Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Garuda, Baiq Nuril, dan Tubrukan “Maksud” dari Tindakan Homo Sapiens

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
16 Juli 2019
A A
garuda dan baiq nuril MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Garuda, influencer, dan Baiq Nuril adalah sama-sama makhluk yang menuntut. Dan si sana, berbagai “maksud” saling bertumbukan.

Generasi manusia yang saat ini berjalan di permukaan bumi mengaku diri sebagai keturunan dari Homo sapiens. Arti dari istilah ini pun luar biasa sekali. Homo sapiens termasuk dalam spesies sapiens atau ‘bijak’, sementara Homo sendiri adalah genus manusia. Manusia yang bijak? Sombong betul.

Iklan

Bagaimana KBBI menyusun pengertian Homo sapiens? KBBI menyusun pengertian sebagai berikut: “Manusia yang hidup di bumi pada masa kini; manusia yang berpikir; manusia berakal.” Sombong betul.

Suka atau tidak, kita ini adalah kera besar. Kerabat paling dekat simpanse, gorilla, dan orangutan. Yang membedakan Homo sapiens dengan kera hanya lingkar otak saja. Otak Homo Sapiens hanya 2 hingga 3 persen dari berat tubuh. Namun, otak mengonsumsi energi paling besar, yaitu sekitar 25 persen ketika tubuh beristirahat.

Oleh sebab itu, simpanse nggak bakal menang ketika debat soal pindah agama itu kejahatan atau bukan dengan kamu. Namun, simpanse bisa merobek perutmu dengan mudah. Makanya, jangan sombong betul.

Well, rangkuman dari bab-bab awal buku Sapiens karya Yuval Noah Harari itu sukses memberi saya gambaran yang jelas. Gambaran bahwa kita ini makhluk yang masih sangat muda, tetapi sok berkuasa dan sok bisa melakukan semuanya. Padahal, masing-masing Homo Sapiens saja punya ciri otak yang berbeda. Masing-masing punya kehendak yang berbeda. Masing-masing punya “maksud” yang berbeda pula dan kerap menjadi sumber masalah.

Kisruh soal Garuda dan ketidakadilan yang menimpa Baiq Nuril itu contoh yang bagus. Dua peristiwa yang bisa menggambarkan tumbukan dua maksud secara paripurna.

Baiq Nuril dan Garuda: manusia yang menuntut

Baiq Nuril menjadi pesakitan karena dianggap menyebarkan konten pornografi. Sementara itu, Garuda dirundung banyak orang karena membuat keputusan yang konyol betul. Garuda melarang orang selfie di dalam tubuh pesawat. Larangan itu muncul setelah viralnya menu makanan Garuda yang “cuma” berupa selembar kertas.

Kenapa kok menu makanan Garuda cuma selembar kertas? Mereka menjelaskan kalau proses mencetak menu baru belum selesai. Ada yang salah? Seharusnya sih tidak. Menjadi sangat wagu ketika ada influencer yang “merekam” peristiwa itu dengan “maksud” membuat konten. Di sinilah tumbukan maksud terjadi.

Sekelas Garuda kok nggak bisa bikin buku menu yang cantik dan cepat jadi? Kalimat tanya yang sangat masuk akal. Namun, yang bekerja menghidupi Garuda adalah manusia, Homo sapiens, yang katanya makhluk bijak berakal. Namun ternyata, spesies ini pun penuh kelemahan: lalai, malas, salah, dan lain sebagainya.

Ya mirip-mirip juga dengan influencer. Mereka ini mungkin spesies baru yang kadang punya maksud bikin konten dengan gairah tinggi, tetapi gagal menyampaikannya dengan baik. Apalagi ketika mereka menyangka sudah menemukan hal baru, aneh, tidak biasa, dan “jelek”; misalnya mengomentari tulisan tangan pramugari di selembar kertas binder.

Maksud awal ingin jadi “yang paling utama” dengan melaporkan kebijakan Garuda, berkembang menjadi bola liar. Tak pernah terbersit di kepala influencer kalau industri dan bisnis penerbangan sedang panas-panasnya. Masalah keamanan, hingga tingginya harga tiket. Homo sapiens yang bekerja di Garuda meresponsnya dengan keras.

Iklan

Maksud Garuda ingin sebisa mungkin menutupi kelemahan maskapai. Buku menu yang hanya digoreskan di atas kertas binder (mungkin) dianggap sebagai aib. Oleh sebab itu, foto-foto dan ambil video di dalam pesawat pada awalnya dilarang, sebelum diralat menjadi imbauan. Saya sih memandang itu bukan aib, yang penting masakannya enak dan layak disajikan. Habis perkara.

