Para Kutu Loncat di Kubu Jokowi dan Prabowo, Dulu Teman Kini Lawan

MOJOK.COTidak ada yang pasti dalam politik, termasuk orang-orang di dalamnya. Jadi, tak perlu kaget jika ada kutu loncat di kubu Jokowi maupun Prabowo.

Politik memang bukanlah sesuatu yang pasti. Semua dapat menjadi teman jika ada kesempatan, lantas menjadi lawan jika sudah tidak ada kesempatan. Seperti sebuah istilah yang terkenal itu, “Tidak ada kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.”

Maka tidak mengherankan jika seorang politisi kemudian memutuskan untuk menjadi seorang kutu loncat. Biar apa? Biar hidupnya tetap kaya raya. Tentu saja supaya hidupnya dapat bermanfaat di tempat yang semestinya. Pasalnya, kalau tidak di tempat yang tepat, yang ada justru potensi yang dimiliki tidak keluar dengan optimal. Betul, kan?

Nah, dalam suasana politik yang sedang panas ini, kutu loncat tidak hanya ada di salah satu kubu saja, loh. Namun juga ada di kedua belah kubu. Supaya kita semua tahu dan mungkin pengin berhati-hati dengan para tokoh ini, tenang saja, Mojok Institute akan membongkarnya untuk kalian semua. Sesuatu yang terlihat jelas kan lebih enak untuk dibaca. Iya, nggak?

Oke, kita mulai dari kubu petahana. Pasangan calon dengan nomor urut 02, Jokowi-Ma’ruf Amin. Di kubu ini, ada beberapa nama yang menjadi kutu loncat, diantaranya:

1. Hary Tanoe

Hary Tanoesoedibjo, seorang pengusaha muda yang masuk politik sejak Oktober 2011 ini, diketahui sudah beberapa kali pindah partai. Hary Tanoe ini tipe orang yang pergi jika ada masalah yang menghampiri. Jadi, ketika tidak cocok dengan satu partai, ia memilih keluar. Karena dia kaya, tentu saja mudah jika pada akhirnya sekarang dia  memilih bikin partai sendiri. Mungkin biar dia bisa stay dan belajar setia.

Awalnya, ia bergabung dengan NasDem-nya Surya Paloh, kemudian berpindah dan merapat ke Wiranto dengan Partai Hanura-nya. Namun ia memilih bercerai dari Wiranto, sebab Wiranto lebih memilih bergabung dengan Jokowi dalam Pilpres 2014. Lantas ia bikin partai sendiri yakni Perindo. Meski tidak mau mengakui secara lantang, namun suara Perindo memang lari ke Prabowo pada Pilpres 2014. Kini, dalam Pilpres 2019, ia mengalihkan suaranya untuk Jokowi.

2. Romahurmuziy

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy atau yang akrab disapa Gus Romy ini pada Pilpres 2014 menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Strategi Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun dalam Pilpres 2019 saat ini, sangat jelas kepada siapa pilihannya berlabuh. Gus Romy memutuskan partainya berkoalisi dengan pasangan petahana Jokowi-Ma’ruf Amin.

3. Tuan Guru Bajang

Gubernur Nusa Tenggara Barat, TGB Zainul Majdi ini secara blak-blakan mengeluarkan pernyataan dukungannya terhadap Jokowi dan mengungkapkan mendukung Jokowi dua periode. Pernyataannya tersebut sempat membuat syok banyak pihak, sebab sebelumnya ia menjabat sebagai Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat dan Demokrat dengan jelas memberikan dukungan kepada Prabowo. Selain itu, pada Pilpres 2014, dirinya justru menjabat sebagai ketua pemenangan Prabowo-Hatta di NTB.

4. Ali Mochtar Ngabalin

Pada Pilpres 2014, Ngabalin memang menjabat sebagai anggota tim sukses pemenangan pasangan Prabowo-Hatta. Ngabalin pernah menggugat hasil Pilpres 2014 di Mahkamah Konstitusi. Bahkan ia pernah membuat statemen dukungan dengan kalimat yang terdengar sangat heroik, “Kita mendesak Allah berpihak pada kebenaran, berpihak pada Prabowo-Hatta Rajasa.” Namun tahun demi tahun berlalu, setahun menjelang Pilpres 2019, Jokowi mengangkat Ngabalin sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden. Sungguh baik sekali.

