Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ketika Gus Muwafiq Bermain ‘Api’ dengan Orang-Orang FPI

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
5 Desember 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gus Muwafiq dilaporkan oleh DPP FPI akibat ceramahnya saat Mualid Nabi di Purwodadi. Pihak DPP FPI menilai ada muatan “penistaan agama”.

Geger persoalan ceramah Gus Muwafiq di Purwodadi, Jawa Tengah, mengingatkan saya dengan peristiwa ketika saya masih mondok.

Iklan

Dulu sekali, ketika masih kecil dan hidup di pesantren, saya pernah beberapa kali dapat giliran untuk maidhoh hasanah. Semacam ceramah atau khotbah di hadapan teman-teman sendiri.

Bukan, bukan karena saya lebih ‘alim ketimbang teman saya yang lain, melainkan karena memang tiap beberapa bulan setiap santri akan ditunjuk untuk khotbah. Dapat giliran belajar dakwah secara langsung gitu.

Di hadapan ratusan santri, tak mudah menguasai diri dari rasa gentar. Kaki jadi gemetaran ketika sudah naik mimbar. Terutama ketika menyadari ada banyak pasang telinga menunggumu bicara.

Pertama kali saya dapat giliran—seingat saya—adalah ketika saya masih berusia 12 tahun. Masih kecil sekali. Bahkan saya tak ingat apakah saya sudah mimpi basah atau belum saat itu.

Hal tersulit dari ceramah di hadapan santri yang notabene merupakan teman sendiri adalah bisa konsisten untuk menarik perhatian. Sebab, acara semacam ini bisa berlangsung berjam-jam.

Lumrah kalau kemudian santri yang mendengarkan jadi bosan bukan kepalang. Ada yang memilih ngobrol dengan teman di sampingnya, kadang ada yang asyik jajan, kadang malah ada yang tidur sekalian.

Ketimbang menjaga isi ceramah bisa benar, lebih susah sebenarnya untuk bisa membuat temanmu mau mendengarkan ceramahmu. Sampai kemudian, seorang kawan (kakak kelas jauh sebenarnya) punya cara aneh.

Kawan saya yang dapat giliran ceramah ini kebetulan sedang menceritakan kejadian Isra’ Mi’raj. Karena sadar bahwa sulit sekali membuat ratusan santri di hadapannya memperhatikan, maka ia melakukan hal yang belum pernah dilakukan santri-santri sebelumnya.

Tiba-tiba dia menceritakan kisah Isra’ Mi’raj jadi ala cerita Srimulat. Dialog antara Malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad dibikin jadi kayak dialog antar pelawak. Komplit dengan ledekan-ledekannya.

Terang saja cerita ini segera memancing ratusan santri untuk mendengarkan.

Mereka yang tidur tiba-tiba bangun, mereka yang tadinya ngobrol dengan temannya mendadak memerhatikan ceramah. Semua jadi tertarik. Bahkan ustaz-ustaznya juga. Tawa segera menghiasi ceramah kala itu. Suasana lalu jadi cair dan menyenangkan.

Beruntung, pada saat itu belum ada video hape. Boro-boro video hape, yang punya hape saja bisa diitung jari. Internet dan Youtube memang sudah ada, tapi itu benar-benar teknologi yang belum tergapai. Masih jauh banget.

Saya membayangkan jika pada saat itu sudah ada yang merekam, lalu iseng menguploadnya ke Youtube seperti zaman sekarang, teman saya itu paling-paling sudah diperkarakan, dipersekusi ramai-ramai, atau malah—yang lebih buruk—dilaporkan ke polisi karena dugaan penistaan agama.

Hal yang belakangan juga sedang dihadapi oleh penceramah kondang Gus Muwafiq.

Karena ceramahnya yang mengisahkan masa kecil Nabi Muhammad dianggap kelewatan, DPP Front Pembela Islam (FPI) akhirnya benar-benar melaporkan Gus Muwafiq ke Bareskrim Polri.

“Laporan ini ditujukan kepada Ahmad Muwafiq terkait dugaan penistaan agama. Sebagaimana masalah 165a KUHP yang sekiranya terjadi di daerah Purwodadi pada saat acara Maulid Nabi pada tanggal 6 November 2019,” kata kuasa hukum DPP FPI.

Iklan

Dari laporan itu, jelas bahwa Gus Muwafiq dianggap FPI telah melecehkan agama.

“Sebenarnya statement itu kan bahasa Jawa, kita singkat saja Rasulullah SAW itu dikatakan dekil, nggak diurus, rembes. Rembes itu kan kalau orang Jawa ya macam-macam, ada ‘umbelen’ dan sebagainya,” tambah kuasa hukum DPP FPI.

Sebelum adanya laporan polisi dari FPI ini, Gus Muwafiq sebenarnya sudah menyampaikan permintaan maaf ke publik.

Dalam video klarifikasi tersebut, Gus Muwafiq malah mengaku merasa senang karena diingatkan oleh banyak kaum muslimin. Begitu banyak orang yang menegurnya. Itu jadi tanda bahwa warga Indonesia begitu cinta dengan Nabi Muhammad.

Meskipun sudah meminta maaf secara terbuka, agaknya FPI masih tetap akan memproses laporan ini ke pihak berwajib. Sebuah langkah yang tetap harus dihormati, sebagai warga negara yang baik dan taat hukum. Apalagi ketaatan hukum FPI ini sudah terbukti sampai lintas negara. Langsung dicontohkan oleh pemimpinnya lagi.

