan, dari era orang beranak 7-10 dianggap normal, tahu-tahu pemerintah menurunkannya secara njeglek jadi 2 anak cukup. Propagandanya berhasil, orang-orang menganggap dua anak itu bagus. Tapi bagus aja, ngikutin mah emoh.

Terus lihat hari ini. Mana ada acara bikin-bikin monumen atau tugu program KB lagi kayak jaman dulu. Sementara bisa kita lihat, teman-teman kita, mas-mas dan mbak-mbak kita, mulai menurunkan produksi anaknya jadi di kisaran satu sampai tiga. Beberapa ada yang ekstrem nggak mau punya anak.

Kenapa bisa begitu? Salah satu alasannya: Karena membesarkan anak itu makin mahal, sementara kepastian kesejahteraan terus turun. Intinya takut nggak kuat membiayai terus anaknya malah hidup nelangsa. Mereka nggak mau anak mereka gitu dan secara sadar, mandiri, dan berdaulat, mereka memilih pakai kontrasepsi.

Begitu ya.

BACA JUGA Jangan Ajari Anak Bahaya HIV/AIDS, Ajari Mereka Selibat demi Agama atau artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 1 Januari 2020 oleh

Tags: AIDSHIVkbkondomkontrasepsiraziaTahun BaruValentine
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO
Hiburan

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026
Gen Z mending beli bunga daripada rumah untuk self reward. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gen Z Lebih Suka Beli Bunga untuk Self Reward daripada Stres Nggak Mampu Beli Rumah untuk Masa Depan

16 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Geliat open bo di MiChat saat malam Valentine: pelampiasan lewat layanan "rasa pacar" MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Geliat Layanan Open BO “Rasa Pacar” di MiChat, Pelampiasan dan Upaya “Laki-laki Gagal” Mencari Validasi

14 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

3 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.