Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Merayakan Penolakan Beramai-Ramai Terhadap Gaya Komentator Heboh ala Valentino Simanjuntak

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
2 Agustus 2021
A A
komentator
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Komentator itu memang tugasnya untuk meramaikan pertandingan, tapi jangan lantas hanya ramai saja, harus edukatif juga. 

Sekitar empat atau lima tahun lalu, publik penggemar olahraga di Indonesia dibuat terpikat oleh gaya komentator baru yang atraktif lewat sosok Valentino Simanjuntak.

Iklan

Gayanya sebagai komentator pertandingan-pertandingan tim nasional yang atraktif dan heboh saat itu memang menjadi daya tarik tersendiri. Komentator pertandingan sepakbola spesialis timnas yang memopulerkan kata jebret ini benar-benar menjadi buah bibir sejak ia tampil dengan membawa aneka pilihan kata dan frasa yang lucu dan tak lazim.

Bayangkan, ketika komentator lain mungkin akan menggunakan frasa “tendangan spekulatif” untuk sebuah percobaan tendangan jarak jauh, Valentino Simanjuntak justru memilih menggunakan “tendangan LDR”. Ketika komentator lain menggunakan “umpan terobosan”, Si Bung Valen justru menggunakan “umpan membelah lautan”. Ditambah sederet frasa brengsek lainnya seperti “peluang 24 karat”, “umpan gratifikasi”, “passing cuek”, “gelandang penimba sumur”, “duo bendungan jatiluhur”, “heading sang mantan”, sampai “gerakan 378”.

Gaya komentator heboh dan atraktif yang disajikan oleh Valentino Simanjuntak ini seakan menjadi pengobat lara yang cukup manjur bagi pemirsa ketika timnas belum bisa tampil baik dan mempersembahkan gelar.

Takluk dari Malaysia pun tak mengapa, sebab orang akan segera lupa, sebab yang mereka ingat “umpan gratifikasi”, “tendangan LDR”, dan “gol kelok sembilan”.

Ia seakan mampu menggantikan gaya komentator informatif seperti Tommy Welly alias Bung Towel dan Mohamad Kusnaeni alias Bung Kus.

Namun belakangan, gaya komentator heboh ala Valentino “Jebret” Simanjuntak ini tampaknya semakin mendapat penolakan dari masyarakat.

Banyak yang menganggap gaya komentator menghibur yang dibawakan oleh Valentino semakin menyebalkan. Orang-orang semakin resisten terhadap komentator genre heboh ini.

Pertandingan Piala Menpora 2021 antara Bali United dan PSS Sleman yang akhirnya dimenangkan oleh PSS Sleman melalui drama adu penalti pada pertengahan April 2021 lalu menjadi panggung penolakan beramai-ramai dari publik terhadap gaya komentator Valentino.

Saat itu, netizen beramai-ramai mengaungkan tagar #GerakanMuteMassal sebagai protes atas gaya komentator Valentino yang dianggap hanya atraktif namun tidak edukatif.

“Penikmat sepakbola juga butuh edukasi, bukan pendengar teriakan yang menimbulkan polusi” begitu pesan yang muncul dalam poster #GerakanMuteMassal.

Valentino sendiri saat itu mengatakan bahwa yang dilakukannya semata adalah usaha untuk mencari penonton.

“Saya, sih, sudah dari 2013, ya, digituin, jadi bukan sesuatu yang baru buat saya.” ujarnya kepada Kumparan. “Nah, saya kan juga memang host yang harus mencari sensasi supaya penonton semakin banyak. Penonton yang dimaksud oleh TV itu kan bukan hanya penonton bola, tetapi penonton di luar bola juga yang sekarang larinya ke Ikatan Cinta.”

Lebih lanjut, Valentino mengatakan bahwa gaya komentator yang ia lakukan selama ini semata sebuah usaha untuk meningkatkan animo penonton siaran sepakbola.

“Tayangan bola ini masih tiga kali lipat di bawah ‘Ikatan Cinta’. Jadi, kita harus melakukan berbagai macam kreativitas kan.” Terangnya.

Nah, puncak protes publik pada gaya komentator heboh ala Valentino ini pada akhirnya terjadi dalam momen pertandingan-pertandingan bulu tangkis Olimpiade 2020 Tokyo beberapa waktu terakhir ini.

Valentino yang menjadi komentator pertandingan bulu tangkis yang ditayangkan di Indosiar menjadi bulan-bulanan netizen atas gaya hebohnya itu.

Iklan

Publik membandingkannya dengan gaya komentator pertandingan yang ditayangkan oleh TVRI yang dianggap jauh lebih edukatif, informatif, dan tidak heboh.

Pada pertandingan yang disiarkan TVRI, komentator memang banyak memberikan informasi-informasi penting terkait bulu tangkis, termasuk istilah-istilah penting seperti netting, pukulan overhead, dsb. Hal yang sangat jarang terjadi pada pertandingan yang disiarkan oleh Indosiar di mana Valentino Simanjuntak menjadi komentatornya.

Memang tak sedikit masyarakat yang suka dengan gaya komentator heboh ala-ala Valentino Simanjuntak karena gaya komentatornya tersebut tak bisa dimungkiri cukup efektif membuat pertandingan menjadi lebih meriah, ramai, dan juga tidak menegangkan.

Namun, bagi penonton yang memang sangat menggemari badminton dan menganggap pertandingan badminton bukan sekadar hiburan semata, gaya komentator heboh dan asal ramai tersebut tentu bukan pilihan yang bagus.

Pada akhirnya, makin banyaknya suara protes dari masyarakat terhadap gaya komentator heboh ini memang menjadi sinyal yang positif, bahwa pertandingan olahraga dinilai semakin penting dan tak lagi dianggap sebagai sekadar siaran hiburan semata.

Hal tersebut juga menjadi bukti bahwa penonton pertandingan olahraga Indonesia tampaknya memang semakin haus bukan hanya akan prestasi, namun juga haus akan edukasi terkait pertandingan termasuk ulasan, analisis, statistik, serta aneka trivia yang tentu saja menambah pengetahuan olahraga.

Dan tentu saja, hal tersebut layak untuk dirayakan, sebab prestasi olahraga suatu negara bisa dimulai dari kesadaran kolektif dan pengetahuan yang mumpuni akan olahraga dari para pengemarnya.


BACA JUGA Emas Greysia Polii dan Apriyani Rahayu Beri Secercah Senyum untuk Indonesia yang Muram dan artikel AGUS MULYADI lainnya

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2021 oleh

Tags: KomentatorValentino Simanjuntak
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Valentino Simanjuntak vs Real Madrid di Liga Champions- Cukup Beradaptasi untuk Juara, Tak Perlu UU ITE Itu MOJOK.CO

Valentino Simanjuntak vs Real Madrid di Liga Champions: Cukup Beradaptasi untuk Juara, Tak Perlu UU ITE Itu

14 April 2021
valentino jebret

Netizen Beramai-Ramai Memprotes Gaya Komentator Valentino “Jebret” Simanjuntak yang Dianggap Terlalu Lebay melalui Tagar #GerakanMuteMassal

13 April 2021

Gaya Bahasa Komentator Sepak Bola yang Mengundang Tawa

13 Juli 2018
valentino simanjuntak

Berkhidmat kepada Bung Valentino “Jebret” Simanjuntak

12 September 2017
Supaya Aksi 712 Timnas Lebih Kemripik

Supaya Aksi 712 Timnas Lebih Kemripik

7 Desember 2016
Person of The Year 2015

Mojok Person of The Year 2015

1 Januari 2016
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.