Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Usaha Memahami Permintaan Maaf Sandiaga Uno

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
13 November 2018
A A
Sandiaga Uno minta maaf MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Terasa ada yang janggal dari permintaan maaf Sandiaga Uno setelah melangkahi makam Kiai Bisri Syansuri. Khusnudzon, begini cara memahaminya.

Ketika tidak ada adu ide yang menyenangkan untuk diikuti sepanjang kampanye Pilpres 2019, Sandiaga Uno menjadi sebuah oase. Oase hiburan, tentu saja, bukan pameran ide yang menarik, apalagi menggugah. Dimulai dari retorika tempe setipis atm, tempe sebesar tablet, petai jadi hiasan kepala, pameran keseimbangan di sebuah makam, dan yang terakhir: melangkahi makam.

Iklan

Tak main-main, makam yang ia langkahi adalah makam Kiai Bisri Syansuri, salah satu pendiri Pondok Pesantren Denayar, Jombang yang legendaris itu. Kiai Bisri itu, kalau kamu masih belum tahu, adalah salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Nah, kalau Nahdlatul Ulama kan tidak perlu dijelaskan lagi.

Video Sandiaga Uno yang melangkahi makam Kiai Bisri tersebar secepat kilat. Di video tersebut, sebetulnya, juga terlihat Prabowo Subianto. Bedanya, Prabowo terlihat paham adab ziarah makam. Beliau melipir, memutar sedikit supaya tidak perlu melangkahi makam. Nah, si Sandiaga Uno, entah kesambet apa, mengayunkan kaki dengan ringan, melangkahi makam Kiai Bisri.

Apa ya Sandiaga Uno itu tidak pernah ziarah makam? Ya bisa jadi. Sebagai santri post Islamisme, tentunya Sandiaga Uno paham dengan adab dan sopan santun ketika ziarah makam. Gelarnya saja sudah santri. Lha wong yang bukan santri saja tahu betul kalau melangkahi makam itu perbuatan yang sangat tidak sopan. Ya kecuali gelarnya itu anu anu saja.

Ahmad Khadafi, salah satu redaktur Mojok menulis bahwa “Kesopanan itu jadi representasi paling dekat dengan akhlak. Kalau orang kok sopan santunnya nggak ada–masyarakat akan menilai orang ini bermasalah soal tingkah laku. Dan ketika yang melakukan sosok seperti Sandiaga, efeknya pun jadi berlipat ganda sampai ke mana-mana.”

“Satu hal yang jelas dari pemandangan itu: Sandiaga memang nggak biasa ziarah ke makam. Dan karena nggak biasa, ya dia nggak tahu. Yang saya herankan adalah, jika memang Sandiaga nggak biasa ke makam, kenapa dia nggak bertanya dulu ke tim suksesnya; apa saja sih adab dan sopan-santun kalau kita sedang ziarah? Ketidaktahuan yang malah benar-benar jadi bumerang,” lanjut Ahmad.

Masuk akal, bukan argumen dari Ahmad Khadafi? Nanti dulu.

Argumen Ahmad Khadafi ini dimentahkan secara telak. Oleh siapa? Ya Sandiaga Uno sendiri. Sebagai orang yang bersalah, sudah lazimnya meminta maaf. Tentu saja, permintaan maaf Sandiaga ini kita terima. Namun, tolonglah, bersabarlah dengan saya. Kita simak ucapan permintaan maaf Sandi.

“Pertama-tama, ya tentunya permohonan maaf. Manusia itu pasti ada khilaf. SAYA HAMPIR TIAP HARI ZIARAH KUBUR DAN SELALU ADA PEMANDUNYA. Tadi saya ziarah kubur juga ada pemandunya. Dan tanpa mau menyalahkan siapa-siapa, saya harus berani mengambil risiko bahwa ini kesalahan dari saya,” kata Sandiaga ketika diwawancara usai acara dialog dan ngopi bareng wirausaha milenial di Warkop 45 Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, Riau.

Tolong perhatikan betul penggalan kalimat yang ditulis kapital. “SAYA HAMPIR TIAP HARI ZIARAH KUBUR DAN SELALU ADA PEMANDUNYA.” Jadi, Sandiaga ini sangat rajin mengunjungi makam. Beliau bahkan bilang “hampir setiap hari”. Bisa kita bayangkan, setiap dua hari sekali, Bang Sandi datang ke makam. Hampir setiap hari, bung. Edan, sangat masuk akal. Selama ini Bung Sandi memang selow nampaknya. Selain kampanye, beliau rutin ke makam. Hobi kayaknya.

Nah, sebagai orang yang “hampir setiap hari” datang ke makam, kok bisa Bung Sandi khilaf melangkahi makam? Karena dilakukan setiap hari, seharusnya, beliau sudah khatam dengan adab dan sopan santun ziarah makam. Bahkan, tidak perlu pakai pemandu sekalian. Lha wong hampir setiap hari je.

Tapi baiknya, sebagai manusia dengan akal yang sehat, mari kita khusnudzon. Ada beberapa cara memahami permintaan maaf Sandiaga Uno yang sangat masuk akal ini.

Pertama, bisa jadi Bung Sandi ke makam buat cari wangsit. Maklum, sampai saat ini, elektabilitas Prabowo dan Sandiaga tertinggal agak jauh dari Jokowi/Ma’ruf Amin. Bisa jadi, saking penat isi kepala karena memikirkan elektabilitas, Sandiaga menjadi khilaf. Hmm…lumayan masuk akal.

Iklan

Kedua, bisa jadi Bung Sandiaga Uno pakai aplikasi Go Send. Jadi, bukan Bung Sandi yang datang ke makam, tetapi “tanah makam” yang dibawa ke rumah Sandi untuk “didoakan”. Dengan begitu, Pak Sandi bisa “berziarah kubur hampir tiap hari”. Pakai tanpa petik biar kamu semua tahu kalau ini satir saja. Sekarang ini banyak yang susah memahami dan menertawakan sebuah guyonan.

Ketiga, bisa jadi Sandiaga Uno pakai yang namanya VR atau Virtual Reality. Pakai kacamata simulasi yang canggih itu. Namanya santri milenial, beliau memaksimalkan teknologi yang sophisticated. Simulasi ziarah kubur. Terdengar sangat keren. Sungguh revolusioner.

Well, pada akhirnya, ini mungkin saja, sih. Bung Sandiaga Uno perlu latihan berbicara di depan publik. Apalagi ketika situasi spontan, bukan ketika mau debat capres-cawapres saja. Biar nggak salah bicara dan bikin Mojok Institute girang karena dapat bahan tulisan.

Terakhir diperbarui pada 13 November 2018 oleh

Tags: Kiai Bisri SyansuriPilpres 2019Sandiaga Unoziarah makam
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden? MOJOK.CO
Esai

Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden Indonesia?

18 Desember 2023
sandiaga uno ppp mojok.co
Kotak Suara

Sandiaga Uno Gabung PPP, Apa Dampak Elektoralnya?

23 Juni 2023
erick dan sandi mojok.co
Podium

Erick dan Sandi Berebut Simpati Publik lewat Coldplay dan Timnas Argentina

18 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.