Pernahkah kita untuk mendahulukan bertanya sebelum menghakimi? Lalu, apakah kita pernah puas dengan jawaban lawan bicara tanpa membatin ngerasani mereka?

Tumbukan maksud pun dialami oleh Baiq Nuril. Baiq Nuril merasa dirinya sudah dilecehkan, dan saya setuju sepenuhnya. Sayangnya, ketika Baiq Nuril melaporkan pelecehan itu, maksud dirinya bertumbukan dengan maksud “bahasa hukum”. Di dalam hukum, menggunakan UU ITE, Baiq Nuril dianggap punya maksud mempermalukan seseorang dengan menyebarkan konten pornografi.

Sebuah ranah abu-abu menjadi tempat Baiq Nuril berenang mencari keadilan. Namun, Baiq Nuril berenang di ranah di mana “rasa hati” tak punya tempat. Undang-Undang sudah berkata A dan A yang akan kamu dapat. Amnesti bisa meralat hukuman Baiq Nuril. Namun, pada akhirnya, meskipun mendapat pengampunan, Baiq Nuril mendapat cap “bersalah” ketika ia menunjukkan maksud melawan dan mencari keadilan.

Homo sapiens katanya makhluk yang bijak? Lantas mengapa bahasa hukum yang tertuang dalam UU yang karet dan abu-abu itu masih dipakai dan dibiarkan? Mengapa, ketika UU ITE justru dimanfaatkan untuk menjerat orang yang tak bersalah, tak segera dihapus? Sama seperti UU Penghapusan Kekerasan Seksual yang tak kunjung disahkan padahal kekerasan seksual itu sama jahatnya seperti kekerasan fisik dan psikis.

Garuda, influencer, dan Baiq Nuril adalah sama-sama makhluk yang menuntut. Menuntut nama baik tetap terjaga, menuntut kepada diri untuk membuat konten terbaik meski gagal memahami lingkungan, dan menuntut keadilan. Semuanya punya maksud dan saling bertumbukan.

Pada akhirnya begini. Homo sapiens, sebagai makhluk yang berpikir, sudah selayaknya mau peka dengan keadaan lingkungan dan sesama. Influencer boleh saja bikin konten soal kertas menu Garuda, tetapi sampaikan secara berimbang dan konteksnya utuh. Garuda, sebaiknya tidak gegabah membuat sebuah larangan karena jepretan kamera netizen itu bisa sangat jahat.

Baiq Nuril? Terus semangat, Bu. Meski Ibu dicap “bersalah”, kita semua tahu kok Homo sapiens mana yang bajingan betul.

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2019 oleh

Tags: Baiq NurilGarudahomo sapiens
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
pengalaman pertama naik pesawat.MOJOK.CO

Kenangan Orang Kampung Naik Pesawat Pertama Kali: Nunggu Gratisan, Bingung di Bandara dan Panik di Udara

3 Agustus 2024
Melihat lebih utuh kasus pelecehan seksual difabel terhadap mahasiswi Mataram MOJOK.CO

RUU PKS: Jawaban atas Tren Pemerkosaan dan Kekerasan Seksual

11 Desember 2021
Garuda Indonesia Harus Diceraikan dari Dunia Politik Biar Cepat Sehat MOJOK.CO

Garuda Indonesia Harus Diceraikan dari Dunia Politik Biar Cepat Sehat

4 November 2021
Kelas Ekonomi Garuda Indonesia Perlu Berbenah Biar Nggak Disama-samain Sama Batik Air MOJOK.CO 6 Hal Ini Mestinya Sudah Dicapai Indonesia saat 76 Tahun Merdeka

Kelas Ekonomi Garuda Indonesia Perlu Berbenah, Jangan Sampai Dibandingin Sama Batik Air

9 Juli 2021

Coki Pardede Emang Paham Caranya Jadi Viral tapi Nggak Tahu Caranya Pilih Kata-kata

11 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

17 Agustus 2026
Susahnya mahasiswa di kampus tanpa working space 24 jam: kerjakan tugas kuliah di kos burnout, ke coffee shop tidak punya uang MOJOK.CO

Susahnya Mahasiswa di Kampus Tanpa Working Space 24 Jam: Nugas di Kos Burnout, Ke Coffee Shop Tak Punya Uang

12 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.