5. Yusril Ihza Mahendra

Pengacara kondang, Yusril Ihza Mahendra kini menjadi penasihat hukum pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Ketua Umum Partai Bulan Bintang ini, sebelumnya pernah menjadi ahli dalam gugatan Prabowo-Hatta Rajasa kepada KPU mengenai hasil Pilpres 2014 di Mahkamah Konstitusi. Bahkan Yusril, sebelumnya juga menjadi tim kuasa hukum HTI. Di mana Jokowi justru bikin aturan tentang pelarangan HTI ini.

 

Selanjutnya, kita bahas para kutu loncat dari pasangan calon nomor urut 01, Prabowo-Sandiaga Uno. Dari koalisi Adil dan Makmur ini, ada beberapa nama yang menjadi kutu loncat, diantaranya:

1. Anies Baswedan

Pada Pilpres 2014, Anies Baswedan memutuskan untuk mendukung Jokowi sebagai presiden. Ketika itu ia menjadi juru bicara dan anggota tim kampanye pasangan Jokowi-Kalla. Berkat jasanya ini, dalam pemerintahan Jokowi, Anies didaulat menjadi Menteri Pendidikan. Namun tidak berselang lama, ia dipecat yang menurut rumornya, karena ia tidak memenuhi target Jokowi. Setelah itu, ia berlabuh ke Gerindra dan dicalonkan sebagai Gubernur DKI. Anies yang pernah berseberangan dengan Prabowo, menjadi Gubernur dari koalisi PKS-Gerindra.

2. Ferry M. Baldan

Ferry Mursyidan Baldan merupakan mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang di Kabinet Kerja Jokowi. Namun kini ia bergabung dengan tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno. Setelah ia bergabung dengan tim pemenangan tersebut, ia pun mengaku sudah tidak aktif lagi di Partai NasDem—partai yang saat ini mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

3. Sudirman Said

Pada pemerintah Jokowi-Kalla, Sudirman Said menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, namun hanya sekitar 2 tahun menjabat ia juga direshuffle. Lalu, pada Pemilihan Umum Gubernur Jawa Tengah, ia mencalonkan diri sebagai gubernur Jawa Tengah. Setelah itu, untuk Pilpres 2019, ia bergabung dengan koalisi Prabowo-Sandiaga Uno dan masuk menjadi tim sukses pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

4. Rizal Ramli

Politikus sekaligus pakar ekonomi Rizal Ramli, pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia pada era pemerintahan Jokowi-Kalla. Namun hanya berselang setahun, ia juga direshuffle oleh Jokowi. Meski tidak pernah menyebutkan secara langsung, namun secara tersirat Rizal Ramli telah menjatuhkan dukungannya pada Prabowo-Sandiaga pada Pilpres mendatang. Kehadirannya untuk koalisi Prabowo ini, menjadi angin segar untuk penguatan dalam sektor ekonomi nanti.

5. Ferdinand Hutahean

Ferdinand Hutahean merupakan salah seorang tim sukses Jokowi-Kalla pada Pilpres 2014. Menurut kabar yang beredar, karena tidak dipilih menjadi komisaris, akhirnya ia memilih menjadi Juru Bicara Partai Demokrat. Lantas, ia menjadi salah satu politisi yang sering memberikan kritikannya kepada Pemerintahan Jokowi. Karena Partai Demokrat memilih berkoalisi dengan Prabowo, maka Ferdinand pun turut mendukung Prabowo-Sandiaga untuk Pemilu 2019 mendatang.

Melihat rekam jejak beberapa tokoh di atas, maka jelas sudah bahwa kepastian dalam sebuah politik adalah ketidakpastian itu sendiri, mengingat hidayah bisa datang kapan pun dan pada siapa pun. Maka ingatlah wahai yang sekarang ngotot-ngototan dukung salah satu calon: besok ketika bangun pagi, mereka, atau justru kita, bisa dibolak-balik pikirannya. Jadi cukupkan saja segala ngotot-ngototan itu. (A/L)

gardamaya

Exit mobile version