Saya masih ingat rasa daging ayam dalam nasi kotak yang Ibu bawa ketika lembur bekerja di pabrik semasa saya masih kecil. Biasanya paha dan ceker, menyatu. Dagingnya dingin, alot, tapi rasanya masih gurih. Biasanya ayam itu dibagi dua, agar saya dan kakak bisa makan daging. Masa itu berat, tapi jelas saat itu saya tak paham. Saya kira, memang seperti itulah hidup.
Lalu dunia berangsur membaik. Saya bisa makan satu bagian daging ayam untuk diri saya sendiri. Tapi jelas tidak bisa tiap hari begitu. Sebab sekalipun hidup membaik, ayam masihlah menu yang mahal, yang mewah, yang megah.
Sebagian besar hidup saya dihabiskan dengan memandang daging ayam adalah sesuatu yang mewah. Tapi makin dewasa, saya disadarkan bahwa ayam harusnya bukanlah menu yang mewah. Ayam, harusnya ada di tiap meja makan rakyat Indonesia. Bilang bare minimum pun seharusnya bukan sesuatu yang kontroversial. Sebab, memang rakyat Indonesia butuh asupan nutrisi yang mumpuni, dan ayam, harusnya, tidak susah untuk diakses.
Beberapa hari lalu, salah seorang kawan yang kebetulan influencer gym, bikin postingan bahwa dia harusnya menurunkan gengsi, dengan tidak makan ayam. Postingan itulah yang bikin tulisan ini ada, bahwa ternyata, penderitaan saya susah makan daging ayam sekitar hampir 3 dekade lalu dianggap normal.
Kita tidak bisa mencukupi asupan protein harian
Sebagaimana manusia-manusia lain yang tersadar setelah dipisuhi Dokter Tirta, belakangan saya peduli dengan kesehatan. Selama 2 tahun belakangan, saya rutin olahraga, dan asupan protein jadi hal yang tidak bisa saya tawar lagi. Daging ayam jadi menu yang tak boleh saya lewatkan. Dan saya baru tahu, bahwa selama ini, saya hampir tak pernah bisa memenuhi protein harian.
Untuk orang dewasa dengan bobot 70 kilogram, butuh minimal 56 gram protein per hari. Beda berat badan, beda kebutuhan. Pakai saja rumus 0,8 x berat badan kalian. Itu minimal. Kalau kalian ibu menyusui, orang yang aktif berolahraga atau kerja berat, hitungannya bisa 1-1,2 x berat badan. Itu minimal, lagi-lagi.
Masalahnya, misalnya kita makan 2 porsi ayam paha geprek, itu belum bisa memenuhi minimal asupan protein harian. Sedangkan realitasnya, tidak semua orang bisa beli nasi ayam geprek, dua kali lagi per hari. Coba kamu ngobrol sama kawanmu yang mahasiswa, berapa kali mereka bisa makan daging?
Bahwa protein tidak hanya dari daging ayam, saya setuju. Tapi kandungan protein telur, tempe, tahu, tidak sebanyak ayam. Mau makan daging sapi dan kambing, ya jelas nggak bisa. Beli ayam saja belum tentu bisa, kok malah nyari daging yang lebih mahal.
Jadi, jujur saja, wajar kalau ada yang bilang daging ayam itu bare minimum. Sebab, itulah yang badan kita butuhkan. Dan mirisnya, kita hampir-hampir tidak pernah bisa memenuhi asupan harian karena alasan sederhana: daging ayam mahal.
Harga daging ayam per kilo
Saya bukan orang yang masuk kategori miskin (calon sih, iya). Tapi beli daging ayam di masa-masa kini, beneran bikin pusing. Per kilo, ayam menyentuh 32 ribu. Menuju lebaran, harganya makin gila. Ada masa daging ayam menyentuh 42 ribu. Gila.
Kalau misalnya tiap hari saya beli daging ayam satu kilo, selama 30 hari, dengan asumsi per kilogramnya 32 ribu. Maka, saya harus membayar 960 ribu hanya untuk daging ayam. Itu belum biaya beli beras, yang per hari ini sudah menyentuh 15 ribu per kilo. Belum beli sayur, bumbu, dan sebagainya.
Biaya beli daging ayam belum seperempat gaji, tapi ditambah yang lain-lain, hanya untuk makan bisa mendekati separuh gaji. Ini masak sendiri, bukan beli. Dan lebih menyedihkan lagi, gaji saya bukan UMR. Jauh di atas. Tapi di masa kini, untuk makan saja, saya harus keluar begitu banyak. Kegilaan macam apa ini?
Betul, memang tak harus makan ayam. Kita bisa berbusa-busa menulis daftar alternatif lauk yang sehat atau murah, atau apalah itu. Tapi mengingat daging ayam itu harusnya adalah bare minimum untuk nutrisi kita, harusnya kita bisa membelinya dengan mudah. Indonesia yang ideal harusnya adalah orang-orang tidak mengeluh harga daging ayam mahal.
Kenyataannya, konsumsi protein hewani rakyat Indonesia begitu rendah. Mengutip dari rilisan Kemenkes pada 2023, konsumsi rata-rata seafood orang Indonesia ada di 9,58 gram, daging di 4,79 gram, konsumsi telur dan susu di 3,37 gram.
Setelah membaca itu, apakah kamu masih punya hati bilang turunkan gengsi, jangan makan daging ayam?
Kenyataan yang menyedihkan
Saya tak sekali mendengar cerita orang yang baru bisa makan daging kambing dan sapi hanya saat Iduladha saja. Itu adalah fakta. Itu adalah realitas rakyat Indonesia yang perlu kita terima. Padahal untuk tumbuh kembang anak, daging merah adalah kunci. Tapi realitas tak memihak untuk hal-hal ideal.
Titik inilah yang bikin saya merasa sedih, miris, sekaligus ngeri. Sebab, untuk memenuhi bare minimum saja, kita pontang-panting. Yang kita makan, ternyata tidak ideal. Kita bisa kenyang dengan makanan murah, tapi badan kita meronta karena asupan tak pernah bisa tercukupi.
Itulah realitas yang kita selama ini jalani. Kita mengorbankan badan kita, agar kita bisa hidup esok hari. Hanya untuk hidup di garis yang tak ideal saja, kita kesusahan. Kita dipaksa menerima, kita dipaksa menjalaninya dengan sukacita.
Maka dari itu, saya makin tak paham, bagaimana bisa kita, yang belum tentu bisa hidup ideal, diminta menurunkan gengsi. Apanya yang gengsi, jika batas bawah saja kita tidak sampai. Apanya yang gengsi, jika hidup normal saja tak bisa.
***
Saya tak tahu bagaimana menutup tulisan ini, jujur saja. Saya tak punya penutup yang ciamik, atau bahkan bikin yang biasa aja tak bisa. Jujur, setelah melihat beras naik jadi 15 ribu per kilo, lalu tepung tapioka naik gila-gilaan, air minum isi ulang juga naik, saya tak bisa berpikir jernih.
Tapi, siapa juga yang bisa berpikir jernih di masa yang gila seperti ini?
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kenaikan Harga Telur Memang Harus Kita Ributkan, kalau Perlu Baku Hantam dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN