Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah

Kalau temanmu pakai baju itu-itu saja, jangan diejek. Tapi, belikanlah dia baju baru yang mahal dan bagus.

ilustrasi Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah mojok.co

ilustrasi Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah mojok.co

MOJOK.COKelihatan cuma punya baju sedikit, pakai baju itu-itu saja bukan berarti nggak nggak ngerti fashion. Nggak usah merasa bersalah.

Pakai baju yang sama setiap hari memang sudah terkenal sebagai kebiasaan orang kaya dan CEO kelas dunia. Lihat saja Steve Jobs, Mark Zuckerberg, atau almarhum Bob Sadino. Tapi, ejekan “pakai baju itu-itu saja” adalah sesuatu yang lain. Biasanya, merujuk pada orang yang cuma punya pilihan baju sedikit dan pilihan baju “bagus”-nya ketebak.

Saya nggak akan membela kaum yang pakai baju itu-itu saja dengan argumen bahwa CEO kelas dunia bergaya begitu. Kita ini rakyat jelata. Lagi pula, mereka pakai setelan baju yang sama karena punya banyak stok di lemari. Mereka juga sudah memilih baju paling nyaman dengan kualitas paling baik yang harganya jelas bisa buat belanja awul sampai puas.

Saya bakal membela orang yang pakai baju itu-itu saya dengan argumen paling logis. Sebab, hal semacam ini sebetulnya harus mulai dinormalisasi.

Nggak ada waktu mikir

Bayangkan berapa waktu yang dibutuhkan seseorang untuk membuka lemari, memilih warna yang cocok, memilih model atasan dan bawahan yang sesuai, dan memikirkan pula tas dan sepatu yang mereka akan pakai. Semakin banyak stok baju, semakin bingung memilihnya. Ingat paradox of choice, makin banyak pilihan, makin bikin bingung.

Bagi sebagian orang, rutinitas pilih baju semacam itu memakan waktu. Jangankan pilih baju ya, belanja baju lebaran aja kadang mager banget loh. Jadi, buat kaum-kaum yang mengutamakan esensi dan nggak kebanyakan sensi, memang lebih baik punya baju sedikit dan mengulang memakai baju yang sama berkali-kali.

Ramah lingkungan

Memang alasan ini terdengar seperti dibuat-buat. Tapi, lebih baik daripada nggak ada. Semakin banyak beli baju, semakin banyak limbah kain. Mendingan punya baju sedikit yang berkualitas dan selalu dipakai.

Sama kayak prinsipnya Marie Kondo deh, kalau bajunya sudah nggak sparks joy, harus dibuang. Nah, kalau bajunya kebanyakan demi buat gonta-ganti setiap hari kan berseberangan dengan prinsip minimalis ala Marie Kondo.

Pakai baju untuk alasan kenyamanan

Buat apa pakai baju model-model Met Gala dan banyak rupanya kalau semuanya nggak nyaman dipakai? Mendingan memang punya baju sedikit, yang kelihatannya itu-itu saja, tapi selalu nyaman. Kualitas hari-harimu tergantung baju yang kamu pakai. Mengorbankan kenyamanan demi gaya itu hal yang kocak dan mendingan dihindari.

Coba tengok insan produksi perfilman yang pakai kaus item lagi item lagi. Tentu mereka memilih baju itu karena nyaman, nggak ribet, dan nggak gampang kotor saat proses produksi film. Kalaupun keringetan, nggak kelihatan keteknya basah. 

Memang nggak ada duit dan nggak perlu malu sama hal ini

Ini alasan paling mendasar kenapa pilihan baju seseorang kelihatannya itu-itu saja. Simpel, kami nggak ada duit beli baju baru. Kalaupun ada uang, ya belinya model yang sama. Beli kaus hitam lagi, beli celana jeans lagi. Terkesan nggak kreatif memang, tapi namanya sudah telanjur nyaman, nggak masalah dong!

Alasan utamanya nggak ada duit buat beli baju, tapi tindakan berhemat ini juga sekaligus demi memaksimalkan nilai guna suatu benda. Kita harus respek sama orang-orang yang pakai barang sampai rusak baru ganti. Selain irit, mereka juga bisa menahan nafsu belanja di tengah gempuran diskon marketplace.

Tolong ya, mulai sekarang normalize orang pakai baju itu-itu saja karena ini bukanlah perbuatan dosa. Lebih berdosa mereka yang bajunya nyolong jemuran tetangga. Pemilihan fashion sederhana begitu juga nggak bikin iritasi mata dan nggak merugikan orang lain. Kecuali kalau pakai baju itu-itu saja karena nggak pernah mandi dan menghasilkan bau-bau sampah.

BACA JUGA 5 Kesalahan Pakai Baju yang Konon Bakal Diketawain Ahli Fashion Design dan artikel lainnya di POJOKAN.

Exit mobile version