Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Dari Sinetron Kolosal Kita Belajar Bahwa Kita Tak Selalu Harus Menjadi yang Utama

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
19 Februari 2020
A A
pendekar
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Malam kemarin, istri saya yang sedang ada urusan pekerjaan di luar kota mendadak mengirimi foto siaran Indosiar yang sedang ia tonton. Saya tak tau apa judul sinetronnya. Yang jelas, ada sosok yang oleh oleh istri saya dulu sangat ia idolakan.

Saya yang juga tumbuh bersama deretan sinetron-sinetron Indosiar utamanya dari produksi Gentabuana tentu saja penasaran. Siapa sosok aktor yang ia idolakan itu. Istri saya juga lupa, siapa nama aktor tersebut.

Iklan

Tak berselang lama, berbekal usaha googling, akhirnya ia tahu, siapa nama sosok itu. Namanya Temmy Rahadi.

“Oalah, Temmy tho…” kata Saya. Saya langsung merasa geli saat tahu kalau istri saya dulu ngefans sama Temmy Rahadi. Maklum saja, kepada istri saya, saya pernah mengaku kalau dari sekian banyak aktris di deretan sinetron Gentabuana, satu yang begitu saya suka adalah Revi Mariska, sosok yang hampir dalam setiap episode sinetron selalu berpasangan dengan Temmy Rahadi.

“Wah, idola kita di masa lalu kok ternyata swing begini, benar-benar kita ini memang jodoh sejak dalam sinetron.”

“Lambemu…”

Perbincangan tentang aktor sinetron Indosiar ini kemudian memancing saya untuk meng-googling lebih banyak aktor-aktor sinetron Indosiar, utamanya sinetron kolosal yang memang dulu sering sekali saya tonton bersama keluarga. Sinetron-sinetron yang selalu membuat saya terobsesi menjadi seorang pendekar.

Ada banyak nama yang saya temukan. Usaha untuk mencari nama-nama itu kemudian membawa saya kepada satu kesimpulan, bahwa pada titik tertentu, saya ternyata sering sekali tidak menyukai tokoh utama, saya justru sering menyukai tokoh nomor kesekian.

Maksudnya begini. Kalian pasti pernah, menonton sinetron, dan kemudian kalian justru merasa jatuh cinta bukan pada tokoh utama, melainkan pada tokoh yang sifatnya bukan utama, misalnya temennya si tokoh utama, atau pamannya, atau pakdhenya, atau bahkan mbahnya si tokoh utama.

Ketika dulu sering nonton FTV di SCTV yang lagunya selalu saja Yovie Nuno yang “Aku memang manusia biasa, yang tak sempurna, dan Kadang salah” itu, saya sering sekali tidak naksir sama si cewek pemeran utama, saya justru kerap suka dan simpati sama temen si cewek. Alasannya sederhana, peran dia sebagai tokoh yang bukan peran utama justru membuat dirinya tampak lebih natural, tampak lebih tidak drama, dan sesekali, tampak lebih menarik.

Bagi saya, tokoh utama sering begitu menyebalkan sebab ia menyimpan ekspektasi yang terlalu tinggi. Ini saya rasakan ketika menonton sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Walau Si Doel yang diperankan oleh Rano Karno itu adalah tokoh utama, tapi saya sukar untuk menyukainya. Ia sosok lelaki yang peragu dan tidak tegas. Alih-alih Si Doel, saya justru ngefans sama Mandra atau Babe Sabeni. Sikap keduanya tampak lugas. Beda jauh dengan Si Doel.

Nah, fenomena itu ternyata juga saya alami tatkala menonton sinetron laga kolosal. Saya, tak bisa tidak, ternyata begitu ngefans sama Candy Satrio.

Entah kenapa, di mata saya, dia aktor yang cukup unik, sebab kalau main di film kolosal, biasanya selalu dapat peran menjadi jagoan protagonis nomor dua. Nah, inilah yang saya suka. 

Di Angling Dharma, misalnya, ia jadi Batik Madrim, ksatria pilih tanding yang kesaktiannya begitu mumpuni, tapi jelas masih kalah jika dibandingkan dengan prabu Angling Dharma. FYI aja nih, dulu salah satu syarat untuk bisa menikahi Dewi Setyawati (yang kelak menjadi istri Prabu Angling Dharma) adalah dengan mengalahkan Batik Madrim yang mana merupakan kakak kandung Dewi Setyawati.

Iklan

Di Karmapala, Candy Satrio jadi Wibisana, raja Alengka (sepeninggal Rahwana), tokoh luhur dari kalangan raksesa, ia sakti mandraguna, tapi jelas pamornya kalah jauh bila dibandingkan dengan Sri Rama.

Begitu pula di serial Tutur Tinular, ia berperan sebagai Mpu Nambi, tokoh yang punya jiwa kepemimpinan yang kokoh, juga ilmu pemerintahan yang tak kalah baik dibandingkan Lembu Sora sekalipun. Tapi jabatannya hanyalah perdana menteri, sedangkan yang jadi raja tetaplah Prabu Wijaya.

Candy Satrio ini seakan menyadarkan saya, bahwa sebagai manusia, kita kadang memang tidak hebat-hebat amat. Obsesi menjadi yang terbaik adalah obsesi yang kadang menjebak. Kita harus belajar sadar, bahwa kadang ada posisi yang tidak bisa, dan memang tidak perlu untuk kita raih.

Dalam hidup ini, kita tak selalu butuh menjadi yang nomor satu, yang utama, yang terdahsyat, yang terhebat, dan yang ter- ter- lainnya.

Terkadang kita memang hanya butuh menjadi yang kedua, ketiga, atau yang keempat. Sebab menjadi yang utama, tak selalu yang terbaik bagi kita.

Ingat, dunia ini tidak melulu butuh juara yang berdiri di atas podium, kita juga butuh orang-orang yang menonton si juara dari bawah dan bertepuk tangan untuknya.

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2020 oleh

Tags: angling darmacintaSinetron
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Ngopi Itu Nikmat, Tidak Perlu Diributkan | Semenjana Eps. 9
Video

Ngopi Itu Nikmat, Tidak Perlu Diributkan | Semenjana Eps. 9

25 Maret 2025
Kiprah Whani Darmawan dari Pemain Teater hingga Jadi Aktor Andalan Sutradara Kondang - PutCast Mojok
Video

Kiprah Whani Darmawan dari Pemain Teater hingga Jadi Aktor Andalan Sutradara Kondang

10 Januari 2024
pilot selingkuh.MOJOK.CO
Ragam

Memilih Selingkuh dengan Orang yang Lebih “Jelek” dari Pasangan Aslinya, Penyebabnya Impulsif hingga Butuh Variasi

8 Januari 2024
Kota S yang Jadi Kutukan Cinta Untukku MOJOK.CO
Kilas

Kota S yang Jadi Kutukan Cinta Untukku

20 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.