Sebagai sesama warga negara, mau bagaimanapun saya menghormati ketersinggungan FPI soal Gus Muwafiq. Bagi FPI, hal ini mungkin sebuah penghinaan, meski ada pula yang merasa itu adalah cara “membumikan” sosok Nabi, sehingga terasa dekat dengan manusia biasa seperti kita.

Apa yang dilakukan Gus Muwafiq dengan mengisahkan masa kecil Nabi Muhammad sambil menarik kedekatan sosial kultural jamaahnya ini, saya rasa benar-benar mirip dengan cara kakak kelas saya dulu ketika khotbah di hadapan teman-temannya sendiri.

Kakak kekas saya ini jelas tak ada maksud menghina Nabi Muhammad atau Malaikat Jibril. Sebab yang disasar adalah substansi riwayatnya. Kemasan ini digunakan karena melihat jamaah di hadapannya sudah mulai bosan. Barangkali ini cara yang sama yang dilakukan Gus Muwafiq.

Dalam konsep pengajian di kampung-kampung, saya tahu (karena saya juga orang kampung) tidak semua jamaah yang hadir memang ingin dapat ilmu. Ada pula yang hadir karena persoalan nggak enak udah diajak sama tetangga sendiri.

Pada akhirnya, begitu sampai lokasi pengajian, pikirannya mblayang ke mana-mana. Kadang malah cuma pindah tempat ghibah saja. Tadinya di teras rumah, lalu pindah di lokasi pengajian.

Bukan tidak mungkin acara yang tadinya dikonsep majelis ta’lim, malah berubah jadi majelis ghibah, karena penceramahnya membosankan dan jauh dari realitas sosial yang dialami oleh warga sekitar.

Barangkali dengan cara-cara semacam itu lah, ceramah Gus Muwafiq malah jadi terasa dekat dengan masyarakat—meski belakangan baru diketahui ceramah begitu berbahaya karena bisa juga ditafsirkan sebagai penghinaan.

Sama seperti masalah yang dialami Gus Muwafiq. Seusai ceramah, kakak kelas saya waktu itu juga segera dipanggil oleh ustaz Pondok. Bahkan seorang ustaz paling dihormati sampai naik mimbar begitu kakak kelas saya ini selesai ceramah. Kakak kelas saya ditegur di hadapan ratusan santri. Dibilang ada baiknya memahami siapa yang menjadi jamaahnya.

Jika itu sesama santri—kata Ustaz saya—barangkali tidak terlalu masalah karena sama-sama tahu ilmunya. Tapi kalau itu disampaikan di khalayak umum, dengan konstelasi massa beragam latar pendidikannya, ceramah seperti itu baiknya jangan disampaikan. Karena bisa saja orang lain salah tangkap. Lebih berbahaya lagi kalau ada orang lain yang tersinggung.

Pada akhirnya teman saya itu meminta maaf karena dianggap sudah melakukan ceramah yang “berbahaya”. Meski kami (pendengarnya) menyadari, baru kali ini ada ceramah sesama santri yang kami dengar dari awal sampai akhir dengan begitu antusias. Seingat saya, tak ada satupun teman saya yang ketiduran waktu itu.

Ternyata, bisa toh ceramah dibikin lucu, menarik, dan seperti dekat begitu?

Saat itu, kami yang mendengar ceramah kakak kelas ini seperti manusia goa zaman pra-sejarah yang baru menemukan api. Benar-benar terkagum-kagum. Toh, meski “salah”, si kakak kelas ini langsung populer di pesantren kami.

Penemuan “api” ini juga bikin ustaz kami buru-buru mewanti-wanti. Kami diminta berhati-hati dengan “api” yang baru kami temukan itu.

Ada manfaatnya memang. Bisa bikin semarak, bisa bikin hangat, tapi tetap saja penggunaannya harus bijak. Sebab, hal begini bisa bikin orang lain terbakar.

Terutama untuk mereka yang pada dasarnya memang mudah terbakar.

BACA JUGA Dari Gus Karim sampai Gus Muwafiq, Cerita Perjalanan Sowan Kiai atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

 

Terakhir diperbarui pada 30 November 2020 oleh

Tags: FPIGus Muwafiqpenghinaan agamapenistaan agama
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Dari Obrolan Ikan Arapaima yang Akan Jadi Menu Mauludan, Gus Muwafiq Buat Lomba Baca Puisi MOJOK.CO

Dari Obrolan Ikan Arapaima yang Akan Jadi Menu Mauludan, Gus Muwafiq Buat Lomba Baca Puisi

5 Oktober 2023
holywings jogja mojok.co

Holywings Jogja Ditutup Satpol PP, Buntut Kasus di Jakarta

29 Juni 2022
diskusi ormas mojok.co

Tak Hanya HTI dan FPI, Sejak Indonesia Merdeka Ormas Dibubarkan Gara-gara Politik

10 Juni 2022
Surat Balasan untuk Surat Terbuka Irjen Napoleon Bonaparte yang Aniaya Muhammad Kece MOJOK.CO

Surat Balasan untuk Surat Terbuka Irjen Napoleon Bonaparte yang Aniaya Muhammad Kece

20 September 2021

Menertawai Silogisme Absurd Muhammad Kece yang Sebut Nabi Pengikut Jin

25 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.